Masalah Gizi Buruk di Perjuangkan Kaukus Parlemen Perempuan

Gusty Kanjeng Ratu Hemas

Gusty Kanjeng Ratu Hemas

Zonalinenews-Kupang, Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta bersinergi dengan semua elemen termaksud Ormas perempuan demi memperjuangkan pengentasan masalah Gizi Buruk dan kekurangan air bersih yang terjadi di Provinsi NTT. Hal tersebut disampaikan ketua Presidium Nasional Kaukus Perempuan Republik Indonesia (KPP-RI), Kanjeng Gusty Ratu Hemas, dalam kegiatan  Lokakarya menggagas pembentukkan Kaukus Perempuan Parlemen Provinsi NTT, di ruang Kelimutu DPRD NTT, Kamis, 20 Agustus 2015

Kegiatan tersebut dihadiri, yang mewakili Gubernur NTT Kaban Pemberdayaan Perempuan Provinsi NTT, Erni Usboko, penanggung jawab Kepanitiaan, Rambu Atanau Mella, wakil ketua KPP Provinsi NTT, Aleta Baun, yang mewakili ketua DPRD NTT, Yucundianus Lepa, perwakilan Ormas Perempuan dan anggota Dewan Perempuan dari Kabupaten/Kota se-NTT.

Gusty Kanjeng Ratu Hemas, pada kesempatan itu mengatakan, persoalan urgen yang terjadi di NTT saat ini adalah masalah Gizi Buruk dan kekurangan air bersih. Masalah Gizi buruk disebabkan karena kekeringan, kemiskinan, Rawan pangan, dan persoalan lain yang terjadi pada level rumah tangga. Persoalan ini sangat dekat bahkan dekat sekali dengan perempuan dan anak-anak. Bersadarkan data Badan ketahanan pangan yang dikantonginya menyebutkan jumah korban meninggal akibat Gizi Buruk di NTT selama tahun 2015 mencapai 11 orang yang sudah terdata, terdapat 1000 Jiwa di NTT yang saat ini mengalami masalah Rawan Pangan dan semuanya didominasi perempuan dan anak-anak.

Dirinya meminta kepada Kaukus Perempuan Parlemen Provinsi NTT agar memperhatikan semua persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan berjuang untuk menemukan solusi untuk memecahkan semua persoalan yang terjadi. Peran Kaukus Perempuan Parlemen harus berada pada level perjuangan kebijakan politik untuk kepentingan perempuan dan anak. Kebijakan perempuan dalam politik melalui Kaukus Perempuan yang beranggotakan Parlemen perempuan harus mampu melahirkan kebijakan yang benar-benat pro kepentingan perempuan dan anak. Kebijakan ketahanan pangan yang bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah Rawan pangan dan gizi buruk yang terjadi.

Direktur Yayasan Sanggar Suara Perempuan Soe, selaku penanggung jawab kepanitiaan Rambu Atanau Mella, menyampaikan laporan kepanitiaan menjelaskan, NTT saat ini marak dengan masalah Trafficking dengan korbannya adalah Perempuan dan anak, angka kekerasan seksual yang meningkat, kematian Ibu dan anak yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan Perempuan NTT belum terlindungi dari sisi kesejahteraan. Keberadaan Kaukus perempuan parlemen . “Untuk bersinergi dengan semua stakeholder terkait untuk memperjuangkan kepentingan perempuan dan anak-anak NTT,”jelasnya.

Ia berharap agar Kaukus perempuan parlemen bersinergi dengan semua pihak mulai dari eksekutif, Tokoh Agama, Adat, dan semua stakeholder terkait guna memecahkan permasalahan yang terjadi. “Peran anggota Parlemen perempuan menentukkan anggaran terkait kepentingan perempuan harus ditunjang dengan pengetahuan persoalan perempuan NTT,” jelasnya.

Yucundianus Lepa, dalam sambutannya, mengatakan, masalah perempuan dan anak di NTT sangat Krusial sehingga dibutuhkan penanganan serius dan suatu upaya sinergis dalam menemukan jalan keluarnya. Kaukus perempuan parlemen diharapkan menjadi elemen yang bisa bersinergi dengan pemerintah, Dewan sendiri dan juga semua pihak terkait. Dalam loka karya juga diharapkan agar bisa menghasilkan gagasan-gagasan yang bermanfaat untuk pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di NTT. (*tim).