JERIKO SEBUT NTT BUTUH AKSELERASI KHUSUS

Para civitas Universitas Undana Kupang poses bersama Komisi X DPR RI

Para civitas Universitas Undana Kupang poses bersama Komisi X DPR RI

Zonalinenews-Kupang, Stigma Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai propinsi terbelakang dan tertinggal tidak benar. Banyak potensi kekayaan dan sumber daya yang luar biasa, namun belum digali secara baik. Perguruan Tinggi sebagai kumpulan ilmuwan memiliki tanggungjawab untuk menggali dan menyiapkan potensi tersebut untuk dimanfaatkan secara baik, ucap Nuroji Wakil Ketua Komisi X DPR RI dalam temu ilmiah bersama Rektor Undana, Unwira, Unkris, Direktur Politeknik, Politeknik Pertanian, Politeknis Kesehatan, dan Ketua Sekolah Tinggi di aula rapat utama Senat Unversitas Nusa Cendana siang tadi di Kupang 11 Juni 2015.

Nuroji hadir dalam rangka melakukan Kunjungan Kerja Komisi DPR RI bersama rombongan DPR yang diikuti Jefri Riwu Kore, Isma Yatun, Junico Siahaan, Vena Melinda, dan sejumlah tenaga ahli DPR RI.

Rektor Undana Profesor Fredik Benu dalam bicaranya menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi Undana dalam meningkatkan kualitas pendidikan di NTT. Salah satunya terkait sumber daya dosen yang masih kurang. Fred mengaku kesulitan meningkatkan kualitas dosennya ke tingkat yang lebih tinggi seperti jenjang magister dan doktor karena ada kebijakan yang mengatur jika dosen hanya boleh mendapat ijin belajar selang 60 KM jauhnya. Sedangkan pendidikan tinggi yang menyediakan jenjang pendidikan tersebut semuanya ada di pulau Jawa. Itu hal yang tidak mungkin Karena para dosen juga tidak mau meninggalkan waktu mengajar mereka. Selain itu persoalan umur juga menjadi kendala karena tugas belajar maka sertifikasi dosen akan hilang.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Undana Max U. E. Sanam mengiyakan yang disampaikan Rektor Undana. Menurutnya, para dosen kebanyakan akan memilih untuk tidak melanjutkan sekolah karena hampir sebahagian dosen berharap pada tunjangan sertifikasi. Jika sertifikasi hilang maka akan menambah beban biaya untuk keluarga dan anak-anak mereka untuk bersekolah. Seharusnya Dikti perlu berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas SDM dosen namun tidak ada usaha dikti untuk mendorong kualitas SDM dosen, buktinya dengan aturan melarang dosen untuk melakukan tugas belajar jika lampaui batas jarak yang ditentukan, tutup Max peraih cumlaude doktor di UGM Jogjakarta ini.

Jefri Riwu Kore anggota DPR dari Fraksi Demokrat berjanji akan mengawal dan meminta Kementerian untuk mengkaji ulang kebijakan peningkatan kualitas SDM dosen. Jefri beranggapan tidak mungkin kualitas mahasiswa baik jika tidak didorong oleh peningkatan SDM dosen. Oleh karena itu, Jefri akan melakukan koordinasi bersama pihak terkait melalui DPR dan Kementerian dikti untuk membut kebijakan yang pro kualitas pendidikan tinggi.

Jeriko panggilan Jefri berpesan pada peserta temu ilmiah untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung pemikirannya agar di NTT ada akselerasi khusus. Maksudnya, perbaikan kualitas pendidikan di NTT bukan pada esensi kuantitas (jumlah) tetapi kualitas. “tidak mungkin satu juta di Jawa sama dengan satu juta di NTT, harga semen 50 ribu di Jawa tidak sama harga semen di NTT. Itu sebabnya didorong agar NTT masuk dalam program akselerasi khusus baik dari segi infrastruktur pendidikan, kurikulum, dan tunjangan, sebut Jefri.

Isma Yatun anggota DPR RI dari Fraksi PDIP berjanji akan sepenuhnya membantu NTT dalam mendorong anggaran pendidikan tinggi dalam posisinya sebagai anggota Badan Anggaran DPR RI. “Saya juga mohon bantuan pak Jefri untuk membantu saya mengkaji persoalan-persoalan pendidikan tinggi di NTT,” tutupnya.

Ian Haba Ora juru bicara Jeriko Center menyanggupi untuk membantu dalam menyiapkan langkah-langkah taktis Jefri Riwu Kore untuk mendorong kualitas pendidikan tinggi di NTT, khususnya dari segi tugas Jeriko sebagai anggota Komisi X DPR RI, ujar Ian.

Temu ilmiah tersebut juga dihadiri oleh para stakeholder civitas akademika yang terdiri dari para pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, dan pengurus organisasi kemahasiswaan. (*tim)