Tanda-Tanda Kehancuran Bangsa

Oleh : Abdullah S. Toda ( Ketua Umum DPD IMM NTT)

Abdullah S Toda

Abdullah S Toda

Zonalinenews,- Orang bijak adalah orang yang mampu belajar dari masa lalu untuk dijadikan pelajaran bagi kebaikan masa yang akan datang. Sejarah kemajuan dan kehancuran suatu kaum, bangsa, negeri, lemabaga maupun kelompok, harus dijadikan pelajaran agar kemajuan itu dilestari dan dapat ditingkatkan. Sementara sejarah kehancuran itu dijadikan pelajaran agar tidak terjadi pada generasi kita.

Pepata kita mengatakan :Jangan pernah kehilangan tongkat dua kali.

Dalam Muqadimah, Ibn Khaldun membuat prediksi bahwa sejarah suatu negeri biasanya mengalami lima fase, fase pendirian, fase pembangunan, fase puncak, fase kemunduran dan fase kehancuran.

Fase pendirian dibangun oleh para founding father yang dengan cita-cita dan semangat perjuangan mengarahkan daya dan kekuatan, mampu mewujudkan bangunan sebuah negeri. Fase kedua, diprediksi oleh Ibn Khaldun, sebagai fase pembangunan oleh genersi penerusnya. Pada fase ini, terjadi pembangunan yang pesat, karena generasi ini mampu menghayati nilai perjuangan para pendiri yang kemudian dipraktekan dalam mewujudkan kejayaan. Fase Ketiga, Negeri itu berada pada fase puncak kejayaan. Generasi ini adalah generasi yang memetik hasil perjuangan. Generasi ini mulai melupakan nilai perjuangan, generasi ini menjadi penikmat tanpa tahu jerih paya dan proses perjuangan. fase keempatadalah fase kemunduran, karena generasi yang memimpin negeri itu sudah melupakan nilai perjuangan dan sebagai penikmat dari buah kejayaan. Akhirnya, sampailah waktunya pada fase kelima Fase Kehancuran dimana negeri itu nyaris tinggal puing-puing, hancur tercabik-cabik dan tindak mampu bangkit lagi, serta bagaikan buih dilautan yang mudah diombang ambing oleh derasnya gelombang laut.

Al-Qur’an memandang kejayaan dan kehancuran sebagai Sunnatullah, karena ada faktor-faktor yang membawa kepada kejayaan dan kehancuran itu. Bila faktor-faktor kejayaan diikuti maka jayalah negeri itu, bangsa menjadi maju dan dinamis. Al-qur’an menggambarkannya sebagai Baldah Thayyibah wa Rabb Ghafur (Negeri yang baik dan Tuhan penuh pengampunan, Qs.saba 15). Tetapi bila faktor-faktor kejayaan tidak diindahkan, ditentang dan didustakan, maka kehancuran akan menimpah bangsa dan negeri tersebut. Allah akan menunjukan kuasa-Nya, “maka sungguh akan kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”QS. Al-Isra 16-17

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. dan cukuplah Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha melihat dosa hamba-hamba-Nya.

Mari kita simak ada tiga faktor menjadi tanda kehancuran Bermegah-megah Menjadi Gaya Hidu

Kekayaan dan kemewahan berperan besar dalam meruntuhkan sebuah bangsa. Apalagi bila yang memiliki gaya hidup bermewah-mewah dan bermegah-megah itu adalah para penguasa, para peneggak hukum, para pengambil kebijakan, para tokoh agama, dan para pemimpin dari berbagai lapisan masyarakat. Hal itu, demikianlah menurut Buya Hamka, karena mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kesempatan luas untuk mendapatkan berbagai fasilitas. Tafsir Al-Azhar H 33-34. Fasilitas mereka dibangun dengan biaya fantastis mahal, menghabiskan anggaran negara yang sangat besar. Fasilitas rakyat dibuat sambil lalu dan asal-asalan. Mereka berperilaku korup. Mereka tidak tersentuh hukum karena penegak hukum berada dalam genggamannya.

Cinta harta dimiliki setiap orang, apapun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahlian, cinta harta merupakan fitrah dan naluriah, bahkan menjadi Sunnatullah. Dalam kehidupan manusia. Qs. Ali Imran 14.Tetapibila cinta harta sudah menjadi gaya hidup, tujuan akhir, dengan menghalalkan segala cara, apabila pelakunya adalah para pemimpin negeri, para penegak kebenaran, para tokoh agama, maka tunggu saat kehancurannya.

