PROYEK PIPA 6,5 M BAA, DIDUGA, KERJA TIDAK SESUAI PERENCANAAN

Penanaman pipa terlihat ditindis dengan bongkahan batu karang besar dan Terlihat sedikit kumpulan pasir disekikar galian yang kemudian dimanfaatkan untuk menutup galian dengan campuran tanah bukan untuk urukan. selain itu galian tidak mencapai volume kedalaman 65 cm  (Foto  Arkhimes Molle)

Penanaman pipa terlihat ditindis dengan bongkahan batu karang besar dan Terlihat sedikit kumpulan pasir disekikar galian yang kemudian dimanfaatkan untuk menutup galian dengan campuran tanah bukan untuk urukan. selain itu galian tidak mencapai volume kedalaman 65 cm (Foto Arkhimes Molle)

Zonalinenews-Rote, Proyek Pembangunan saluran pengelolaan Air Minum (SPAM) Ibu Kota Kecamatan (IKK) di Baa Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur yang bersumber dari Dana paket APBN 2015 sebesar Rp. 6.531.798.000,- oleh Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum NTT di laksanakan oleh Kontraktor pelaksana PT Karang Teguh Abadi , diduga tidak sesuai perencanaan.

Kontraktor pelaksana Direktur PT Karang Teguh Abadi, Ir Vivo H Ballo melalui pelaksana lapangan Charles Besin 26 September 2015 di lokasi pembangunan Bak penampung di Desa Sanggaoen, saat dikonfirmasi mengatakan, untuk kegiatan proyek yang dilaksanakan telah sesuai dengan perencanaan.

“Pelaksanaan kegiatan pemasangan pipa mulai dari titik awal di areal perkantoran menuju Bandara D,C saudale, Kampung biru dan jalan simpang utomo sedang dilaksanakan menggunakan pipa diameter 6 dim mulai dari bak penampung hingga di cabang jalan menuju Lekik Desa Oelunggu.

Selanjutnya kearah Mokdale untuk tersambung ke jaringan ke Universitas Nusa Lontar Rote kemudian Jalan Utomo sedangkan pada titik pertigaan pintu masuk areal Civic Centre komplek Tii Langga permai menuju daerah pemukiman Kampung biru dan Bandara D C Saudale Rote,”jelas Charles. yang didampingi Jond Halundaka dan Marsel Foeh

Dikatakannya, volume galian dan pemasangan pipa 6 dim sepanjang 5 km, pipa 4 dim 2 km dan untuk pipa 2 dim sepanjang 3 km. sehingga untuk saat ini prosentase pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan sudah mencapai 73 persen dari perencanaan 89 persen fisik,

Penyelesaian pekerjaan sesuai dengan limit waktu 180 hari, sesuai dengan kontrak sejak 25 April 2015 dan berakhir 25 Oktober 2015 yang akan datang tidak tertutup kemungkinan pekerjaan tidak bisa diselesaikan sehingga pihaknya kini tengah mengajukan adendum.

“Kami sedang siapkan permohonan addendum keran tidak mungkin kami bisa selesaikan dalam waktu tinggal satu bulan,” ucapnya.

Dijelaskan, keterlambatan pekerjaan ini diakibatkan oleh material berupa pipa harus dilakukan pemesanan secara khusus dari pabrik yang membutuhkan waktu cukup lama dan kendala lokasi pembangunan bak penampung yang tanahnya disiapkan oleh pemerintah mengalamai kendala sebelumnya.

Sementara soal galian untuk pipa 6 dim berukuran 60 x 65 cm, pipa 4 dim 50 x 45 cm sedangkan untuk pipa ukuran 2 dim, galiannya 40 x 35 cm. tetapi jika dalam pelaksanaan ditemui areal berbatu bongkahan maka biasanya kurang sekitar 2 cm dari ukuran dan bahkan bervariasi karena galian dilakukan dengan menggunakan tenaga buruh yang sifatnya secara manual.

