Keluarga Korban Ibu Melahirkan Meningal Dunia di RSUD Bajawa Ungkap Kronologi Kematian

Puskesmas Kota Bajawa

Puskesmas Kota Bajawa

ZONALINENEWS-NGADA , Sedikitnya sekitar dua puluh orang anggota keluarga korban ibu muda melahirkan, almarhum Erlyn Nau yang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Bajawa Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu mendatangi Puskesmas Kota Bajawa di Wakumenge Kelurahan Jawa Meze Bajawa, Rabu 3 Juni 2015 untuk beraudiensi langsung dengan sejumlah pihak di Puskesmas Kota Bajawa terkait kematian Ibu Muda Erlyn Nau usai dirujuk dari Puskesmas Kota Bajawa ke Rumah Sakit Umum setempat.

Diberitakan sebelumnya seorang Ibu Muda melahirkan meninggal dunia di RSUD Bajawa diduga kelalaian penanganan pendarahan dan Ketua JPIC Kesukupan Agung Ende Pastor Paroki Gereja MBC Bajawa, Romo Edu, Pr Himbau Kematian Pasien Melahirkan di RSUD Bajawa Jangan Disebut Takdir.

Pantauan Zonalinenews, Rabu 3 Juni 2015 di Puskot Bajawa, suami korban Bertho Ngiso turut hadir didampingi ayah kandungnya Wilhelmus Waso bersama sanak keluarga Vinsensius Milo, Laurensius Ngiso Goja, Frederikus Mawo, Fredy Sila serta belasan anggota keluarga duka lainnya.

Kehadiran keluarga korban disambut baik pihak kesehatan dibawah pimpinan Direktur Rumah Sakit Umum Bajawa Kabupaten Ngada Drg. Mercy Betu didampingi Kabid Pelayanan Kesehatan Ngada Botha Hironimus, AMd, Dokter Ahli Kandungan Dokter I Gede Mayun, M.Biomet, SpOG, Kepala Puskot Vinsensius Toda, serta dua orang tenaga bidan yang menangani persalinan korban yakni Bidan Bibiana Langa dan Bidan Yunita Beme dan Komisi III DPRD Ngada Yohanes Mari.

Tidak nampak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada dalam kesempatan ini namun hanya diwakilkan melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Ngada, Botha Hironimus, AMd

Dikutip Wartawan, dalam sesi dialog pihak keluarga duka mengungkapkan sikap penegasan final mereka kepada pihak RSUD Bajawa, Tenaga Dokter, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Puskesmas Kota Bajawa serta Tenaga Bidan bahwa Keluarga Duka belum menempuh upaya hukum atas tragedy pelayanan hingga jatuhnya korban meninggal dunia di RSUD Bajawa almarhum Erlyn Nau, tetapi keluarga duka mendesak seluruh pihak terkait masalah ini khususnya pihak Kesehatan di Kabupaten Ngada harus berkata jujur kepada khalayak tentang kelalain penanganan pihak medis hingga berakibat fatal pasien melahirkan meninggal dunia. Hal ini ditekankan sebagai seruan moral keluarga duka agar persoalan ini dimaknai dengan jujur, jangan berbelok-belok demi tergeraknya efek perubahan kinerja pelayanan kesehatan di Ngada.

Diterima Wartawan di Puskot Bajawa, 3 Juni 2015, rilis resmi kronologi kematian korban oleh pihak keluarga dan saksi mata menerangkan, pada hari Senin 18 Mei 2015 sekitar Pukul 19.00 Pasien Melahirkan atas nama Maria Ermelinda Nau didampingi sang suami Bertho Ngiso mendatangi Puskot Bajawa. Kehadiran pasien melahirkan didampingi suaminya disambut oleh beberapa tenaga Bidan Puskot Bajawa yang bertugas saat itu dan langsung dilakukan pemeriksaan medis terhadap kondisi pasien. Hasil pemeriksaan medis memastikan pasien tinggal menunggu waktu melahirkan yang dilanjutkan dengan persiapan-persiapan internal. Sekitar pukul 20.20 Wita tahaban kondisi pasien air ketuban pecah dan Bidan setempat mempersiapkan persalinan.

