Polres Ngada diduga Asal Tetapkan Tersangka Soal Kematian Elisabet

foto  kelusrga yang keberatan di depan kantor Polres Ngada

foto kelusrga yang keberatan di depan kantor Polres NgadaK

Zonalinenenews Ngada – Tiga orang warga kampung Rakalaba, Desa Rakalaba Kecamatan Golewa Barat Kabupaten Ngada Flores, masing-masing Herman Mawo, Firmina Meo dan Yashinta Kristina Dhiu, Rabu 22 Juli 2015 mendatangi Polres Ngada di Bajawa mempertanyakan kepastian hukum status mereka yang digantung bertahun-tahun oleh Polres Ngada sebagai tersangka pembunuh ibu kandung mereka sendiri, almarhum Elisabeth Beku Raga (83th) 4 November 2012 lalu di Kampung Rakalaba Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Flores. Mereka meminta Polres Ngada segera mengeluarkan SP3 karena mereka bukan pembunuh sebeagaimana sangkaan pihak Polres Ngada.

Kepada wartawan Herman Mawo mengungkapkan pihaknya dijadikan korban oleh Kepolisian Polres Ngada karena Polisi dengan tau dan mau menjadikan mereka yang bukan pembunuh tetapi dijadikan sebagai tersangka pembunuhan.

“Harusnya Polisi kerja yang profesional agar bisa mengungkap siapa dalang dan siapa pelaku pembunuhan Ibu kandung kami almarhum Elisabeth Beku Raga (83). Polisi mengkriminalisasi kami yang adalah anak kandung dari korban dan dengan sengaja menetapkan kami sebagai tersangka pembunuh Ibu kandung kami sendiri. Kami telah diperlakukan dengan tidak adil oleh hukum hanya untuk memenuhi scenario tertentu dan juga untuk meluputkan pelaku yang sebenarnya. Kami sudah berusaha sedapat mungkin untuk membantu Polisi mengungkap kasus ini termasuk memberikan sidik jari bahkan sidik kaki dan sidik semuanya untuk bisa mendapatkan siapa pembunuh ibu kami tetapi malah ujungnya justeru kami dijebak dengan jeratan sebagai tersangka oleh pihak Polres Ngada”, ungkap Herman Mawo.

Dihimpun Zonalinenews, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Ngada pada tanggal 27 Februari 2013 kepemimpinan Kapolres AKBP. Daniel Yudoruhoro dengan dugaan pembunuhan motif ekonomi, setelahitu dilanjutkan dengan penahanan selama 120 hari dan dititipkan di Rutan Bajawa lalu dibebaskan kembali pada tanggal 27 Juni 2013 hingga saat ini. Meski sudah menghirup udara bebas di luar, hingga kini status hukum Herman Mawo, Firmina Meo dan Yashinta Kristina Dhiu, tetap berstatus tersangka oleh Polres Ngada.

Penelusuran Zonalinenews, perkara ini tidak pernah dilanjutkan ke tingkat Pengadilan Negeri Bajawa atas dugaan Polres Ngada tidak mampu memenuhi petunjuk Kejaksaan Negeri Bajawa yang meminta Penyidik Kepolisian mendapatkan saksi mata yang melihat, mendengar dan mengetahui secara sungguh-sungguh apakah benar ketiga tersangka adalah pembunuh ibu kandung mereka sendiri.

Dikeluhkan, rekonstruksi perkara yang digelar oleh Polres Ngada pada tanggal 28 Mei 2013 lalu dengan menurunkan sekitar 70 Anggota Polisi untuk penjagaan keamanan, mulai awal rekonstruksi hingga usai proses rekonstruksi pembunuhan, pihak Polres Ngada tidak melibatkan para tersangka, sebaliknya seluruh dugaan proyeksi pembunuhan langsung diperankan oleh Anggota Polisi Polres Ngada dengan alasan demi keamanan.

“Pada waktu rekonstruksi pembunuhan, kami tidak dilibatkan dan kami tidak tahu bahwa ada rekonstruksi pembunuhan kematian Ibunda kami. Polisi menahan kami dalam tahanan lalu mereka gelar rekonstruksi pembunuhan secara sepihak tanpa melibatkan kami yang sudah mereka tuduh sebagai pembunuh ibu kandung kami sendiri. Lalu salah satu anggota Penyidik Polres Ngada namanya Pa Rusnady pada tanggal 27 Februari 2013 sekitar jam 9.00 malam saat kami memberikan keterangan di ruang Reskrim Polres Ngada mengatakan bahwa kami ditangkap atas desakan para saksi dan pelapor. Polisi juga mendatangkan belasan orang saksi perkara ini yang sebagiannya tinggalnya di wilayah lain yang tidak tahu apa-apa lalu mereka membuat kesaksian palsu yang seolah-olah mengatakan kami lah pembunuh ibu kandung kami sendiri. Banyak hal yang tidak masuk akal dengan penetapan kami sebagai tersangka dalam kematian Ibu kandung kami ini”, tambah Herman Mawo.

Kepada wartawan ketiga tersangka menguraikan kehadiran mereka di Polres Ngada kali ini diterima di ruang Humas Polres Ngada oleh Polisi Jhon Riberu dan salah satu Anggota Penyidik Perkara ini yakni Polisi Rusnady. “Kehadiaran kami di Polres Ngada diterima oleh Polisi Jhon Riberu dan salah satu Anggota Penyidik Perkara yakni Polisi Rusnady. Menurut Polisi kami tetap berstatus sebagai tersangka karena mereka mempunyai tiga alat bukti perkara. Mereka tidak memberikan SP3 kepada kami dengan alasan sampai saat ini Polisi masih dalam proses menindaklanjut petunjuk Kejaksaan dan menurut mereka keputusan SP3 adalah keputusan pimpinan” ungkap Mawo.

Herman Mawo, Firmina Meo dan Yashinta Kristina Dhiu, meminta Polres Ngada mengeluarkan SP3 terhadap status mereka sebagai tersangka pembunuhan agar pihak penegak hukum Polres Ngada dapat bekerja profesional mengungkap siapa pelaku yang sesungguhnya. Kepada media ini, ketiganya mengungkapkan jika SP3 tidak diberikan mereka berencana untuk memPra-Peradilkan Polres Ngada atas tindakan kriminalisasi penetapan tersangka dalam perkara ini. Hingga berita ini diturunkan wartawan belum berhasil menemui Kapolres Ngada guna dimintai tanggapan terkait persoalan ini. (*wrn)