Polisi Selidiki Proyek Jembatan Tambatan Perahu Wailebe

Kasubag humas polres Flotim Erna Romakia

Kasubag humas polres Flotim Erna Romakia

Zonalinenews,Kupang-Kapolres (Flotim), AKBP Dewa Putu Gede Artha, S.H melalui kasubag Humas Polres Flotim, Erna Romakia, mengakui pihaknya sedang melakukan penyelidikan adanya dugaan korupsi proyek Jembatan Tambatan Perahu (JTP) Wailebe di Kecamatan Adonara Barat yang dikerjakan tahun anggaran 2014. Penyidik baru periksa saksi-saksi dan mengumpulkan data.

Proyek yang dikerjakan CV. Leksi Topan serta diawasi CV. Sains Group Consultan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Flotim senilai Rp1.764.786.000.000. Jembatan itu ambruk dan diduga tidak sesuai spek.

“Penyidik sedang bekerja. Saat ini kasusnya masih penyelidikan,” kata Romakia pada,belum lama ini.

“Saat ini penyidik tengah memeriksa sejumlah saksi. Dan, kasusnya belum bisa ditingkatkan karena kami masih meminta Politeknik Negeri Kupang untuk menghitung kerugian negara,” kata Romakia.

Sejumlah warga Wailebe yang namanya tidak mau dipublikasikan mengatakan, pekerjaan JTP Wailebe itu ambruk karena cara kerja JTP itu secara kasat mata, salah.”Kami awam tapi kami bisa tahu pasang batu di air. Batu kubus disusun lurus ke atas dengan celah yang dibiarkan menganga menghadap langsung dengan arah hempasan ombak. Karena itu, wajar saat ombak besar batu bergeser dan jatuh. Saat para tukang itu kerja kami sudah tegur, tapi mereka katakan mereka kerja sesuai aturan. Dan, akhirnya ambruk,”kata warga yang dihubungi pertelfon.

Warga juga mengaku fondasi JTP itu langsung dicor di atas pasir sehingga tidak kuat. “Apalagi, pasir yang digunakan adalah pasir laut. Kami menduga pekerjaan itu tidak sesuai spek. Bahkan, campuran beton yang terbuat dari kerikil dan semen hanya tampak di luarnya saja, sementara dalamnya keropos,”terang warga Wailebe.

Warga Wailebe mengaku jarang melihat keberadaan konsultan pengawas dan kontraktor saat pelaksaan proyek tersebut. “Kami jarang lihat pengawas dan kontraktor di lapangan. Kami hanya lihat para tukang,”kata seorang warga. (*polce Atakey)