Diduga di Caci Maki Kadis Parekreatif Alor Undur Dari Jabatan

Dra. Sri Inang Enga

Dra. Sri Inang Enga

Zonalinenews-Kupang, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadis Parekreatif) Kabupaten Alor, Dra. Sri Inang Enga, secara resmi meletakan jabatannya Senin 31 Agustus 2015. Penguduran diri tersebut surat resmi kepada Bupati Alor, Drs. Amon Djobo, dan tembusannya dikirim ke Presiden RI di Jakarta hingga pimpinan SKPD Alor.

Berikut kronologis pengunduran diri Dra Sri Inang Enga lewat surat yang diterima redaksi zonalinenews Jumat 4 September 2015 , disampaikan perwakilan Keluarga Besar, Lomboan Djahamou :
Pada kegiatan bulan April 2015 untuk pertama kali saya dimarah-marah dan dicaci maki oleh Bupati Alor Drs. Amom Djobo saat bersama tamu (Staf Fasilitator Pelatihan Pembuatan Film dari Jakarta) “My First Movie” Yang didukung oleh Bank Nasional Indonesia 46 dari Jakarta.

Cacian dan makian kedua yang saya terima dari Bupati Alor, Drs. Amom Djobo pada hari jumat pagi minggu kedua dibulan Juni 2015, saya di panggil Bupati Alor, Drs. Amon Djobo menghadap ke ruangan Bupati dihadapan seoarang Anggota DPRD Sdr. Mulyawan Djawa dan Kabag Hukum SETDA Kabupaten Alor.

Awal mulanya tanggal, 31 Juli 2015 Saya Kadis Parekraf Kabupaten Alor dan Sdr. Adi Gerimu dari Pihak FAI sebagai penyelenggara mendampingi Bupati Alor mengikuti konferensi Pers yang difasilitasi oleh Kadis Parekraf Provinsi NTT di Kupang bersama berbagai media cetak elektronik dan on line.  Selanjutnya rencana Audiens dan konferensi pers dengan Mentri Pariwisata di Jakarta yang telah didahulukan dengan penjadwalan waktu pelaksanaan yang disesuaikan dengan Waktu Bupati Alor dan Waktunya Mentri dimaksud. Hasil negosiasi tersebut disepakati akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2015 Jam 10.00 WIB sampai selesai di Balai Room Gedung Sapta Peseona Kementrian Pariwisata RI di Jakarta.

Rencana Audiens dan Konfrensi Pers tersebut diikuti oleh Bupati Alor didampingi oleh Kadis Parekraf Kabupaten Alor.
Setelah acara resepsi Kenegaraan tanggal 17 Agustus 2015 Jam 21.00 WITa, saya bertemu dengan Bupati Alor (Sdr. Drs. Amon Djobo) dirumah Jabatan Bupati dan saya menyampaikan sebagai berikut :
Saya: berhubung anak saya sakit, maka saya tidak bisa mendampingi Bupati Alor Untuk melaksanakan perjalanan ke Jakarta dalam kegiatan dimaksud. Dan sebagai penggantinnya saya tugaskan Kabid. Promosi sabagai dapur dua kegiatan besar yakni FAI dan FBA.
Bupati: “itu siapa lagi???”
Saya: itu Yapi Lau Kabid Promosi.
Selanjutnya pada tanggal 18 Agustus 2015 sore menjelang malam, Bupati Alor menelpon saya, saat itu saya sedang malaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslimah kepada Allah SWT, yakni Sholat Magrib, Zikir, Mengaji yang dilanjutkan dengan Sholat Isya. Pertanyaannya adalah Bagaimana saya dalam keadaan Sholat/Ibadah saya harus mengangkat telpon. Bupati sebagai seorang Pimpinan harusnya mengerti dan mengetahui perilaku pelaksanaan hal-hal dasar yang dimiliki oleh setiap umat beragama di Kabupaten Alor. Selain Bupati Alor, Sdr. Merlis Kelendonu dan Boby (Ajudan Bupati) juga menelpon saya, sehingga setelah selesai melakukan Shalat/Ibadah saya langsung menelpon ke Sdr. Merlis Kelendonu :
Saya: ada urusan apa Bapak Bupati menelpon saya?
Merlis Kelendonu: Bupati mau tanya siapa yang mendampingi Bupati berangkat ke Jakarta untuk audiens dan pers konfrense dengan Menteri Pariwisata?
Saya: yang akan mendampingi Bapak Bupati ke Jakarta itu KABID Promosi
Merlis Kelendonu: oh iya, nanti saya sampaikan ke Bupati

Setelah mengakhiri pembicaraan saya dengan Merlis Kelendonu, saat itu juga saya menghubungi KABID Promosi dan memerintahkan agar besok mendampingi Bapak Bupati ke Jakarta.

