Pelaku Ijasah Palsu dan Kampus Abal-abal Harus Ditindak Tegas

Anggota DPR RI Jefri Riwu Kore da Tokoh Pemuda Ia Haba Ora

Anggota DPR RI Jefri Riwu Kore da Tokoh Pemuda Ia Haba Ora

Zonalinenews-Kupang,- Dunia pendidikan penyelenggaraan Perguruan Tinggi di NTT dinodai oleh ulah oknum pendidik. Ijasah palsu dan Kampus abal-abal. Bahkan di NTT telah disebutkan nama kampusnya seperti Universitas PGRI dan Universitas Muhamadiyah Kupang yang disinyalir bermasalah.

Khusus kampus PGRI Kupang telah dibekukan untuk tidak menerima mahasiswa lagi. Anggota DPR RI Jefri Riwu Kore dihubungi Via Telepon di Jakarta Jumat 5 Juni 2015 Pukul 18.00 wita menegaskan, kampus PGRI Jangan hanya dibekukan saja tetapi harus ditindak secara aturan hukum. Itu adalah perbuatan pidana karena melanggar KUHP Pasal 263 ayat (1) dan (2), UU 20/2003 Pasal 67-71, dan UU 12/2012 Pasal 93. Banyak PT-PT di Indonesia termasuk NTT yang menerima mahasiswa meskipun ijin operasional kampus belum keluar. Bahkan terindikasi maraknya jual beli ijasah.

K”ami di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan telah berupaya bersama Pemerintah untuk lebih intens dalam pengawasan penyelenggaraan pendidikan tinggi di daerah pemilihan masing-masing.

Saya melalui Jeriko Center telah membuka posko pengaduan masalah pendidikan tinggi di NTT, data-data tersebut sementara dikumpulkan untuk dikaji lebih lanjut,” ujarnya.

Universitas PGRI dibekukan oleh Kemenristekdikti karena DPR RI menginginkan hal demikian untuk sementara menunda dulu penerimaan mahasiswa agar tidak menimbulkan korban lebih banyak lagi di mahasiswa. Perilaku ini, Menurut Jefri , 95 persen yang korbannya adalah mahasiswa. Ijasah mereka sudah tidak diakui, waktu mereka pun terbuang sia-sia karena kuliah di kampus tersebut.

“Saat ini telah dilakukan pembicaraan bersama-sama dengan Kemenristekdikti agar mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus tersebut jangan dikorbankan karena menempuh pendidikan di kampus tersebut. Kami akan panggil lagi Kemenristekdikti untuk bicara soal ijasah-ijasah palsu.

“ Saya juga akan mempertanyakan nama-nama kampus yang keberadaannya diakui di NTT. Senin ini 8 Juni 2015, saya akan bersurat ke Menristekdikti untuk itu.,” tegasnya.

Tokoh Pemuda , Ian Haba Ora ketika dihubungi Via Telepon pun angkat bicara Adanya jual beli ijasah palsu dan kampus abal-abal karena minim pengawasan pemerintah terhadap pelaksanaan penyelenggaraan Perguruan Tinggi di Indonesia. Kementrian yang bertanggungjawab belum ada metode pengawasan yang baik, demikian pun para aparatur penegak hukum belum mampu dalam mencermati maraknya ijasah palsu dan kampus abal-abal di NTT.

Masalah yang menimpah Universitas PGRI dan Universitas Muhamaddiyah di NTT hanya sekian persen dari yang terungkap, sebenarnya kalau mau dilihat lebih jauh masih banyak kampus-kampus yang bermasalah.

Fenomena Pendidikan Tinggi ibarat gunung es, tampak sedikit saja yang muncul ke permukaan dan banyak yang belum terungkap.

Sebenarnya Kata Ian Haba Ora, Polisi saat ini sudah berani untuk mengungkapnya sebagai pidana. Pelakunya ijasah palsu dan kampus yang tidak diakui ibaratnya telah mengkangkangi aturan-aturan Pendidikan Tinggi yang berlaku, dan itu tidak bisa dibiarkan. Tapi saat ini Polisi belum berani mengambil tindakan.

Kedepan harus ada sinergi pengawasan yang baik dari tiga komponen yaitu pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sesuai undang-undang Perguruan Tinggi, penyelenggaraan PT di Indonesia merupakan usaha yang dapat dimunculkan oleh tiga komponen ini.(*tim)