Rasulullah SAW menyebutkan Hubb al-dunya (cinta harta duniawi) sebagai fitrah terbesar bagi umatnya. Beliau bersabda: “Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umat ku adalah harta dunia” HR. Muslim.

Agar kehancuran tidak terjadi pada bangsa kita, karena semakin banyaknya penguasa hidup dalam kemewahan, maka harus memiliki Uluu Baqiyyah (orang-orang yang masih memiliki keutamaan). Yang mampu tampil menumpas Al-Fasad (kerusakan dan kejahatan). Diberbagai lini. Seperti korupsi, suap, manipulasi, eksploitasi, koptasi, dan kapitalisasi. Harus ada orang-orang yang hadir untuk mencegah al-munkar(Kumungkaran)dan memerintah al-ma’ruf (Kebaikan). Tampil sebagai pemimpin dan tokoh yang bersih, jauh dari gaya hidup mewah dan rakus kekuasaan.

Kezaliman Merajalela

Akibat dari gaya hidup mewah, maka terjadi kezaliman dimana-mana. Para pengusaha berlaku tiran, tindakannya hanya untuk membela kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kehancuran negeri ini akan akan segera terwujud bila kezaliman dikedepankan, dan keadilan disingkirkan.

Para pengusaha dengan sengaja melakukan kezaliman bekerjasama dengan hakim sebagai sebuah persekongkolan jahat dalam kezaliman yang dapat menjurus kepada al-madzhalim al-muystarakah (kezaliman terstruktur). Kezaliman yang dilakukan secara bersama-sama dalam rangka pembodohan, pemiskinan, dan penindasan terhadap hak-hak rakyat. Persekongkolan untuk merampas tanah rakyat, menggusur usaha kaum lemah, dan merampok harta negara. Allah mengutuk persekongkolan jahat itu sebagai al-ta’awun ala al-itsm wa al-udwan (kerjasama dalam dosa dan permusuhan). Seperti kerjasama dalam pembunuhan, merampas hak orang, atau menzhalimi orang, membebaskan orang yang bersalah dan memenjarahkan orang yang benar.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadist bersabda: “kekuasaan itu akan kekal bersama orang kafir jika dilakukan dengan penuh keadilan, dan kekuasaan itu akan hancur bersama orang yang zalim.” Siapapun orang yang memegang kekuasaan, jika pemerintahan itu dilaksanakan dengan penuh keadilan, keterbukaan dan kejujuran, maka kekuasaan itu akan terus berjalan dengan baik. Tetapi kekuasaan itu dijalankan dengan penuh rekayasa, permainan dan kezhaliman, maka kekuasaan itu akan hancur walaupun yang menjalankannya adalah seorang yang terpandang, atau orang yang mempunyai karisma, dan lain sebagainya.

Hilangnya Rasa Malu

Hilangnya rasa malu akan menghancurkan bangsa dan negara. Bila rasa malu sudah hilang, yang tersisa adalah rasa iri, dengki, rakus dan cinta dunia, maka semua aturan agama akan dilanggar. Keadilan dicampakkan, semua manusia dianggap rendah. Tuhanpun dilawannya. Rasa malu itu telah terkikis habis. Hadis Rasulullah SAW yang cukup terkenal menyebutkan : “al-hayaau min al-iman” (malu itu sebagian dari iman). Rasulullah SAW menjelaskan “orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya dihadapan Allah SWT. Hendaklah menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya, hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur.”

Menurut Muadz Bin Jabal ra, dalam sebuah hadist Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. “Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepad-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku”.

Kita harus memiliki rasa malu, kita hadirkan kembali rasa malu yang sudah lama hilang dalam hati kita. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, sampai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang Hamba kepada Tuhannya. Bila seorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Dengan mudah menindas, memeras, kejam kepada rakyat, mengeksploitir kemiskinan untuk kekayaan pribadi, dan merampok uang rakyat. Puncaknya adalah kehancuran bangsa.

Masihkah kita memiliki rasa malu kepad Allah SWT saat kita sodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada ibu dan isteri-isteri kita dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah SWT ketika makanan sudah tersaji, tetapi itu jelas-jelas hak orang lain? Ditengah-tengah kita, rasa malu tak tersisa lagi. Adakah rasa malu ketika para penguasa dan pimpinan makan kenyang, sementara rakyat dan bawahan kelaparan. Penguasa tidur dirumah mewah, rakyat tidur tanpa rumah. Penguasa duduk dikursi mewah rakyat duduk dikursi rusak. Penguasa naik mobil mewah, rakyat naik angkutan umum yang dekil berhempit-hempitan. Mari menjaga rasa malu supaya bangsa dan lembaga yang kita pimpin tidak hancur.(*)