Pada tanggal 19 Agustus 2015 setelah Sholat Subuh, saya melihat ternyata ada panggilan tak terjawab di telepon genggam saya dari Bupati Alor. Drs Amon Djobo, panggilan tersebut tercatat tgl 18 Agustus 2015, Jam 23.00 WITa malam, pada saat itu saya sudah tertidur.

Kemudian kurang lebih jam 07.30 Kabid Destinasi Sdr. Osias Gomang Ani, SE, MM. Mengirim Pesan Singkat “Mohon ijin kepada saya sebagai Kadis untuk membawa materi Audiens dan Konferensi Pers untuk diserahkan kepada Bupati.”

Beberapa menit kemudian Sdr. Osias Gomangani Menelpon saya.
Osias: “mama Pak Bupati mau bicara”.
Saya: ooow… iaaa…
Bupati Amon Djobo dengan spontan dan langsung berkata: “kamu yang punya program, kamu yang punya kegiatan, kamu yang punya rencana baru kamu tidak pergi (maksudnya menemani Bupati ke Jakarta), orang telepon-telepon kamu juga, kamu tidak angkat, bodoh, kambing, kerbau, babi!!!”.
30 menit kemudian SEKDA menelpon kepada saya:
SEKDA: bah….. ibu ada apa eee…
Saya: kenapa Bapak?
SEKDA: Tidak, Bupati ada panggil saya ko marah-marah suruh bikin Surat PLT kasi Sek ni.
Saya: bapak buat saja, itu perintah pimpinan jadi buat saja!!
SEKDA: yo…, tapi cerita dulu, dia pung masalah apa jadi pak Bupati sampe marah-marah begini!!!
Saya: bapa ini sudah konsekwensi atas keputusan yang saya ambil untuk keselematan anak saya, jadi bikin saja la.. bapa, pimpinan yang perintah jadi bekin saja!!!
SEKDA: yooo… baek sudah, baek-baek eee…..!!!

Sekitar Jam 10.00 WITa. (pagi) Bupati menelpon saya langsung dari telepon genggamnya dan berkata :
Bupati: kk, ada dimana???
Saya: bapa saya ada dirumah, pusing jadi ada ijin tidak masuk kantor!!!
Bupati: jadi kk, tadi pagi itu saya emosi sekali jadi saya sudah terlanjur tandatangan surat PLT kepada sekretaris, jadi kk jangan masuk kantor sampe saya kembali, hari senin selasa saya cabut kembali itu surat baru kk masuk!!!
Saya: terusin saja la… bapa, saya tidak apa-apa, saya tidak masalah!!!
Bupati: Ai… tidak kk, ini karena kita su omong kita tidak laksanakan nanti orang bilang apa!!!
Saya: tidak masalah bapa, saya aman, lanjutkan saja bapak!!!
Bupati: yo… sudah jadi nanti kasitau mas aris (suami saya) jangan tersinggung eee….!!!

Siangnya, sekitar jam 12.00 WITa, Ibu Yurike (Kabid Mutasi BKD alor) mengirim pesan singkat Yurike: mama saya bisa bicara kow….!!!
Saya: Tdk jawab!!!
Beberapa saat kemudian Sdr. Yurike menelpon.
Yurike: mama, pak Bupati ada marah-marah jadi sudah suruh bikin surat PLT!!!
Saya: sudah la… atur saja la…, itu barang pimpinan yang perintah jadi bikin saja la…!!!
Yurike: SEKDA dorang juga kasih pertimbangan salah-salah tidak betul jadi…!!!
Saya: eee… sudah la… mama ni aman-aman saja laaa…., bekin saja la…!!!

Sore sekitar jam 16.00 WITa, Ibu Yurike menelpon kembali.
Yurike: sore mama, saya sudah kasih pertimbangan dibapa mama, jadi kayaknya bapa juga sudah terima kita punya pertimbangan mama!!!
Saya: eee… sudah la… ma ike, bikin saja la….., mama ni aman jadi sudah la….!!!
Yurike: ai tidak mama, saya sudah kasih pertimbangna di bapa jadi kita tidak kasih keluar karena berdasarkan Undang-undang ASN itu tidak bisa mama!!!
Saya: eee…, sudah la….!!!

