Nusantara Organization Cup Bukan Sekedar Turnamen Sepak Bola

Bupati Sleman  Memukul gong pada pada acara pembukaan NOC ditemani  KRT Yudha Hadi Ningrat SH

Bupati Sleman Memukul gong pada pada acara pembukaan NOC ditemani KRT Yudha Hadi Ningrat SH

Zona Line News-Yogyakarta, Melihat keberagaman yang dinaungi dibawah kaki burung Garuda dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, telah melahirkan ide untuk melaksanakan kegiatan Nusantara Organization Cup (NOC) 2015 ini. Tidak terlepas dari berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh keberagaman agama, kepentingan, bahkan konflik yang mengatas namai etnik, yang berpangkal pada sikap primordialisme dan berujung pada stigma masyarakat tentang mahasiswa, khususnya yang beretnik NTT. Hal ini tentunya disebabkan oleh sikap keterbatasan media komunikasi yang seharusnya menjadi fondasi dalam menjawab persoalan-persoalan serta citra NTT di Yogyakarta.

“Maka dari itu, kami terdorong untuk menggunakan NOC sebagai media yang ingin mempertegas image NTT yang sebenarnya dan memperjelas eksistensi perbedaan yang bukan merupakan ancaman melainkan keindahan dan kekayaan yang dimiliki nusantara,” ungkap Willy Ndjurumana pada acara sereminial pembukaan 30 Mei 2015.

Selaku kepala divisi Olahraga yang mencandangkan program kerja (proker) NOC. Berawal dari rasa persaudaraan PERKURAY sendiri, itulah sebenarnya yang menjadi inspirasi yang membawa NOC menjadi sebuah proker. “Kalau soal olahraga, PERKURAY sendiri sebenarnya sudah punya wadah untuk mempererat persaudaraan Kupang Raya, namanya liga ba’abu. Sebuah turnamen lapangan mini yang menghadirkan tiap team berdasarkan rayon, nah, di sinilah menjadi ajang untuk bersilahturami sesama saudara asal Kupang, kenapa namanya ba’abu? Karena memang ini liga buat katong ba’abu, hal ini memang disengaja, biar Kupang-nya dapat banget,” jawab Edwan Patty yang notabene sebagai pelopor NOC dan sekaligus menjadi ketua panitia NOC.

Istilah Nusantara yang kemudian dijadikan suatu bentuk kompetisi sepak bola antar paguyuban tersebut memiliki tiga pilar yang digunakan untuk menyusun konsep acara. “Kalo pilar yang digunakan menyesuaikan dengan instruksi dari pengurus inti PERKURAY. Esensi yang digunakan adalah nilai persaudaraan, persatuan, dan nusantara. Kalao persaudaraan diimplementasi lewat konsep opening yang lebih cocok disebut, kumpul-kumpul dengan seseama paguyuban, sedangkan untuk persatuan, katong menghadirkan dua narasumber yang dapat memrepresentasikan Yogyakarta, dalam hal ini, Bupati Sleman dan KRT Yudha Hadi Ningrat, SH. dan peserta-peserta merupakan beberapa paguyuban ang mewakili nusantara berdasarkan pembagian zona waktu, barat, tengah, dan timur,” ungkap Ardy Bolang tentang konsep acara NOC.

Sepak bola bukan saja tentang kalah atau menang, lebih dari itu, sepak bola memiliki nilai-nilai tersirat seperti solidaritas, sportivitas, kerja keras, kekompakan yang tercermin melalaui kerja sama team dalam menciptakan gol maupun melindungi gawang. Sejarah sepak bola pun menunjukan bahwa sepak bola berasal dari organisasi persaudaraan di Eropa yang bernama freemanson dan membawa sepak bola sebagai bentuk olahraga yang menawarkan nilai-nilai persaudaraan di dalamnya. Maka, sepak dalam hal ini saya rasa sangat cocok jika dipadukan dengan tujuan kami dalam membuat Nusantara Organization Cup (NOC) It’s about a logica behind the NOC,” jelas Jhon Freitas (Ketua Umum PERKURAY) tentang asal mula NOC.(*Axel Silli)