Selanjutnya. Charles juga mengakui, kalau sehari sebelumnya Jumat 25 september 2015 proyek yang bersumber dari Paket APBN 28 ini baru di pantau langsung oleh Anggota DPR – RI Fary J Francis. yang didampingi oleh PPK PAM Satker PAMS NTT Reliviyanti Jamin, ST,MT

Informasi yang berhasil dihimpun dari warga sekitar jalan Nusaklain membenarkan kalau dalam penanaman pipa tidak menggunakan urukan pasir sebagaimana yang jelaskan oleh pihak pelaksana proyek.

“ Dong hanya taruh pasir sedikit saja di tempat yang ada pasir sedangkan lainnya langsung ditutup dengan tanah,” ujar Robi Warga setempat.

Semuel Ndun salah satu tokoh masyarakat kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao saat dimintai komentarnya mengatakan, seharusnya sebelum pipa itu dikubur diuruk dulu dengan pasir dan ditutup lagi dengan pasir sebelum ditutup dengan tanah namun dalam pengamatan dirinya hal tersebut tidak dilakukan.

Menurut Ndun, hal ini untuk menghindari tekanan berat secara langsung karena pipa berada diatas jalan. Badan jalan ke depan akan di lalui dengan beban yang berat, kuat dan keras sehingga akan berpengaruh terhadap pipa mudah patah.

Apa lagi pipa HDPE yang terbuat dari bahan karet dn plastic ini dalam waktu tidak lama akan bocor karena ketika tekanan beban setiap hari akan mengalami kebocoran dan bisa terlepas karena sambungan itu hanya bermodal pemanas saja

“Selain itu, pipa dengan gampang terjadi kebocoran akibat tekanan berat dan tujuan perlunya urutkan tersebut guna dengan mudah menelusuri ketika ada kebocoran ,”ungkap Ndun.

Pantauan wartawan dilokasi, saat dilakukan kegiatan pekerjaan oleh pihak pelaksana Proyek pada beberapa titik antara lain di mulai dari galian di tempat pembangunan bak penampung, sepanjang jalan civic centre Tii Langga Permai, jalur menuju Kampung biru dan jalan Nusaklain menuju pertigaan Utomo. galian diperkirakan tidak mencapai volume sesuai dengan perencanaan sebagaiman yang dijelas oleh pelaksana lapangan.

Selain itu, pipa yang ditanam pada sejumlah titik. di jalan Nusaklain kelurahan Mokdale 26 September 2015 sekitar pukul 15:30 wita pekerjaan dilaksanakan tidak menggukan urukan pasir. bahkan pipa ditindis dengan bongkahan batu besar karena dasar galian tidak rata. Kondisi lapangan yang terjadi ini turut disaksikan oleh pelaksana lapangan Charles Besin, Pengawas lapangan Satker PAMS NTT Jond R.Y. Halundaka dan dari pihak konsultan Marsel Foeh.

PPK PAM Satker PAMS NTT Reliviyanti Jamin, ST,MT melalui Pengawas Lapangan Satker PAMS NTT Jond R.Y. Halundaka yang dihubungi melalui ponsel genggamnya nomor: 085239345xxx . 27 September 2015 terkait seputar pelaksanaan pekerjaan yang diduga tidak sesuai perencanaan dan

pihaknya turut menyaksikan kegiatan penanaman pipa tanpa urukan pasir. Halundaka mengatakan, untuk pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan ketentuan. Baik galian maupun urukan pasir. Tapi diakuinya kalau ia sudah menyiapkan seluruh dokumen teguran kepada pihak kontraktor.

“untuk pelaksanaan itu yang pak (wartawan) lihat saja tapi menurut beta sudah sesuai dan selama ini dengan kedalaman dan pasir yang ada terkait dengan pekerjaan semua diurug dengan tanah pada lubang galian tidak ada yang ditingalkan itu sesuai. Beta sudah siapkan semua teguran untuk mereka dan selama ini kerja sudah sesuai,” ucap Halundaka .

Sementara pihak konsultan Pengawas Marsel Foeh.saat dikonfirmasi melalui ponsel genggamnya nomor 082 144 105 xxx yang diperoleh dari pelaksana lapangan PT Karang Teguh Abadi Charles Besin, tidak berhasil di hubungi karena tidak sedang aktif. (*Arkhimes )