Penyewaan Kios di Pasar Oebobo Menggunakan Calo

Anggota DPRD rapat dengan Pendapat dengan Para pedagang Pasar Oebobo bersama PD Pasar

Anggota DPRD rapat dengan Pendapat dengan Para pedagang Pasar Oebobo bersama PD Pasar

ZONALINENEWS – KUPANG, Enam pedagang di Pasar Oebobo Kota Kupang datangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kupang mengadu karena penarapan penyewaan bangunan kios oleh Perusahaan Daerah milik Kota Kupang (PD) Pasar lewat calo untuk mengurus semua biaya penyewaan kios tersebut. “Kita pedangang yang sudah lama menempati bagunan kios untuk berjualan. Saat bagunan kios di gusur dan direhab kembali kita pemilik kios yang lama sudah tidak bisa menempati kios – kios tersebut yang baru direhab, “kata salah satu pedagan di Pasar Oebobo Nae Ema Mooy pada saat pertemuan dengan Komisi II DPRD Kota Kupang di ruang Komisi II, Rabu 20 Mei 2015 pukul 11.00 wita.

Menurutnya Nae Ema Mooy, pada saat pengusuran semua nama – nama pedagang di data oleh pihak PD Pasar, dan  ketika Kios tersebut sudah selesai direhap nama kita sudah tidak terdaftar lagi di PD Pasar.

Lanjutnya, peda saat pengusuran kios yang lama itu hanya ada 16 bagunan setelah direhap ada penambahan bagunan sehingga total bagunan yang dibagun sebanyak 50 bangunan. Dari 16 sampi 50 bagunan itu kita yang pedagang lama tidak mendapat satu bagunan kios juga untuk berjualan. “ketika kita bagunan itu sudah berdiri ada calo yang datang dengan memberikan harga sebesar dari emapat juta hingga 10 juta, dan apa bila pedagang yang inggin memiliki kios dengan harga di bawa tidak akan diberi oleh PD Pasar. Sedangkan harga yang sebenarnya hanya 800 ribu pertahunnya untuk dikontrakkan, “ungkapnya.

Calo yang biasa mengurus semua ini katanya, itu ada berhubungan terus setiap harinya dengan Direksi Pemasaran Mel Saudale, maka dari itu Direksi Pemasaran sendiri tidak pernah turun lokasi untuk melihat kejadian yang ada. “Kita ini pedangan yang sudah sangat lama bahkan kita sendiri sudah memberi uang muka, tetapi uang kita dikembalikan dan kita tidak diberi kontrak kios – kios tersebut. Yang kita dengar dari Walikota Kupang sendiri pada saat meresmikan bagunan baru ini mengatakan bahwa kios ini harus di prioritaskan kepada orang – orang yang lama bukan orang – orang yang baru mau berjualan. Tetapi kenyataannya sebanyak 50 bagunan kios ini kita tidak tahu orang dari mana, “katanya.

Menurutnya,  pihak PD pasar hanya melihat orang – orang yang berduit saja bukan untuk membantu orang orang kecil seperti kami yang hanya ingin mencari uang untuk melanjutkan hidup kami saja. “Indikasi yang dilakukan PD Pasar ini ada apa sebenarnya apakah ingin membantu kita atau hanya inggin mencari keuntungan dari orang – orang yang berduit saja, “ujarnya.

Dirut Utama PD Pasar Alexander Lende Bayo mengatakan, pada saat bagunan petak kios tersebut diserahkan oleh Walikota Kupang pada tanggal 16 April 2015 lalu lansung dilakukan pembagian kepada pemilik yang sudah terdaftar pada PD Pasar dan langsung digunakannya. Dan sedangkan di Pasar Oebobo sendiri saat pendaftaran itu sangat banyak yang mendaftar, tetapi  bangunan kiosnya sendiri sangat terbatas, maka dari itu banyak pedagang yang tidak mendapat petak kios tersebut.

“Bagi pedagang yang mempunyai ikatan kontrak dengan PD pasar sudah pasti mendapat petak kios.  tetapi bagi pedangang yang tidak mempunyai ikatan kontrak itu maka tidak bisa dikasih dan akan diberikan ke pedagang yang baru, dan ini  sudah jadi aturan dari PD Pasar sendiri, “katanya.

Menurutnya, di Pasar Oebobo sendiri sangat banyak pedagang yang memiliki kios yang statusnya kontak diatas kontrak. Ketika PD Pasar melakukan penertiban seringkali mendapat kejadian  itu, dan ketika ditanya para pedagang selalu mengelak saja. “Ketika di mintai KTP atau nama oleh PD Pasar terhadap pedagang selalu pemilik yang lama dan yang buru sangat berbeda, dan itu sudah pasti kita akan tertibkan, “jelasnya.

Sekertaris Ketua Jabir Marola mengatakan, penjalasan Dirut PD Pasar dengan penjelasan para pedagang ini sangat berbeda karena secara fakta para pedagang ini sudah menempati kios itu untuk berdagang sejak lama, tetapi kenapa bisa sampai pedagang ini yang awalnya memeliki kios ketika kiosnya direhab mereka tidak mendapat lagi hak mereka yang sudah ditempati sekian lama ini. “Ini semua ada apa karena dari 16 petak kios yang digusur dan dibagun sebanyak 50 kios tetapi nama mereka sendiri tidak terdaftar dan yang menempati sekitar 32 kios itu siapa mereka. Sebenarnya mereka orang – orang lama ini yang harus diprioritaskan bukan orang – orang baru,”tegasnya.

Ia berharap, dengan adanya pertemuan ini dan keluhkan pedagang harus di respon secara baik oleh PD Pasar karena masalah ini bukan masalah kecil tetapi ini masalah hajat hidup pedangang – pedangang kecil. (*hayer)