Berambisi Rebut Juara I, Kejati Tetap Profesional

Kajati NTT Jhon W Purba

Kajati NTT Jhon W Purba

Zonalinenews – Kupang, Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT ternyata benar-benar ingin meraih juara I tingkat nasional dalam jumlah penanganan kasus korupsi setelah pada tahun 2014 lalu berada diurutan kedua di bawah provinsi Papua. Namun untuk mencapai tujuan itu Kejati NTT tetap bersikap profesional baik dalam menyelidiki sebuah kasus maupun menetapkan tersangka yang terlibat di dalamnya.Demikian diungkapkan oleh Kepala Kejati NTT, John W. Purba ketika ditemui wartawan pada sela-sela perayaan hari bhakti Adhyaksa ke-55 yang digelar di kantor Kejati NTT, Rabu 22 juli 2015.

John mengungkapkan bahwa dalam menangani kasus korupsi pihaknya sangant profesional karena baru menetapkan tersangkanya setelah ada bukti permulaan yang cukup. Namun secara umum Kejati NTT memberikan perhatian yang khusus kepada kasus korupsi karena jumlah kasus korupsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kepada wartawan John memaparkan perkembngan penyidikan kasus korupsi di Kejati NTT dan jajarannya, yaitu 16 Kejaksaan Negeri dan 3 Cabang Kejaksaan Negeri.

John menjelaskan bahwa sampai dengan bulan Juli sudah ada 98 penyidikan kasus korupsi yang dilakukan pihak Kejati NTT dan jajarannya. Dari 98 kasus itu John menjelaskan bahwa kasus yang ditangani Kejati berjumlah 27 penyidikan, Kejari Bajawa 19 penyidikan, Kejari Oelamasi 10 penyidikan, Kejari Kupang 4 penyidikan dan sisanya ditangani oleh beberapa Kejari lainnya.

Dari 27 kasus yang ditangani Kejati tersebut ada 7 perkara MBR tahun 2012, 5 perkara MBR Dana Monev tahun 2013, 2 kasus BLBU, dan kasus PDT terkait pembangunan dermaga di kabupaten Alor dan Lembata. dari jumla itu7 kasus telah sampai ke tahap penuntutan, 5 kasus akan segera dilimpahkan ke pengadilan Tipikor Kupang, dan 6 kasus akan dilimpahkan di awal bulan Agustus mendatang.

Pada kesempatan itu, John memberikan penjelasan singkat terkait perkembangan kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani oleh Kejati NTT dan jajarannya. Untuk kasus tanah hibah di kabupaten Rote Ndao John menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih menunggu hasil perhitungan kerugian negara dari BPKP.

BPKP sendiri dalam laporannya kepada Kejati NTT mengungkapkan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman-pendalaman terhadap kasus tersebut untuk dibuatkan perhitungan kerugian negaranya. Terkait isu adanya pendekatan khusus yang dilakukan oleh para tersangka kasus bersangkutan kepada BPKP, John mengaku belum menemukan dna mengetahui adanya pendekatan-pendekatan demikian kepada BPKP dalam menghitung kerugian negara. John mengungkapkan bahwa pihaknya tetap berpikir positif dengan harapan agar BPKP tetap secara profesional mengerjakan perhitungan tersebut.

Terkait kasus Bansos TTS, John mengatakan bahwa dirinya telah memberikann perintah kepada Kejari Soe untuk secara cermat dan teliti mempelajari hasil putusan majelis hakim Tipikor Kupang atas salah satu terdakwa yang kini sudah divonis yaitu, Marthinus Tafui. Secara khusus terkait keterlibatan Wagub dan Bupati TTS, John mengungkapkan bahwa ada fakta-fakta persidangan yang tidak dimasukkan ke dalam putusan. Karena itu dia telah memerintahkan Kejari Soe untuk melakukan banding atas putusan kepada Marthinus Tafui itu.

Sedangkan untuk terdakwa kasus korupsi yang melarikan diri beberapa waktu lalu, Kalumban Mali, John mengungkapkan bahwa pihak Kejati tetap melakukan monitoring dan penyelidikan tentang posisi terdakwa. Kejati kini menggunakan sarana Adhyaksa Monitoring Centre (AMC) untuk melacak keberadaan Kalumban agar bisa ditangkap.

“Dengan peralatan canggih ini kami berharap dan optimis bahwa dia (Kalumban) bisa segera kami tangkap”, ungkap John. Kepada wartawan.

John juga memaparkan berbagai kendala yang saat ini sedang dialami Kejati NTT dalam menangani kasus korupsi. Di antaranya, Kejati hanya menerima biaya untuk menangani 5 perkara saja setiap tahunnya. Dengan jumlah kasus yang semakin meningkat maka anggaran itu dirampingkan agar biaya yang hanya diperuntukkan bagi 5 perkara itu bisa dipakai untuk 30 perkara.

“Kami, Kejati tidak akan mengeluh dan tetap mencari solusi agar persoalan ini bisa ditangani dan kinerja kami tidak berkurang”, ungkapnya. Selain itu, John juga menyampaikan harapannya agar seluruh aparat Kejaksaan bisa lebih profesional dan semakin meningkatkan kualitas SDM-nya.(*sari)