Kajati NTT, Diduga Terima Suap

Lomboan Djahamou

Lomboan Djahamou

Zonalinenews-Kupang, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Jhon W. Purba diduga menerima suap dari Enny Anggrek terkait Kasus Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Proyek perumahan MBR di Wolibang, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, masyarakat tidak pernah bertemu Ronny Anggrek dalam pengerjaan proyek tersebut. Namun, masyarakat hanya bertemu dan melihat Enny Anggrek dalam pengerjaan proyek perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tersebut. Dalam fakta persidangan Enny Anggrek tidak pernah ditetapkan sebagai tersangka dan menetapkan Direktur PT. Timor Pembangunan, Ronny Anggrek.

Hal ini disampaikan, Salah satu tokoh muda Alor, Lomboan Djahamou yang bermukim di Kecamatan Kabola, 13 Juni 2015.

“ Kami hanya tahu, Enny Anggrek yang kerja perumahan MBR di Wolibang bukan Ronny Anggrek,” kata Lomboan.

Namun, yang disesalkan hingga saat ini Enny Anggrek tidak ditetapkan sebagai tersangka tapi hanya menetapkan Direktur PT. Timor Pembangunan, Ronny Anggrek dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Alor, Seface Penlana. Bahkan Seface Penlaana sudah diputuskan hukuman tetap 4 tahun 6 bulan penjara. Kejaksaan Tinggi NTT, harus adil dalam penegakkan hukum di Provinsi Nusa Tenggara Timur tidak memihak atau menerima suap dalam mengamankan proyek yang bermasalah seperi proyek perumahan Masyarakat berpengasilan Rendah (MBR) Wolibang, kecamatan Kabola kabupaten Alor.

Sementara itu, Enny sendiri dalam pengerjaan proyek tersebut mendapatkan surat kuasa dari PT. Timor Pembangunan untuk mengerjakan Proyek Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Surat kuasa tersebut dengan nomor 054/SK-TP/IX/2013. Untuk itu, apapun alasan yang dilakukan oleh Enny Anggrek, Kejaksaan Tinggi harus menangkap dan menetapkan Enny Anggrek sebagai tersangka. Dan, beberapa alat bukti yang kuat untuk menetapkan Enny Anggrek sebagai tersangkah.

Lomboan Juga menyesalkan Sikap As Pidsus Kejaksaan Tinggi NTT, Gaspar Kase yang seolah-olah membela perbuatan Enny Anggrek yang jelas-jelas telah melanggar hukum.

“Bukti Seperti apa yang harus dipenuhi untuk menetapkan sebagai tersangka. Sementara, fakta dilapangan dan Surat kuasa dari PT. Timor Pembangunan serta beberapa bukti merupakan fakta yang kuat untuk ditetapkan Eny Anggrek sebagai tersangka,” jelas Lomboan.

Lanjut Lomboan, bukti SMS dan BBM antara Ronny Anggrek dan Enny Anggrek yang menyebutkan nama dua orang oknum di Kejaksaan Tinggi NTT. Bukti-bukti seperti ini kuat dugaan ada permainan pihak kejaksaaan yang turut menerima upeti.

“Salah satu bukti, yaitu BBM antara Enny Anggrek dan Ronny Anggrek, Enny Anggrek menyuruh Ronny Anggrek menyelipkan uang 10 juta sampai 20 juta di salah satu tempat se’i. sehingga Salah seorang  oknum penyidik di Kajaksaan Tinggi Kupang Benisial R yang akan mengambilnya,” kata Lomboan menirukan bukti BBM tersebut.

Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, Jhon W. Purba yang dikonfirmasi, Selasa, 23 juni 2015 mengatakan bahwa informasi tentang keterlibatan dirinya dalam menerima suap tersebut tidak benar. Sebab, sebelum dirinya bertugas di NTT kasus perumahan MBR tersebut telah dilakukan pemeriksaan terhadap para tersangkah. Sehingga isu penyuapan tersebut jika ditujukan pada dirinya itu merupakan tidak benar adanya.

“Saya diduga terima suap itu tidak benar, pasalnya sebelum saya bertugas di sini kasus perumahan MBR di NTT sudah pada tahapan persidangan, ” kata Purba. (*Paul)