Rektor Artha Buana Akui Adanya 12 Mahasiswa Pindahan dari Uyelindo

Rektor Stikom Artha Buana Kupang Ahmad Haidaroh

Rektor Stikom Artha Buana Kupang Ahmad Haidaroh

Zonalinenews-Kupang, Rektor Sekolah Tinggi Informatika Komputer(STIKOM) Artha Buana Kupang, Ir Ahmad Haidaroh M.Kom Kamis 7 Mei 2015 pukul 13.00 wita menjelaskan sampai saat ini sebanyak 12 Mahasiswa yang dikonversi atau di transfer dari Stikom Uyelindo Kupang ke Stikom Artha Buana Kupang. Namum ke 12 mahasiswa ini bukan dari jurusan pertambangan melainkan dari jurusan teknik Informatika.

“ Para mahasiswa ini semua berasal dari teknik informatika bukan pertambangan dan proses transfer atau konversi ke Stikom Artha Buana sejak 2 Bulan lalu (Maret 2015) saat ini ke-12 mahasiswa tersebut telah melaksanakan kuliah di Kampus Stikom Artha Buana,” Demikian Penegasan Rektor STIKOM Artha Buana Kupang, Ahmad Haidaroh di ruang kerjanya ketika dikonfermasi zonalinenews terkait pengalihan mahasiswa Universitas Uyelindo Jurusan pertambangan Karena tidak mengantongi ijin remi dari Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan.

Dikatakan rata-rata mahasiswa yang ditransfer itu jumlah sks 100 lebih , dan berasal dari jurusan Teknis informatika dan ditrenfer ke Stikom Artha Buana sebagai mahasiswa Teknik Informatika .

Sebelumnya diberitakan Mahasiswa Jurusan Pertambangan Universitas Uyelindo dialihkan ke Stikom Artha Buana Kupang karena sampai saat ini Universitas Unyelindo Kupang yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Oebobo Kota Kupang belum juga mengantongi ijin resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait pembukaan Fakultas Teknik jurusan Pertambangan padahal jurusan tersebut dibuka dari tahun 2007 sampai saat ini tahun 2015.

Bahkan mahasiswa angkatan pertama tahun 2007 yang telah menyelesaikan skripsinya belum juga diwisuda.

Ketua Yayasan Uyelindo Kupang, Tarsi Tukan ketika dikonfermasi terkait persoalan ini Kamis 30 April 2015 pukul 12.00 wita menjelaskan, pihaknya sampai saat ini belum juga mengantongi ijin Jurusan Pertambangan sehingga sambil menunggu ijin terbit, pihaknya berencana mengalihkan mahasiswa Pertambangan dari Universitas Uyelindo Kupang Ke Stikom Artha Buana Kupang, sebab proses pemindahan ini untuk mengamankan sementara mahasiswa sambil menunggu ijin resmi terbit dari Dikti.

“Mudah –mudahan setelah ijin diterbitkan, karena maksimal proses penerbitan ijin berdasarkan nomenklatur baru Kementrian Pendidikan maksimal proses ijin memakan waktu selam 1 tahun. Dan saat ini ijinnya dalam proses,” ujar Tarsi.

Tarsi menjelaskan, Konsekwensi dari kebijakan, sehingga pihak kampus mengambil langkah yaitu bagi mahasiswa pertambangan dibebaskan dari biaya administrasi, dan bila dalam perjalanan ijin keluar dan akan melanjutkan kembali jurusan pertambangan di Universitas Uyelindo juga dibebaskan biayanya. “ Bila mahasiswa yang telah kuliah di Universitas Uyelindo dan ditransfer ke Universitas Artha Buana, disesuaikan dengan aturan dan kebijakan dan biaya dibebaskan. “ Untuk SKS disesuaikan dengan aturan yang berlaku di Artha Buana,”jelasnya.

Dikatakan Konsukwensi lainya mahasiswa Jurusan pertambangan Universitas Uyelindo bisa juga ditransfer di Jurusan komputer di Stikom atau mungkin bisa kuliah di Pertambangan dan kuliah di Stikom dengan biaya dibebaskan sambil menunggu proses ijin keluar dari dikti.

Persoalan ijin lanjut Tarsi , pembukaan jurasan pertambang di Universitas Uyelindo telah dipersentasikan di depan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan telah mendapatkan rekomondasi dari Gubernur NTT untuk diajukan ke Dikti, namun sampai saat ijinnya tersebut belum kunjung terbit, bahkan jurusan pertambangan di Universitas Uyelindo Kupang harus diproses ulang.

“ Kita dilayani hanya dilorong, bahkan untuk bertemu dan berkonsultasi dengan orang dikti yang menagani ijin ini saja susah. Ada beberapa upaya politis yang telah dilakukan yaitu pendekatan dengan Anggota DPD dari NTT, bahkan rekomondasi juga telah diberikan DPD kepada Dirjen Dikti namum persoalan ijin juga tak kunjung terbit. Bahkan anggota DPR RI asal NTT juga dimintai bantuan soal ini,” Kesal Tarsi.

Ia menambahkan saat ini yang sudah menyelesaikan Pratek Kerja Lapangan (PKL)  untuk jurusan pertambangan angkatan tahun 2008 sebanyak 18 Mahasiswa, 12 telah dialihkan ke Stikom Artha Bauna sedangkan 6 mahasiswa tidak mau ditransfer karena keberatan. “ Saat ini untuk jurusan pertambangan di Universtias Uyelindo telah ditutup untuk 2 tahun ini (tahun 2014 dan 2015) sambil menunggu proses ijin baru dibuka pendaftaran bagi calon mahsiswa baru ,” Ungkap Tarsi

Sementara Gubernur NTT menegaskan Pembukaan sebuah jurusan pada suatu Perguruan Tinggi atau Universitas di NTT, jangan merugikan mahasiswa karena ada Universitas atau Perguruan Tinggi di NTT belum mengantongi ijin resmi dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan kebudayaan tapi sudah membuka sebuah jurusan, dan perbuatan ini melanggar Aturan. Demikian Penegasan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya seusai upacara hari Pendidikan Nasional di alun–alun rumah Jabatan Gubernur NTT Sabtu 2 Mei 2015 Pukul 10.00 wita, ketika dikonfermasi terkait status mahasiswa pertambangan Universitas Uyelindo Kupang yang akan di Transfer ke Stikom Artha Buana Kupang karena tidak mengantongi ijin resmi.

Dikatakan, di NTT banyak Penguruan Tinggi atau Universitas yang belum mengantongi ijin Resmi pembukaan suatu jurusan, malah sudah menerima mahasiswa baru. “Yang kasian mahasiswanya setelah mau wisuda tidak bisa diwisuda karena jurusan belum mengantongi ijin dari Dirjen Dikti Kemetrian Pendidikan, sehingga hal ini menimbulkan masalah,”ungkap Frans.

Frans Lebu Raya menjelaskan, terkait masalah ijin jurusan pertambangan di Univeritas Uyelindo Kupang , dirinya akan mengecek persoalan ini. “ Saya minta kepada Uyelindo kalau belum ada ijin bagi jurusan pertambangan jangan menerima mahasiswa baru, dan perbuatan ini merugikan mahasiswa, Uyelindo harus bertanggungjawab dan mencarikan solusi persoalan ini. Universitas jangan menutup mata. Dan tidakan ini melanggar aturan,”tegas Lebu Raya. (*tim)