Dijelaskan, persalinan berjalan normal beberapa menit kemudian, pasien melahirkan normal seorang bayi perempuan berkondisi sehat lalu sang bayi dibaringkan dalam pelukan ibunya yang terharu dan gembira karena tidak terjadi kejanggalan apapun diikuti Bidan mulai memotong plasenta serta membersihkan sang Bayi.

Menurut rillis tersebut , setelah melahirkan Bidan mulai membersihkan Ibu Erlyn yang baru saja selesai melahirkan normal dan mulai membersihkan mengeluarkan ari-ari dan plasenta. Pada saat itu pasien sangat mengeluh kesakitan sebab saat ari-ari dan plasenta dikeluarkan oleh Bidan, bersamaan dengan itu terjadi pendarahan begitu hebat hingga Bidan yang menolong pun terkena percikan darah. Beberapa saat kemudian Bidan menyampaikan kepada pihak keluarga bahwa pasien harus dirujuk ke Rumah Sakit dan meminta Sang Suami mencarikan seorang sopir karena ada mobil ambulance milik Puskot Bajawa tetapi sopir tidak siaga di tempat. Keterangan ini kembali diperjelas suami korban, Bertho Ngiso.

Menurut Bertho, dirinya sudah sangat berusaha mencari sopir namun tidak ada. “Pada saat terjadinya pendarahan hebat, sama sekali tidak terjadi penanganan untuk mencegah sekaligus untuk mengatasi pendarahan hebat misalnya tidak adanya infus dan tidak ada transfuse darah dan saya pun ditugaskan untuk mencari sopir”, tegas Suami Korban, Bertho. Pasalnya, sekitar lima menit berselang datanglah seorang sopir dari keluarga bidan, lalu dengan menggunakan tandu pasien pendarahan hebat diangkat menuju mobil ambulans dibantu oleh suami korban tetapi ketika berada di luar harus menunggu beberapa saat sebab mobil ambulance tidak diparkir dalam posisi siap keluar area garasi sehingga sopir yang datang menolong pun mengalami kesulitan untuk mengeluarkan mobil dari garasi dan memakan waktu sekitar sepuluh menit. Setelah menunggu beberapa saat pasien pendarahan dinaikan ke dalam mobil ambulance ditemani dua anggota keluarga bersama tiga tenaga bidan dilarikan ke RSUD Bajawa sementara suami korban menyusul dari belakang setelah kembali menjemput salah satu anggota keluarga untuk berjaga-jaga nantinya di Rumah Sakit.

Dikisahkan Suami Korban, betapa terkejutnya suami korban setelah menyusul sekitar lima menit dari belakang, setibanya di halaman Rumah Sakit Umum Bajawa, sang isteri yang dengan kondisi pendarahan masih berada di dalam mobil ambulance, belum dikeluarkan guna dirawat emergency di UGD RSUD Bajawa, bahkan, kata dia, kereta dorong pasien pun belum ada saat itu. Melihat sang isteri dibiarkan dalam mobil ambulance, Bertho sang suami berbegas meminta bantuan sopir mengangkat isterinya yang sudah sangat lemah dan penuh pendarahan lalu datanglah kereta pasien dan pasien langsung di dorong ke ruangan bersalin. Kehadiran pasien di ruang persalinan disambut bidan-bidan bertugas saat itu dan sang suami langsung menggendong sang isteri ke tempat tidur pasien diikuti para bidan mulai memberikan pertolongan disusul beberapa saat kemudian para dokter tiba di tempat dan melakukan upaya penanganan. Kesaksian sang suami memastikan, pada saat itu sudah terjadi kondisi kepanikan luar biasa sebab kondisi pasien (almarhum Ermelinda Nau) sudah makin memburuk dan pertolongan tim medis yang ada pun tidak membantu pasien yang sudah kian kritis. Sekitar lima belas menit kemudian Dokter keluar dari ruang pasien dan menyampaikan bahwa pasien atas nama Erlyn Nau tidak dapat ditolong lagi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 22.00 Wita, ungkap  Suami Korban, Bertho Ngiso. (*wrn)