Menperin Sebut Indonesia Surga Kuliner

 Menteri Perindustrian Saleh Husin menggunting pita bersama Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Chief Supply Chain Officer Unilever Mr. Pier Luigi Sigismondi dan Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk Hemant Bakshi pada acara Peresmian Pabrik kecap dan Bumbu Masak PT Unilever Indonesia, Tbk di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, 25 Agustus 2015.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menggunting pita bersama Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Chief Supply Chain Officer Unilever Mr. Pier Luigi Sigismondi dan Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk Hemant Bakshi pada acara Peresmian Pabrik kecap dan Bumbu Masak PT Unilever Indonesia, Tbk di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, 25 Agustus 2015.

Zonalinenews- BEKASI,- Industri makanan dan minuman di Indonesia diakui turut menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Pasar yang besar dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa dan pasokan bahan baku lokal mendorong tumbuhnya industri ini.

Salah satu subsektor yang terus bergeliat adalah industri produksi kecap dan bumbu. Saat ini terdapat 94 unit usaha industri kecap dan 56 unit usaha bumbu masak skala menengah-besar.

“Kecap dan bumbu memperkaya Indonesia sebagai surganya kuliner. Nilai produksi kecap Rp 7,1 triliun dan untuk bumbu Rp. 7,2 triliun pada tahun 2014. Jadi totalnya Rp 14,3 triliun,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin saat meresmikan pabrik kecap dan bumbu PT Unilever Indonesia Tbk di Bekasi, Selasa 25 Agustus 2015.

Tercatat, serapan tenaga kerja industri kecap sebesar 8.500 orang dan industri bumbu masak 9.700 orang. Sedangkan untuk produk savoury (non MSG) pasarnya tumbuh sekitar 9-10%.

Secara umum, industri makanan dan minuman terus tumbuh. Pada semester I  2015 pertumbuhannya mencapai sebesar 8,46%. “Pertumbuhan industri makanan dan minuman itu  jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri non migas, yang sebesar 5,27% pada periode yang sama,” kata Menperin.

Sementara itu, ekspor produk makanan minuman  yang mencapai US$ 2.263,1 juta pada Mei 2015, naik 4,05% bila dibandingkan Mei 2014 yang sebesar US$ 2.175,0 juta.

Menteri Perindustrian juga mengungkapkan kontribusi industri ini terhadap PDB pengolahan non migas menyumban 31,20%. Meski demikian, diakui masih banyak permasalahan yang dihadapi oleh industri makanan dan minuman yang perlu diselesaikan  oleh kita semua.

Antara lain adanya kekurangan bahan baku dan bahan penolong, infrastruktur yang terbatas, kurangnya pasokan listrik dan gas, dan suku bunga yang tinggi untuk investasi. Dengan melemahnya nilai tukar rupiah akan mempengaruhi biaya produksi industri.

Untuk itu Pemerintah Pusat dan Daerah terus mengupayakan berbagai perbaikan di bidang iklim usaha penyediaan bahan baku dari lokal, penyediaan bunga bank yang bersaing, penyediaan insentif perpajakan untuk investasi, perbaikan infrastruktur, penyediaan listrik dan gas dan kebijakan lainnya yang dapat mempercepat pengembangan sektor industri

“Untuk menekan impor bahan baku, pemerintah terus mendorong perusahaan menggunakan bahan impor. Di sisi lain, mendorong konsumen mengonsumsi produk lokal agar industri kita kuat,” ujar Saleh Husin.

PABRIK KAPASITAS 330 RIBU TON

Pabrik kecap dan bumbu milik  Unilever Indonesia ini berkapasitas 330.000 ton per tahun. Nilai investasi mencapai Rp 820 miliar dan dibangun sejak 2013.

Pemerintah berharap berdirinya pabrik ini dapat mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman Indonesia. Menperin mengapresiasi ekspansi Unilever sebagai pembuktian komitmen meningkatkan nilai investasi dan menangkap peluang kebutuhan kecap dan bumbu masak instan.

“Kami akan terus meningkatkan investasi dan bekerja sama dengan petani Indonesia dalam memproduksi bahan baku,” kata Unilever Global Chief Supply Chain Officer, Pier Luigi Sigismond.

Tahun ini, Unilever menyiapkan investasi sebesar Rp 1,2 triliun rupiah, termasuk untuk pabrik kecap ini. “Unilever juga akan membangun industri oleokimia di Kawasan Industri Kuala Tanjung-Sei Mangke di Sumut. Investasi yang disiapkan sebesar Rp 2 triliun,” kata Director of Goverment and Corporate Affairs Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso. (*tim)