MILYARAN RUPIAH JEMBATAN ALOLONGGO RIUNG NGADA DIDUGA GAGAL KONSTRUKSI

JEMBATAN ALOLONGGO RIUNG NGADA

JEMBATAN ALOLONGGO RIUNG NGADA

ZONALINENEWS NGADA – Penanganan perkara dugaan proyek gagal konstruksi Jembatan Alolonggo di Kecamatan Riung Kabupaten Ngada, Flores hingga hari ini masih terhenti di meja Polres Ngada. Sumber media ini menyebutkan, dugaan kasus proyek jembatan yang menelan dana milyaran rupiah ini pernah ditangani oleh Unit Tipikor Polres Ngada namun perkembangan kasusnya tidak mengalami peningkatan apa-apa oleh Polres Ngada.

Dihimpun wartawan, Pembangunan Jembatan Alolonggo dikerjakan oleh pelaksana PT. Pesona Permai Indah KSO PT. Pesona Karya Bersama dengan nomor kontrak 630/PU/PPK/JBT – DPIPD/574/09/2010, 09 September 2010, SPMK No : 630/PU/PPK/JBT– DPIPD/583/09/2010. Anggaran Jembatan Alolonggo dikerjakan dari sumber dana Penguatan Infrastruktur dan Prasarana Daerah (DPIPD) yang dibebankan pada Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Penyempurnaan (DPPA) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ngada Tahun Anggaran 2010 Nomor:1.03.01/02/07/2010, 19 Juli 2010, dengan kode rekening: 1.03.01.15.05.5.2.3.22.03. Nilai kontrak proyek ini sebesar Rp. 2.339.557.000,00 (Dua Millyar Tiga Ratus Tiga Puluh Sembilan Juta Lima Ratus Lima Puluh Tujuh Ribu Rupiah).

Penelusuran Zonalinenews, pembangunan Jembatan Alolonggo Riung dilaksanakan dengan Adendum kontrak bernomor : ADD.II/630/PU/PPK/JBT–DPIPD/1070.2/12/2010, Tanggal 12 Desember 2010. Diteruskan dengan kontrak lanjutan 630/PU/PPK/BM/Kontrak–L/18/02/2011, Tanggal 23 Pebruari 2011. Sementaraitu dalam proses administrasi tertera Berita Acara Penyerahan Pekerjaan Tahap I (PHO) dengan nomor: 630/PU/PPK/JBT– DPIPD/209/08/2011, Tanggal 4 Agustus 2011, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ngada bertindak selaku Pengguna Anggaran untuk Tahun Angaran 2010 bersama Pejabat Pembuat Komitmen dan Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Pasalnya, setelah dilaksanakan serah terima pekerjaan tahap I (PHO) 100% oleh Pejabat Pembuat Komitmen pada tanggal 4 Agustus 2011 dan dilakukan pembayaran 100% melalui Berita Acara Pembayaran Nomor:BAP/PU-PJBT/07/08/2011, 23/8/2011, yang ditandatangani oleh pihak pertama Pengguna Anggaran Dinas Pekerjaan Umum Tahun Anggaran 2011 dengan Pihak Kedua Direktur Pesona Permai Indah KSO PT. Pesona Karya Bersama, fungsi guna Jembatan Alolonggo dengan ukuran Panjang 20,80 meter, ruas Soronggalung – Ranging – Alolonggo – Alokolang Riung Ngada tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat akibat gagal konstruksi.

Kepada media ini sejumlah warga mengadu bahwa selain gagal konstruksi, secara kuantitas panjang jembatan pun tidak sesui target kontrak yaitu 20,80 meter, sebab fakta lapangan hanya seukuran 18,4 meter. Sementaraitu terjadi juga penurunan balok struktur bentangan jembatan yang menyebabkan jembatan lengkung mencapai ±15 cm, berkemungkinan jembatan patah jika dilewati beban kendaraan. Tidak sebatas itu, fakta lain memperlihatkan tulangan besi pada balok beton jembatan Alolonggo sudah berada diluar bungkusan beton serta fondasi abudmen bangunan jembatan tidak digali lebih dalam atau terkesan gantung.

Mereka memastikan fondasi jembatan tidak digali lebih dalam dan hanya memiliki kedalaman sekitar 19 cm. Warga juga menyaksikan adanya upaya perbaikan yang dilakukan oleh pihak tertentu terhadap kondisi jembatan ini tetapi hal itu tidak menjawab keraguan warga bahwa Jembatan Alolonggo Riung memang sudah gagal konstruksi sejak awal pengerjaan bahkan perencanaannya. Jek, warga setempat menuturkan, upaya penghalusan melalui kompesasi cor beton untuk mengatasi jembatan yang retak dan patah ataupun upaya plesteran guna menutupi keretakan yang ada, justru semakin menambah keraguan bagi warga Riung untuk menggunakan jembatan ini. Pasalnya, tiang lening yang berjumlah 22 buah, semuanya telah rusak dan tiang pengaman dipasang bervariasi dengan jarak tidak seimbang.

Warga Daerah Riung lainnya, Yoseph Vladimir mengungkapkan, masyarakat Riung sangat kecewa atas kinerja kontraktor dan pemerintah dalam proyek ini, karena semenjak bangunan jembatan selesai dikerjakan masyarakat tidak dapat menggunakan jembatan akibat jembatan gagal konstruksi namun didiamkan begitu saja meskipun berulangkali warga Riung meminta para pihak diproses hokum atas kerugian Negara melalui proyek milyaran rupiah ini.

“Masyarakat berharap mendapat azas manfaat dengan dibangunnya jembatan ini tetapi justeru terbalik. Lebih buruk lagi selama pekerjaan jembatan, banyak material proyek diambil di lokasi pembangunan jembatan secara geratis, baik batu maupun pasir tanpa ada kontribusi langsung kepada masyarakat sekitar”, ungkap Yoseph.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat telah berupaya melaporkan peristiwa ini melalui pemerintah mulai tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten bahkan kepada Aparat Penegak Hukum, namun tidak ada tindakan hukum untuk memberi efek jera kepada pihak-pihak yang terlibat mengerjakan jembatan diduga asal jadi ini. (*wrn)