Daniel Riwu : Saya ditahan 12 Hari, di Suruh Minum Air Kencing

Dedi  Manafe (Batik Kuning ) Daniel Lay (tengah) dan Pendeta Nabunome

Dedi Manafe (Batik Kuning ) Daniel Lai Riwu (tengah) dan Pendeta Nabunome

Zonalinenews-Kupang, Saya ditahan 12 Hari di Polsek, di Suruh Minum Air Kencing,namun karena air kencing dan saya tidak bersalah, akhirnya saya masih tetap hidup sampai saat ini. Itulah Pengakuan Kepala Desa Mapipa Daniel Lai Riwu Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua di acara gelar beberapa kasus pemidanaan yang dipaksakan, berlangsung di Aula Fakultas Hukum Undana Kupang.

Acara ini diselenggarakan oleh Perkumpulan dan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi (PIAR) NTT, Bekerjasama dengan Komisi Nasional Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) serta Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang (Undana) Kupang Kamis 27 Agustus 2015 pukul 10.30 wita.

Kasus krimanilasi berawal ketika pada 31 Maret 2012 terjadi kasus hilangnya seorang anggota polisi di Mapipa. Pada saat kejadian Dirinya (Daniel Lai Riwu) sebagai kepala desa. Pada saat itu, diminta oleh pihak kepolisian untuk bersama-sama mencari anggota yang hilang.

“Sebagai kepala desa saya meminta warga laki-laki untuk bersama polisi mencari anggota tersebut dan menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Kami mengangkatnya ke mobil. Setelah itu saya dan sejumlah warga dibawa ke Polsek Sabu Barat. Pada hari pertamanya kami tidak apa-apa, namun dihari berikutnya kami diberikan surat penahanan dan sejak saat itu kami mengalami kekerasan dan penyiksaan. Selama 12 hari kami ditahan dan disiksa dan selanjutnya dibawa ke Polres Kupang. Saya sempat dipaksakan untuk minum air kencing,” Katanya.

Sementara itu Pendamping (Yang mendampingi para warga desa Mapipa) Pendeta Sodi Nabunome dalam kesaksiannya menjelaskan Pada awalnya polisi datang untuk mencari pelaku pencurian yang diduga berasal dari Mapipa. Kasus pencurian terjadi di Sabu Timur yang berjarak sekitar 25 kilo meter dari Mapipa. “ Lalu para pelaku di tahan sementara di Polsek Sabu Timur dan selanjutnya ada tahanan yang bunuh diri dalam tahanan dengan menggunakan kainnya. Kasus bunuh diri ini tidak menjadi perhatian serius. Selang seminggu kemudian kata pendeta Sodi, polisi datang lagi ke Mapipa untuk mencari pencuri yang lainnya lagi. Dan pencarian inilah yang mengakibatkan hilangnya seorang polisi,” ujarnya.

Pendeta Sodi Nabunome menjelaskan, Polisi datang ke rumah duka dimana ada berkumpul warga dan meminta untuk bersama-sama mencari polisi yang hilang. Dalam pencarian ditemukan polisi yang hilang itu dan sudah tidak bernyawa. Warga yang ikut mencari polisi yang hilang ini, semuanya dibawa dan ditahan di Polsek.

“Sebagai pendeta, saya mencoba meminta kesempatan untuk bertemu dengan para warga yang ditahan, namun tidak berhasil. Informasi kami dapat adalah mereka disiksa. Kondisi di Mapipa saat itu sudah tidak ada lagi warga laki-laki. Karena sangat takut atas tindakan polisi. Dimana polisi yang datang ke kampung Mapipa itu sekitar 400-an orang yang langsung dipimpin Kapolres Kupang M. Slamet.(Kapolres saat itu),”tambahnya.

Sodi menambahkan dirinya berusaha untuk meminta bantuan ke berbagai pihak dan pihaknya dapat bantuan dari Piar NTT Sarah Lery sehingga membantu bertemu dengan ke Komnas HAM dan PGI Pusat.

