Usut Gelar Doktor Palsu, Mahasiswa Datangi Polda NTT

Demo Sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan di Kota Kupang, yang tergabung dalam Forum Peduli Keadilan bagi Pendidikan (FPKP),

Demo Sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan di Kota Kupang, yang tergabung dalam Forum Peduli Keadilan bagi Pendidikan (FPKP),

Zonalinenews, Kupang– Sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan di Kota Kupang, yang tergabung dalam Forum Peduli Keadilan bagi Pendidikan (FPKP), Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar aksi unjuk rasa di Depan halaman kantor Kepolisian Daerah (Polda) NTT, Senin 11 Mei 2015. Mereka menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus pemalsuan gelar Doktor yang dilakukan oleh Rektor Universitas PGRI NTT Kupang, Samuel Haning.

Koordinator aksi, Inosentio Naitio, dalam orasinya mengatakan, kasus pemalsuan gelar Doktor yang dilakukan Samuel Hanig yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas PGRI telah dilaporkan sejak Tahun 2014 silam. Naumun, hingga saat ini kasus tersebut tidak ditindaklanjuti pihak kepolisian. “Kami menduga ada permainan pelaku dengan pihak Polda NTT. Karena kasus ini sudah dilaporkan sejak tahun 2014. Kami mendesak pihak kepolisian agar segera menangkap pelaku pemalsuan gelar,” tegasnya.

Menurut Naitio, dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 67 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa pengguna gelar palsu akan dijerat hukuman 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 500 juta.

Ia juga mengatakan, pada saat wisuda periode Bulan April 2014 lalu, dalam ijasah para lulusan tertulis dengan jelas nama Rektor Universitas PGRI NTT, Samuel Haning dengan gelar Doktor. Namun, pada bulan September 2014 gelar Doktor sudah tidak dipakai lagi dengan alasan gelar itu sudah dicabut oleh Direktorat Jendral  Perguruan Tinggi (Dikti).

“Ini jelas bahwa Rektor PGRI, Samuel Haning sudah mengaku bahwa gelar yang dipakainya itu merupakan gelar palsu. Seharusnya pelaku segera ditangkap untuk diminta pertanggungjawaban. Karena perbuatannya sudah masuk dalam unsur pidana. Akibat gelar palsu itu sekitar 4000 lulusan khususnya wisuda periode April 2014 ini sulit mendapat pekerjaan,” katanya.

Mahasiswa juga berjanji akan melakukan aksi lanjutan jika tuntutan mereka tidak direspon Polda NTT. Mahasiswa juga berencana melakukan aksi seribu koin  mengumpulkan dana untuk mengutus utusan  mahasiswa ke Jakarta menemui Kapolri.

Kabid Humas Polda NTT, AKBP Agus Santoso, mengatakan, kasus tersebut sudah ditangani oleh Satuan Reserse Kepolisian Resor Kupang Kota dan saat ini masih dalam proses penyelidikan.
“Kasus ini sedang ditangani dan masih dalam tahap penyelidikan. Karena masih dalam tahap pemeriksaan saksi termasuk Dikti,” kata Agus.

Untuk diketahui, kasus dugaan gelar palsu Samuel Haning itu mulai mencuat saat wisuda sarjana pada bulan April 2014 lalu. Di dalam ijazah para lulusan Universitas PGRI NTT ITU, Samuel Haning sudah menggunakan gelar Doktor jebolan Universitas Islam (UI) Jakarta.

Namun, setelah dicek di Universitas itu, ternyata Samuel Haning masih berstatus mahasiswa program Doktor. Berdasarkan pengakuan Samuel Haning, gelar Doktornya diperolehnya di Brkeley University. Tetapi setelah dicek di Dikti, pihak universitas mengatakan tidak ada nama mahasiswa Indonesia atas nama Samuel Haning yang mengambil program Doktor di Berkeley University. Menegetahui penggunan gelar tersebut merupakan gelar palsu, para dosen dan pegawai Universitas PGRI  NTT melaporkan kasus tersebut ke aparat kepolisian.

Pantauan Zonalinenews, puluhan mahasiswa melakukan long march dari depan kampus Undana lama menuju halaman depan Polda NTT. Mereka melakukan orasi serta membawa berbaga poster bertuliskan ‘Polisi harus segera tangkap para mafia penddikan’. Aksi tersebut berjalan damai dan dikawal ketat aparat kepolisian. (*amar)