Menenun Dapat Tingkatkan Ekonomi Rumah Tangga di Kabupaten SBD

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Ratu Bonu Ngadu Wulla Talu

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Ratu Bonu Ngadu Wulla Talu

ZONALINENEWS – Tambolaka, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Ratu Bonu Ngadu Wulla Talu sangat yakin dengan  menenun kain adat  para kaum wanita atau ibu rumah tangga di Kabupaten SBD dapat meningkatkan ekonomi bagi kaum ibu rumah tangga. Menurutnya, saat ini kain tenun adat Kabupaten SBD sangat digemari oleh pasar dari dalam negeri dan luar negeri.

“Permintaan kain tenunan adat Kabupaten SBD dipasaran dari waktu ke waktu makin meningkat karena kain tenunan Kabupaten SBD dilakukan masih secara manual dengan tangan para wanita atau ibu rumah tangga di Kabupaten SBD. Selain keaslian bahannya kain tenun adat Kabupaten SBD digemari pasar dari dalam negeri dan luar negeri karena kain tenunan adat Kabupaten SBD memiliki banyak motif yang mempunyai makna di Kabupaten SBD,” kata Ketua Dekranasda Kabupaten SBD Ratu Bonu Ngadu Wulla Talu kepada wartawan diruang kerjanya, 30 September 2015 pukul 10.30 wita.

Selain memiliki kain tenunan yang berbahan benang ungkap, Ratu Bonu Kabupaten SBD juga masih memiliki kain tenun asli berbahan dari kapas yang berasal dari suku kodi. “Kain gundu adalah nama kain tenunan yang berasal dari suku kodi di Kabupaten Kupang yang mana kain tersebut terbuat dari bahan dasar tumbuhan kapas asli yang di pelintir sehingga menjadi benang. Dan kain gundu sendiri mempunyai keaslian warna, yang mana dari kapas yang sudah menjadi benang itu direndam dengan bahan pewarna yang dibuta dari tumbu – tumbuhan yang ada sehingga warna kain gundu sendiri tidak mudah pudar atau luntur,” jelas istri Bupati Kabupaten SBD itu.

Ia mengatakan, untuk memajukan dan mengakat nama kain tenunan asal Kabupaten SBD saat ini dirinya sering melakukan kegiatan – kegiatan pelatihan menenun bagi wanita atau para  ibu rumah tangga di tga suku besar yang ada di Kabupaten SBD. “Pelatihan menenun bagi para wanita atau ibu rumah tangga terus saya lakukan sehingga ketika permintaan pasar mulai meningkat stok barang pun tetap ada. Sedangkan untuk kain gundu sendri kedepannya harus produksi terus. Bahkan saya berencana untuk para wanita dan ibu rumah tangga yang ada di tiga suku besar di Kabupaten SBD diwajibkan untuk membuat kain gundu sehingga kain gundu ini sendiri bukan hanya didapati dari suku kodi tetapi juga ada pada dua suku lainya yaitu suku Wewewa dan suku Loura. Bahkan kedepanya saya punya kenginan untuk hasil karya para ibu – ibu rumah tangga di Kabupaten SBD ini tidak lagi membuat kain tenun yang biasa atau yang berbahan benan. Tetapi semua diwajibkan membuat kain gundu sehingga dampak dari keasliannya kain ada Kabupaten SBD itu lebih ditonjolkan,” ungkap wanita alumni Universitas Mataram (Undram) itu dengan penuh semangat.

Ia juga berharap, para ibu rumah tangga sang pengrajin kain tenun harus terus semangat menenun. Sehingga apa yang menjadi kenginan bersama untuk meningkatkan ekonomi para ibu rumah tangga bisa berjalan dengan baik. Dan dirinya juga bertekat untuk terus membimbing  para pengrajin tenun dengan cara melakukan kegiatan – kegiatan pelatihan. “Saya selalu siap untuk mendampingi ibu – ibu pengrajin ini dalam melakukan kegiatan – kegiatan pelatihan. Karena kesuksesan mereka adalah kesuksesan kita juga. Tetapi yang terpenting bagi saya kesuksesan mereka itu bisa merubah atau bisa meningkatkan ekonomi masing – masing ibu rumah tangga,” ujar mantan aktifis perempuan itu. (*hayer)