Berikut kutipan (tanya jawab) Narasumber dan Korban serta Tanggapan para ahli selaku narasumber pada acara gelar kasus pemidanaan yang dipaksakan terkait persoalan Kasus Mapipa Sabu Raijua

Dedi Manafe (Kepala Pusham Fakultas Hukum Undana)

Apakah Bapak Daniel waktu di periksa didampingi oleh pengacara?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Saya tidak didampingi oleh pengacara saat diperiksa namun pada saa persidangan ada didampingi namun saya sudah sebagai saksi lagi dan bukan tersangka.

Dedi Manafe (Kepala Pusham Fakultas Hukum Undana)

Apakah Bapak Pdt yang memfasilitasi untuk mendapatkan pengacara bagi para tersangka?

Pdt Sodi Nabunome (Pendamping)

Saya tidak memfasilitasi untuk sampai dapat pengacara karena lebih fokus untuk mereka yang ada di Sabu

Dedi Manafe (Kepala Pusham Fakultas Hukum Undana)

Apa harapan bapak Daniel dengan kasus yang terjadi ini

Daniel Lai Riwu (Korban)

Semoga ada perubahan atas penegakan hukum. Dan saya tidak dendan terkait dengan kasus ini.

Dedi Manafe (Kepala Pusham Fakultas Hukum Undana)

Aparat sesungguhnya telah melakukan pelanggaran dalam penanganan kasus ini.

Asril (Pakar Hukum)

Pada saat diperiksa polisi apa yang ditanyakan?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Terkait dengan apa yang dilakukan oleh pelaku dan kami dipaksa untuk mengakui.

Asril (Pakar Hukum)

Apakah masalah penyiksaan sempat diangkat dalam proses persidangan ?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Masalah penyiksaan tidak diangkat dan pengacara juga tidak menganggkatnya. Pengacara ditunjuk oleh keluarga bukan dari polisi.

Asril (Pakar Hukum)

Kasus ini sebenarnya mengarah kepada kasus penyiksaan terhadap para tersangka ataupun pada warga lainnya yang di tahan. Bapak Daniel ditahan selama 120 hari, apakah setelah itu ada pemeriksaan ?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Ada pemeriksaan, karena kami sempat ditahan lagi di Polres Kupang Babau dan juga dititipkan ke LP. Kami juga menolak memberikan keterangan lagi ke penyidik.

Asril (Pakar Hukum)

Apakah di Polres juga ada penyiksaan?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Tidak ada penyiksaan di Polres

Mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, (PPATK) Husein SH LLM

Dalam kasus ini ada banyak hal yang dilanggar,baik atas UUD maupun terkait dengan prinsip praduga tak bersalah. Banyak juga aturan lain yang dilanggar, termasuk dengan KUHAP. Kasus ini terjadi pada tahun 2012 dan sesungguhnya pada tahun 2011 itu sudah ada UU Bantuan Hukum.

“Tadi Bapak Daniel cukup mulia dalam sikapnya yang tidak dendam. Namun sesungguhnya menurut hukum, Bapak Daniel bisa menuntut ganti rugi dan rehabilitasi. Hal ini untuk mencegah agar kasus seperti ini tidak terulang lagi. Bahakan polisi yang menjadi pelaku penyiksaan harusnya dipublikasikan dan atasannya wajib mengetahuinya,”pintanya.

Dedi Manafe (Kepala Pusham Fakultas Hukum Undana)

Meskipun Bapak Daniel sudah memaafkan, namun jika selesai kegiatan ini dan dilakukan kajian mendalam dan kita melakukan tuntutan apakah Bapak siap mendukung?

Daniel Lai Riwu (Korban)

Saya siap jika itu untuk mencegah kasus seperti ini tidak terjadi.

Demikian kutipan wawancara antara korban dan para Narasumber (*tim)