Puasa Sebagai Pemaknaan Utuh SikapToleransi

Oleh: Thomas Mbenu Nulangi

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nenegri Yogyakarta

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Zonalinenews, Saat ini umat muslim di seluruh dunia kembali memasuki bulan suci ramadhan. Bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh umat muslim untuk memurnikan kembali dirinya dari salah dan dosa yang selama ini diperbuatnya. Dengan pemurnian diri tersebut umat muslim akan semakin yakin menjalankan kehidupannya sebagai seorang muslim baik atau sebagai seorang muslim yang taat kepada ajaran Allah. Tentu tidak mudah bagi umat muslim untuk memurnikan dirinya. Mereka dituntut untuk berpuasa selama sebulan penuh. Puasa yang dimksudkan adalah puasa untuk tidak makan dan tidak minum dari mulai matahari terbit sampai terbenam. Dan hari ini, kamis 18 Juni  merupakan awal dari umat muslim menjalankan ibadah puasa di tahun 2015.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) puasa adalah menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan urusan keagamaan) dan yang kedua merupkan salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Jadi umat muslim harus bisa menahan diri untuk tidak makan dan minum dari pagi sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam. Jika umat muslim tidak mampu menahan lapar saat dipertengahan hari, misalnya pada siang hari maka yang bersangkutan tidak menjalankan rukun islam dengan sempurna.

Kalau di Indonesia umat muslim biasanya mulai makan pada pagi hari atau lebih dikenal dengan istilah sahur pada pukul 04.00 dini hari, dan kembali makan atau yang lebih dikenal dengan istilah berbuka puasa pada pukul 18.00 pada malam hari. Artinya umat muslim yang sedang menjalani ibadah puasa tidak diperbolehkan untuk makan dan minum pada siang hari selain dengan ketentuan batas waktu diatas. Jadi kalau makan atau minum satu kali diluar ketentuan jam diatas, maka yang bersangkutan batal berpuasa.

 Jika dihitung dari ketentuan dua jam diatas maka sekitar 14 jam umat muslim harus menahan untuk tidak makan dan tidak minum. Mereka diperbolehkan makan dan minum pada pukul 04.00 dini hari dan pada pukul 18.00 pada malam hari. Dengan memakan waktu yang cukup lama tersebut yakni sekitar 14 jam lamanya untuk tidak makan dan tidak minum merupakan suatu tantangan tersendiri bagi umat muslim dalam menjalankan puasa. Apalagi hal itu tidak didukung dengan sikap dan perilaku antar sesama umat beragama. Oleh karenannya, dibutuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Sikap toleransi menuntut kita sebagai umat beragama non muslim untuk saling menghargai sesama umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Mereka umat muslim yang ada di sekitar kita harus dihargai agar mereka dapat menjalani ibadah puasa dengan sempurna.

Menurut Wikipedia Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Itu artinya, kita sebagai umat beragama lainya yang non muslim di tuntut untuk menghargai dan mnghormati umat muslim yang sedang menjalani ibadah puasa.

Jika dalam menjalankan ibadah puasa umat muslim tidak diperkenankan untuk makan dan minum, maka implementasi dari sikap toleransi umat non muslim terhadap umat muslim yang sedang menjalani puasa adalah berusaha untuk tidak­­ makan atau minum didepan umat muslim yang sedang menjalani puasa. Apabila kita umat non muslim kemudian makan dan minum didepan umat muslim yang sedang menjalani puasa maka kita juga saling menghargai dan menghormati mereka yang sedang menjalani puasa. Jika hal ini terjadi maka kita tidak sedang menujukan sikap toleransi kita terhadap sesama umat muslim yang sedang menjalani puasa.

Begitupun sebaliknya, sikap toleransi tidak menghendaki hanya salah satu pihak saja yang mengimplementasikannya. Sikap toleransi menghendaki adannya dua pihak saling mengimplementasikan dalam ruang dan waktu yang sama. Oleh karenannya, sikap toleransi hendaknya juga ditunjukan oleh umat muslim yang sedang menjalani puasa, dimana sebagai seorang muslim, dia juga harus memahami lingkungan sekitarnya. Bahwa ada orang-orang tertentu yang saat masa puasa tidak dapat meenjalani ibadah puasa oleh karena beberapa alasan. Misalnya alasan kesehatan dengan saran dokter bahwa yang bersangkutan tidak boleh berpuasa, maka, harus dipahami oleh umat muslim yang sedang menjalani puasa. Jika dia dituntut berpuasa bersama dengan yang lain, maka kesehatannya akan terganggu dan bahkan menyebabkan kematian.

Jika sikap toleransi ini diimplementasikan oleh kedua bela pihak baik umat muslim maupun umat non muslim dalam bulan suci Ramadhan ini, maka kedua bela pihak tersebut telah memaknai secara utuh sikap toleransi yang sebenarnya. Sikap toleransi dimana kedua yang berbeda tapi tetap menjaga satu sama lain. Dengan memaknai sikap toleransi yang utuh maka, ibadah puasapun dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Jika ibadah puasa dijalankan tampa hambatan, maka umat muslim yang bersangkutan dapat menjalankan salah satu rukun islam yaitu puasa dengan sempurna.

Namun jika kedua belah pihak tersebut tidak mengimplementasikan sikap toleransi maka kedua bela pihak tersebut juga yang mencederai sikap toleransi. Mencederai sikap toleransi antar umat beragama akan berakibat fatal bagi umat muslim yang menjalankan puasa karena nantinya tidak sempurnah menjalankan ibadah puasannya. Bukan hanya tidak sempurna menjalani ibadah puasa, tapi biasannya akan terjadi konflik antar agama. Oleh karenannya, Sebagai warga Negara yang baik kita harus bersama-sama menunjukan sikap toleransi dibulan suci Ramadhan. Sebab dengan berpuasa maka kita akan menemukan pemaknaan secara utuh sikap toleransi yang selama ini kadang belum dimaknai secara baik. Selamat menjalankan Ramadhan… (*)