Menjaga Citra Pariwisatsa NTT Dengan “Program NTT Terseyum”

Mempersiapkan NTT Sebagai Jembatan Emas Destinasi Wisata Dunia

Kadis Pariwisata NTT

Kadis Pariwisata NTT

Zonalinenews-Kupang, Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam banyak hal telah berusaha untuk menjaga citra pariswiata NTT dengan menemukan kembali berbagai tradisi yang pernah ada, suatu proses yang tetap menjaga tradisi-tradisi yang dimunculkan dengan legitimasi traduisi lama atau susastra agama yang sesungguhnya adalah adaptasi, reinterpretasi dan rekontekstualiasi terhadap situasi yang sedang brrkembang. Dalam konteks tertentu, rakyat NTT sedang membangun suatu dialog antara orientasi keluar (internasionalisasi) dengan orientasi ke dalam (tradisionalisasi-indigenisasi). Tradisi atau elemen budaya baru yang ditumbuhkembangkan, bukan saja untuk kepentingan pariwisata, tetapiu (bahkan lebih sering) adalah untuk dikonsumsi oleh masyarakat sendiri.

Rakyat NTTmemiliki citra dan tradisi khusus yang harus tetap dijaga sehingga rakyat NTT tetap menjaga citra NTT dengan program NTT Tersenyum sebagai suatu upaya realistis sebagai sebagai suatu daya tarik dn daya dorong bagi wiasatatawan nusantara dan wisatawan mancanegra. Provinsi NTT dengan keunikannya, adalah suatu masyarakat moderen yang masih bersifat tradisional. Ke depan rakyat NTT diharapkan mampu menjadi “laboratorium sosial budaya dan pariwisata yang tidak mendikotomikan pariwista dengan kebudayaan lokal, berbagai pandangan modernistis yang menghipotesiskan hancurnya kebudayaan lokal karena pengaruh pariwisata adalah suatu pandangan yang keliru. Kasus Bali menunjukkan bahwa meskipun berbagai gejala erosi kebudayaan terjadi, tetapi pariwisata lebih berperan sebagai pelestari kebudayaan dalam arti luas. Bahkan pariwisatra telah terbukti menjadi wahana utama dalam pelestarian kebudayaan yang sekaligus menjadi pelatuk untuk memacu dimamika masyarakat dalam berbagai aspek kebidupannya. Bagaimana dengan NTT ke depan untuk menjaga citra Pariwisata dengan “Program NTT Tersenyum?”

Belajar dari keberhasilan pariwisata Bali tentu telah menjadi legenda tersendiri dalam membicarakan pariwisata internasional dengan tekad untuk menjadikan NTT sebagai “jembatan Emas Desitinsai Pariwisata Dunia. Namun demikian ada banyak masalah yang sangat mendasar dalam pembangunan pariwisata NTT yang mengancam keberlanjutan (sustainble) dari pembangunan itu sendiri. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain menyangkut aspek lingkungan, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. Dari aspek lingkungan dapatlah kita amati sudah mengalami pergeseran nilai apabila tidak dijaga keseimbangannya, daya dukung (carrying capacity) Kota Kupang. Masalah lingkungan yang secara kasat mata jelas dapat dilihat antara lain pembanghunan fisik yang mengikuti jalan raya (ribbon development), berdirinya bangunan-bangunan dengan pola domino ataupun berdirinya bangunan-bangunan yang tidak selayaknya pada daerah resapan air dan juga di kawasan pantai atau jalur-jalur hijau.

Dari segi ekonomi, banyak juga pendapat yang mengatakan bahwa manfaat pariwisata terdistribusi secara tidak proporsional. Ketidakmerataan manfaat (inequity) ini terlihat dalam distribusi antara lapisan masyarakat (vertical inequity), maupun antar-daerah (spatial inequity). Ada juga dugaan bahwa sebagaian besar keuntungan ekonomi dari pembangunan pariwisata di NTT keluar. Dalam beberapa kasus, terjadi proses marginalisasi terhadap masyarakat setempat (petani) yang pada akhirnya menjadi suatu proses “pemiskinan struktural.”

Masalah lain yang juga menjadi ancaman kepariwisataanb NTT adalah keamanan dan migrasi masuk yang tidak terkendali. Pariwisata adalah suatu industri yang unik, yang menggantungkan diri pada citra (image). Citra ini sangat rentan terhadap usikan, seperti kriminal, kemacetan lalu lintas, kekumuhan, dan sebagainya. Migrasi masuk yang tidak terkendali mempunyai peluang besar dalam memunculkan berbagai permasalahan ini. Migrasi masuk juga akan mempunyai konsekuensi jangka panjang yang sangat prinsipal. Karena pariwisata NTT juga bertumpu pada kebudayaan NTT yang unik, maka kelestarian kebudayaan yang unik haruslah mendapat perhatian serius. Budaya yang paling menonjol pada suatu daerah, yang menjadi citra, adalah budaya dari pendukung yang dominan. Kalau migrasi masuk tidak terkendali, yang pada akhirnya mengganggu dominasi penduduk NTT yang merupakan pendukung budaya NTT, maka dominasi kebudayaan NTT juga akan terancam. Citra masyarakat NTT yang ramah-tamah dengan religuisitas yang tinggi diharapkan tetap kokoh-kuat walaupun ada usikan kecil yang tidak dibuat oleh orang NTT sendiri.

Secara ringkas, jelas terlihat bahwa penekanan otonomi daerah di kabupaten dan kota secara langsung akan menyebabkan terjadinya manajemen dan pola pikir parsial, tidak holistik, di dalam mengelola NTT. Padahal, pariwisata sebagai suatu sektor yang multikompleks dan multidimensi serta mempunyai interdependensi yang sangat tinggi memerlukan penanganan secara holistik-integralistik.

Kekuwatiran akan dampak negatif otonomi daerah terhadap eksistensi kebudayaan NTT, seperti disebutkan di atas, berlaku juga untuk pembangunan kepariwisataan. Pariwisata NTT akan segera mengalami kemajuan yang signifikan, karena citra merupakan “komoditas” yang dijual dalam kepariwisataan. Citra NTT akan segera naik dan menunjukkan citra sebagai destinasi yang efektif-efisien, peningkatan ekonomi rakyat, menciptakan kenyamanan, ketentraman, terjaganya lingkungan hidup yang tertkendali, pembangunan yang taat tata ruang dan seterusnya.

Kalau semua harfapan-harapan menjadi kenyataan, maka pariwisata NTT akan mengalami masa kejayaan. Era otonomi daerah akan memberikan daya daya dorong dan daya tarik bagi proses pembangunan pariwisata NTT yanbg pesatr, khususnya aspek fisik. Tetapi dalam jangka panjang akan terjadi stagnasi yang akan mengarah pada kehancuran bila tidak dikelola secara seimbang dan holistik-integralistik. Mengkuti teori Butler (1980) dalam terorinya “tourism area cycle of evolution, perkembangan pariwisata akan melalui 7 tahapan mulai dari (1) exploration, (2) involvemen, (3) development (4) consolidation (5) stagnation, (6) decline dan atau (7) rejuvenation – tergantung pada keberhasilan penanganan pada waktu stagnation). Pariwisata akan mengalami masa decline, dan akan sulit melakukan rejuvenasi, seperti contoh Bali yang akan segera nenjadi “kuda pacu” yang kelelahan. Inilah muara   dari idiom tourism kills tourism.(*tim)