Kapolda NTT Diminta Tangkap Rektor PGRI NTT Serta Usut Gelar Dekan FKIP

 

Demo Mahasiswa minta Polda Tangkap Rektor PGRI

Demo Mahasiswa minta Polda Tangkap Rektor PGRI

Zonalinenews,Kupang-  Gelombang protes mahasiswa yang menentang penggunaan gelar doktor palsu yang dilakukan oleh Rektor Universitas PGRI NTT, Samuel Haning kini semakin memanas. Senin 07 Juni 2015 ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Peduli Keadilan Bagi Pendidikan (FPKBP) kembali mendatangi Polda NTT. Mahasiswa mendesak Kapolda NTT, Brigjen Pol. Endang Sunjaya segera menangkap Samuel Haning yang saat ini masih menjabat sebagai Rektor Universitas PGRI.

Dalam aksinya, mahasiswa mengecam keras Kapolda NTT yang hingga saat ini belum menangkap Samuel Haning.  Mahasiswa juga menyatakan, penggunaan gelar Doktor palsu yang telah dicantumkan dalam ijasah wisudawan periode April 2014 telah mengakibatkan nasib para lulusan kini tidak menentu. Karena produk hukum ijazah yang telah dikeluarkan oleh Universitas PGRI NTT telah dinyatakan tidak sah. Bahkan, ancaman penutupan Perguruan Tinggi (PT) oleh Kemenristek dan Penddikan Tinggi saat ini menjadi ancaman serius bagi seluruh civitas akademik Universitas PGRI NTT. Selain mengecam Rektor yang menggunakan gelar Doktor palsu, itu, mahasiswa juga mendesak Polda NTT untuk mengusut gelar yang dipakai oleh Dekan  FKIP yang diduga palsu.

Koordinator aksi, Inosentius Natio dalam orasinya mengatakan, gelar doktor yang digunakan Samuel Haning tersebut sudah secara resmi sudah dinyatakan palsu oleh lembaga negara yakni Kemenristek dan Pendidikan Tinggi. Olehnya, pelaku penggunaan gelar akademik palsu seharusnya dan sepantasnya dihukum. Hal ini sesuai UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 68 ayat 1 dan 2.

“Kami menuntut agar Samuel Haning segera ditangkap karena telah menggunakan gelar palsu. UU Sisdiknas seharusnya ditegakan. Namun, kenyataan terjadi saat ini pengguna gelar palsu masih belum ditangani serius oleh aparatur penegak hukum yang ada di republik ini. Kami juga menduga gelar Dekan FKIP juga palsu. Kami minta pihak Polda segera mengusutnya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang, Yunus Mai Lani, saat berorasi mengatakan, di Universitas PGRI NTT Kupang telah terjadi tindak pidana pemalsuan gelar akademik oleh Rektor Samuel Haning. Namun, ironisnya sampai saat ini oknum pelabrak aturan tersebut belum mendapat perlakuan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurutnya, penggunaan gelar palsu tersebut berdampak hukum terhadap legalitas ijazah para wisudawan/wisudawati periode  April lalu yang kini telah berstatus alumni. Hal ini sudah ditegaskan juga oleh Menteri Riset dan Teknologi Dikti, Mohamad Nasir yang menyatakan bahwa, dalam rangka mensosialisasikan program kualitas dosen maka pihaknya segera menutup sejumlah Perguruan Tinggi yang diduga melakukan jual beli ijazah serta mengeluarkan ijazah palsu, termasuk Universitas PGRI NTT. Karena ijazah para lulusan tidak diakui.

Hal ini terjadi karena ijazah tersebut ditandatangani oleh Rektor yang gelar doktornya dinilai tidak sah. Karena menurutnya, gelar doktor yang digunakan Rektor Universitas PGRI NTT, Samuel Haning yang mengaku memperoleh gelar Doktor (S3) dari Berkeley University di Jakarta yang merupakan cabang dari Amerika Serikat, sementara di AS dengan nama University Of California Berkeley ternyata tidak pernah ada di Jakarta.

Dirinya juga menanyakan kinerja Polda NTT yang hingga saat ini masih membiarkan Samuel Haning berkeliaran. Pada hal menurutnya, kasus ini sudah dilaporkan ke Resort Kupang Kota dengan Nomor Laporan Polisi : LP/B/689/VII/2014/NTT/SPK. Namun, ironisnya, pada tanggal 18 November 2014, mengeluarakan surat pemberitahuan hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa, penggunaan gelar akademik yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang dilaporkan tidak dapat diproses lebih lanjut ke tahap penyidikan karena tidak memenuhi unsur pidana. Olehnya, dirinya menilai surat yang dikeluarkan oleh Resort Kupang Kota tersebut telah menggambarkan lemahnya penegakan hukum di NTT terkait penggunaan gelar akademik palsu.

Ia juga meminta Kapolda NTT, Endang Sunjaya agar segera menangkap dan memproses Rektor Universitas PGRI menurut perundang-undangan yang berlaku. “Mengapa aparat penegak hukum seolah diam dan lamban. Padahal saat wisuda periode September 2014 dan Mei 2015, Samuel Haning tidak lagi gunakan gelar doktornya. Itu artinya Rektor sudah mengaku dan yakin bahwa gelarnya itu palsu. Saya minta Pak Kapolda segera tangkap Samuel Haning,” ujarnya.

Pantauan media ini, dalam aksi tersebut ratusan mahasiswa mulai melakukan orasinya di Bundaran PU menuju halaman depan Mapolda NTT. Mahasiswa juga membawa sejumlah spanduk bertuliskan, ‘Saya tidak mau pulang bawa ijasah palsu’, ‘Segera tangkap Samuel Haning’, ‘Pengguna gelar palsu lebih jahat daripada human trafficking,’ ‘Pengguna gelar palsu merusak revolusi mental,’. (amar ola keda)