Kapolres Flotim Dinilai Diskriminatif

Rosnawati dan siti hajar

Rosnawati dan siti hajar

Zonalinenews,Kupang– Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede dinilai diskriminatif dalam penanganan kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Rosmawati, warga Kelurahan Ekasapta, Kabupaten Flores Timur yang dilaporkan Astrid Tungary pada 24 Desember 2014 silam. Pasalnya, dalam laporan ke Polres Flotim tersebut Astrid melaporkan dua wanita yakni, Siti Hajar dan Rosmawati yang diduga sebagai pelaku pencemaran nama baik. Namun, hingga kini pihak Polres Flotim hanya memproses hukum Rosmawati. Kasus ini sudah dinyatakan P21 tahap II dan saat ini pelaku berstatus wajib lapor.

Rosmawati, yang dikonfirmasi via telepon, Kamis 21 Mei 2015 mengaku kesal terhadap pihak kepolisian karena saat ini Polres Flotim hanya memproses kasusnya saja sedangkan pelaku Siti Hajar hingga kini belum ditangani. Pada hal menurut Rosma, dalam laporan Astrid tersebut dirinya bersama Siti Hajar merupakan terlapor dalam dugaan pncemaran nama baik tersebut.

“Saya kecewa dengan pihak kepolisian karena hanya memproses hukum kasus saya. Kenapa Siti Hajar tidak diproses. Kami dua yang menjadi terlapor tetapi saya sendiri yang diproses. Ini namanya Polres Flotim tebang pilih dalam menangani kasus,” terangnya.

Rosma menuturkan, saat mengetahui kasusnya dinyatakan P21 Tahap II oleh pihak kepolisian Polres Flotim, dirinya sempat bertanya pada salah satu penyidik, Vicktor Paskalis Kame terkait alasan kenapa kasusnya saja yang diproses, namun, oknum polisi tersebut menjawab, hal ini dikarenakan dalam laporan Astrid tersebut dirinya lebih banyak memberikan pernyataan yang dinilai mencemarkan nama baik Astrid. “Kamu lebih banyak kasih pernyataan yang mencemarkan nama baik orang jadi anda harus diproses,” ungkapnya menirukan jawaban oknum polisi tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan Rosmawati, dirinya bersama Siti Hajar  melaporkan mantan Kepala Bank NTT Cabang Flores Timur, YHD  pada Direktur Utama Bank NTT Pusat di Kupang karena saat itu dirinya ditekan oleh Astrid bersama salah satu pejabat Bank NTT . Saat itu dirinya menolaknya karena ia sama sekali tidak merasa telah menjadi korban pelecehan seksual. Setelah lewat beberapa waktu, Astrid kembali mendatangi rumahnya untuk mengajak dirinya untuk bertemu salah satu pegawai Bank NTT Pusat di salah satu hotel di Larantuka.

Karena merasa terus ditekan, Rosmawati bersama Siti Hajar akhirnya mau membuat pengaduan yang isinya tentang tindakan pelecehan seksual yang dilakukan YHD mantan kacab Bank NTT Larantuka terhadap mereka. Pada hal menurutnya, tindakan YHD tersebut tidak seperti pada isi surat pengaduan tersebut dimana dalam surat pengaduan tersebut mereka menyatakan bahwa YHD telah melakukan pelecehan seksual. Surat pengaduan itu sesungguhnya  tidak sesuai fakta.  “Saat itu mereka datang ke rumah dan bujuk saya untuk bertemu mereka di sebuah hotel di Larantuka untuk buat pengaduan, tapi saya tolak.  Karena terus ditekan dan dibujuk akhirnya saya dan Siti terpaksa membuat surat pengaduan ke pimpinan Bank NTT Pusatdi Kupang.

Lebih lanjut Rosmawati menjelaskan, pernyataan ia bersama Siti yang kemudian dipublikasi itu adalah ungkapan kebenaran dan kekeliruan yang telah mereka lakukan dan berdampak merugikan YHD. Pada saat konperensi Pers di Kupang yang dihadiri oleh belasan awak media itu, keduanya secara terbuka menjelaskan kronologis terkait pembuatan surat pengaduan tentang pelecehan seksual yang dilakukan diduga dilakukan YHD. jaman Astrid bersama Siti yang sebelumnya ditolak oleh YHD.

Kenapa perlu melakukan klarifikasi atas berbagai pemberitaan di media, menurut Rosmawati, Astrid telah melakukan pembohongan kepada keduanya. Ditanya seperti apa pembohongan dimaksud, menurut Rosmawati, awalnya Astrid meyakinkan keduanya bahwa surat itu sebatas dikirim ke pimpinan bank NTT saja dengan tujuan, YHD segera dicopot dari jabatan dan kemudian pejabat pengganti akan segera merealisasikan pin ke pihak Kejaksaan Negeri Larantuka dan dinyatakan P21 Tahap II. Terkait pelaku Siti Hajar, dirinya menjelaskan, kasus tersebut saat ini sedang dalam proses penyelidikan. Sementara itu jaksa yang menangani kasus diatas coba dihubungi terkait proses hukum dari kasus tersebut, sang jaksa tidak dapat dikontak karena ponselnya tidak aktif.

Pengamat hukum, Stefanus Matutina,SH dimintai komentarnya terkait kasus tersebut mengatakan, dari aspek hukum dugaan tindak pidana pencemaran nama baik yang dilakukan Rosmawati tidak bukan merupakan tindak pidana pencemaran nama baik. Yang terjadi sebenarnya adalah, Rosmawati dan Siti Hajar melakukan klarifikasi terhadap berbagai pernyataan yang disampaikan oleh Astrid Tungary..  “Saya mencermati kalau Rosmawati dan Siti Hajar melakukan klarifikasi atas berbagai pernyataan Astrid yang berhubungan dengan keduanya,” tegas Stefanus. (*amar)