Yuliana Ndun: “Bapak Kapolda Tolong Bebaskan Suami Saya”

Isteri Topan,Yuliana Ndun bersama anaknya

Isteri Topan,Yuliana Ndun bersama anaknya

Zonalinenews, Kupang- Isteri terdakwa pelaku pembunuhan anggota polisi, Bripda Obaja Nakmofa,Yuliana Ndun, meminta Kapolda NTT, Brigjen Pol. Endang Sunjaya agar dapat membebaskan suaminya, Martinus Oemenu alias Topan dari jeratan hukum. Yuliana menduga, proses hukum yang kini membuat suaminya divonis 10 tahun penjara oleh Majelis Hakim beberapa waktu lalu penuh rekayasa dan banyak kejanggalan.

“Bapak Kapolda, Saya mohon bebaskan suami saya. Saya yakin Bapak punya nurani. Karena saya yakin suami saya tidak pernah membunuh,” pintanya.

Yuliana yang ditemui di kediamannya, Kamis, 7-05-2015, mengaku, saat suaminya ditangkap Oktober 2014 lalu, dirinya sudah menduga bahwa suaminya pasti akan dijadikan sebagai tersangka.
Dengan deraian air mata, Ia pun menuturkan, ketika dirinya mengunjungi suaminya di sel tahanan, suaminya menceritakan bagaimana Topan diperlakukan dari proses penangkapan hingga proses penyidikan terhadap dirinya.

Saat itu Topan menceritakan bahwa, ketika ditangkap anggota polisi di Kabupaten TTU, suaminya tersebut dibawa ke Kupang. Setelah sampai di Kabupaten TTS, dirinya sempat dibawa ke Polres Soe. Dan saat itu Topan sempat mendengarkan percakapan dua anggota yang menangkap dirinya dengan salah satu oknum polisi Polres Soe yang mengatakan suaminya hanya dikambinghitamkan. “Salah satu polisi di Polres Soe bilang, kamu salah tangkap. Ini bukan pelakunya. Namun oknum polisi yang bertugas menangkapnya itu jawab biar kita kambing hitamkan saja. Karena kami sudah lelah usut kasus ini,” ungkapnya menirukan cerita suaminya.

Yuliana juga menanyakan alasan polisi membebaskan salah satu anggota polisi yakni, Robinson yang dulu ditetapkan sebagai tersangka dan kini hanya sebagai saksi yang memberatkan suaminya. Lebih janggal lagi, lanjut Yuliana, waktu itu pihak kepolisian pernah dituntut ganti rugi oleh pihak keluarga Topan karena saat itu polisi telah mengaku bahwa Topan hanya sebagai korban salah tangkap.
“Waktu itu mereka mengaku salah tangkap. Mereka aniaya Topan sampai babak belur setelah itu mereka mengaku salah tangkap dan mereka lepas Topan. Setelah lewat tiga tahun mereka tangkap Topan lagi dan tetapkan Topan sebagai pelaku. Aneh sekali. Mungkin karena kami orang kecil sehingga mudah dibodohi. Namun, Tuhan itu maha adil. Saya tau suami saya bukan pembunuh dan saya sangat yakin Tuhan pasti membalas semua ini,” ucapnya.

Dirinya mengharapkan agar Kapolda NTT dapat membebaskan suaminya dan meminta seluruh masyarakat NTT yang memahami tentang hukum dapat membantu dirinya. (*amar)