Pada tanggal 20 Agustus 2015 siang hari, KABAG KESRA bertemu dengan saya di rumah saya dalam urusan yang lain, dan KABAG KESRA juga menyampaikan bahwa pada apel pagi tadi di Kantor SETDA Kabupaten Alor, Bapak SEKDA dalam arahannya menyampaikan juga bahwa KADIS Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah di PLT kan kepada Sekretaris. Hal itu kemudian mendapat respon dari seluruh sanak saudara dan sahabat baik yang PNS atau non PNS dengan menanyakan kebenaran informasi ini karena sudah menjadi konsumsi publik dan oleh karena suami saya sementara melaksanakan tugas partai di Jakarta maka saya belum bisa menanggapi respon keluarga dan sahabat tersebut walaupun Bupati dan Ibu Yurike (Kabid Mutasi BKD alor) sudah menelpon saya.

Pada tanggal 24 Agustus 2015 pagi jam 10.28, Ibu Yurike (Kabid Mutasi BKD alor) mengirim pesan singkat kepada saya.
Yurike: Pagi mama, kalo ada orang yang tanya tentang surat perintah, mama bilang saja tidak pernah ada eee mama!!!
Saya: Iya, tapi sebaiknya itu surat tu kasi ma’ Inang yang pegang dari pada ma’ ike yang pegang nanti orang tanya-tanya ma’ ike!!!
Yurike: Agenda nomor surat kami ganti mama, jadi kalo orang ke saya saya bilang saja tidak pernah ada surat itu mama
Saya: ya.. sudah la…!!!

Pada malam hari tanggal 24 Agustus 2015 setelah mengikuti acara pelepasan Mahasiswa UGM di Rumah Makan Resto Mama (Rumah Makan itu depan rumah saya), tiba-tiba Bupati menelpon saya :
Bupati: kaka maaf ya, tadi saya mau singgah di rumah tetapi banyak pejabat nanti mereka ikut jadi saya telpon saja
Saya: oh iya Bapak, tidak apa-apa
Bupati: kaka, besok masuk kerja ko pimpin rapat bagi tugas untuk kerja bulan depan
Saya: tidak, saya tidak melaksanakan tugas sebagai KADIS tetapi sebagai staf, ini keputusan pribadi dan keluarga
Bupati: Keluarga-keluarga apa , saya ini yang Bupati
Saya: Karena Bapak yang Bupati jadi Bapak tunjuk staf yang mampu saja, karena saya tidak mampu

Dan di malam yang sama, beberapa waktu sebelum Bapak Bupati menelpon saya, tiba-tiba saya didatangani KABAN KESBANGPOL (Ilham Duru) ke rumah pribadi saya :
Ilham Duru: besar kirim salam mohon maaf
Saya: besar siapa? Kaka Imran (Wakil Bupati Alor )?
Ilham Duru: Bukan, tetapi Garuda 1 Alor
Saya: tidak, ini keputusan saya dan keluarga, saya tidak akan menerima jabatan KADIS PAREKRAF lagi.

Pagi hari tanggal 25 Agustus 2015 saya bersama keluarga besar saya ke kantor BKD Kabupaten Alor untuk menyampaikan permintaan keluarga yaitu :
Meminta surat PLT yang sudah ditanda tangani Bupati Alor
Menyampaikan secara resmi bahwa saya tidak akan menerima kembali jabatan KADIS.
Karena desakan keluarga, maka KABAN BKD (Sdr. Drs. Sony Alelang) menjelaskan bahwa memang pemerintah Bupati sudah kami laksanakan, kami sudah proses dan sudah ditandatangani Bupati,  dan waktu kami bawa surat itu untuk ditandatangani, kami juga sertakan dengan aturan-aturan yang tidak membolehkan PLT, tetapi Bupati tetap tanda tangan (Pernyataan KABAN BKD ini juga turut disaksikan langsung oleh awak media).
Dari semua kronologis yang saya sampaikan diatas, yang lebih membingungkan saya adalah point kedua karna saya tidak tau dan tdk mengerti kesalahan saya yang sebenarnya.

Maka dari kronologis tersebut diatas saya merasa kecewa, terhina, tersinggung, merasa dilecehkan, dan sakit hati sebagai seorang perempuan, seorang istri, sebagai seorang ibu, dan sebagai Hajah sudah di injak-injak harkat dan martabatnya.

Untuk itu dengan segala apa yang telah saya rasakan seperti yang sudah saya disampaikan diatas, saya merasa saya tidak mampu dan tidak sanggup lagi bekerjasama dengan Pimpinan Daerah Bupati Alor (Sdr. Drs. Amon Djobo). (*tim)