Plan International Selenggarakan Learning Event di Kupang

nama sumber memberikan materi STBM kepada Peserta STBM di Hotel Swis Belinn

nama sumber memberikan materi STBM kepada Peserta STBM di Hotel Swis Belinn

Zonalinenews-Kupang, Selasa 26 Mei 2015, Plan International Indonesia melalui Program CS Fund 2 (Program yang didanai oleh Aus AID) bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memfasilitasi pelaksanaan 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) di 5 Kabupaten di Propinsi NTT. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Kebupaten Kupang, Sabu Raijua, Ngada, Ende dan Manggarai Timur.

 Pelaksanaan STBM di 5 Kabupaten ini telah berlangsung selama 2 tahun dengan menekankan kampanye 5 (lima) pilar STBM yakni Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengolahan Air Minum dan Makanan rumah tangga (PAM-RT), Pengamanan Sampah Rumah Tangga dan Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga, (Permenkes RI Nomor 3 tahun 2014 Tentang STBM).

Dalam rangka mendapatkan pembelajaran-pembelajaran menarik/kreatif baik berupa peluang hambatan dan tantangan dari semua proses yang telah berlangsung, maka Plan International Indonesia Program CS Fund 2 bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi NTT menyelenggarakan Learning Event STBM bertempat di Aula Swiss-Belinn Hotel Kupang selama 2 (dua) hari yakni 26-27 Mei 2015.

Kegiatan ini merupakan media untuk pembelajaran STBM dan sarana untuk saling berbagi pengelaman keberhasilan pelaksanaan STBM di kabupaten masing-masing.

“Pencapaian keberhasilan pelaksanaan STBM di masing-masing wilayah memiliki keunikan

Dan inovasi masing-masing. Keunikan inilah yang kami harapkan bisa tergali dalam pertemuan pembelajaran ini.” kata Sabaruddin, Project Manager STBM Plan Indonesia dalam sambutannya pada acara Learning event STBM di Aula Swiss Belinn Hotel, Selasa, 26 Mei 2015.

Ia menambahkan bahwa dalam proyek STBM ini Plan International Indonesia hanya berperan sebagai fasilitator saja, karena kedepannya pemerintah sendirilah yang harus melaksanakan STBM secara mandiri dengan anggaran dari APBD II.

“Saat ini pemerintah propinsi NTT dan pemerintah di 5 kabupaten telah menganggarkan dana dari APBD I dan APBD II untuk pelaksanaan STBM. Untuk 5 kabupaten dampingan Plan International Indonesia, pemerintah kabupaten sudah mengalokasikan dana dari APBD sejumlah 1,7Milyar untuk replikasi desa STBM di 169 Desa, sedangkan Pemerintah Provinsi NTT sudah mengalokasikan anggaran melalui APBD I untuk integrasi pelaksaan STBM pada Desa Anggur Merah di 589 Desa di 21 Kabupaten melalui program P2LDT (Pembangunan Perumahan dan Lingkungan Desa secara Terpadu)” tambah Sabaruddin.

Kegiatan ini dihadiri oleh126 orang peserta yang terdiri dari Pokja AMPL Provinsi NTT, Pokja AMPL dari7 Kabupaten (Kabupaten Ende, Ngada, Manggarai Timur, Sabu, Kabupaten Kupang, TTS dan TTU), Tim STBM Kecamatan , mitra NGO seperti ACF dan Handicap International, serta dihadiri oleh para pemerhati STBM lainnya seperti dari kalangan akademisi dan media.

Selain bertujuan mendapatkan pembelajaran – pembelajaran menarik/kreatif, melalui kegiatan ini juga, diharapkan peserta mendapatkan pemahaman tentang Strategi Nasional STBM menuju Universal Akses 2019.

Diharapkan pada akhir tahun 2017, 5 kabupaten dampingan Plan International Indonesia dapat mendeklarasikan setidaknya 450 Desa STBM sesuai dengan MoU Pemerintah Propinsi NTT dengan Plan International Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2013 lalu.

Sementara itu Gubernur NTT, Frans Lebu Raya Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten II Pemerintah Propinsi NTT , Alex Xena menjelaskan dalam upaya percepatan pencapaian visi NTT yaitu terwujudnya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang berkualitas, sejahtera dan demokratis dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia, telah ditetapkan dalam agenda yang terukur sesuai dengan prioritas daerah. Kebijakan agenda dimaksud yaitu 8 (delapan) agenda pembangunan dan 6 (enam) tekad pembangunandengan spirit Anggur Merah.

Menurutnya, Salah satu tantangan yang sangat besar saat ini terkait sanitasi adalah ketersediaan dan distribusi air bersih secara merata. Masih banyak perilaku masyarakat yang buang air besar di tempat terbuka dan belum mendukung hidup bersih dengan higiene. Implikasinya, yaitu sering terjadi kasus penyakit seperti Diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya. Diare merupakan salah satu penyakit karena kondisi sanitasi yang buruk masih menjadi penyumbang penyebab kematian bayi tertinggi di Indonesia dan NTT.

Pembangunan yang kita lakukan Lanjutnya , telah berjalan pada arah yang tepat. Target 8 (delapan) Agenda Pembangunan dan 6 (enam) Tekad Pembangunan Provinsi menunjukkan hasil yang baik, bahkan ada yang sangat menonjol. Dukungan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan pro rakyat seperti Program Desa Mandiri Anggur Merah dalam replikasi juga berjalan cukup baik.

“ Akumulasi dari kerja keras kita semua antara lain sebagai berikut, Pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2014 sebesar 5,04%, di atas rata-rata nasional yang mencapai 5,02 %, Kemiskinan NTT menurun dari 23,03% tahun 2010 menjadi 19,60% pada tahun 2014. Kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan oleh Gini Ratio menurun dari 0,36 tahun 2011 atau rangking 11, menjadi 0,345 atau rangking 4 di Indonesia pada tahun 2013. Dan Koperasi meningkat tajam dari 2.720 unit tahun 2013 menjadi 3.130 unit tahun 2014 atau naik 22,64% dengan jangkauan koperasi desa/kelurahan yang terbentuk naik 67,70%;. Serta Tiga kabupatenFlotim, Sikka dan Ngada pada tahun 2014 berhasil keluar dari kategori daerah tertinggal menyusul Kota Kupang, sehingga kabupaten tertinggal di Provinsi NTT saat ini menjadi 18 Kabupaten dari sebelumnya 21 Kabupaten pada tahun 2013,” jelasnya.

Ia menambahkan kebarhasilan itu juga dilihat dari bidang Pariwisata juga berkembang cukup pesat, yang ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan menjadi 400.865 orang atau naik 52,42% dibandingkan tahun 2013.(*tim)