PDAM ROTE NDAO PERLU BELAJAR DARI WARUNG PENJUAL KOPI

Catatan Konsumen. Oleh: Arkhimes Molle

Warung  Kopi (Foto  Travenesia.com)

Warung Kopi (Foto Travenesia.com)

Zonalinenews-Laporan keuangan bertujuan Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai keadaan keuangan perusahaan sampai pada profitability atau kemampuannya

Apakah perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan dan bagaimana kinerja perusahaan

Masih rendahnya kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan dan mungkin juga rendahnya efektivitas Perusahaan dalam menggunakan sumber daya dan sebagainya ?

Kemudian untuk dengan alasan itulah pihak PDAM Rote Ndao melakukan pungutan pemerasaan melalui denda berlapis kepada konsumen dengan bersenjatakan Peraturan Bupati Rote Ndao Nmor : 48 tahun 2013 tentang Tarif Air Minum Perusahaan Daerah Air Minum kabupaten Rote Ndao,

BAB VII, Kewajiban dan Larangan pada pasal 17. Kelompok I dan II Rp. 5000,- ditambah Rp. 1000,- Setiap hari untuk keterlambatan hari-hari berikutnya Kelompok III Rp. 7.500,- Rp.2000 dan Kelompok IV Rp. 10.000 ditambah Rp.2500,-

Menunggak pembayaran rekening air lebih dari 10 (sepuluh) hari dikenakan Pemutusan sementara aliran air tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Apabila melewati 3 (tiga) bulan dan setelah diberikan punggutan sebanyak 3 kali berturut-turut belum juga melunasi tunggakan maka jaringan air sambungan rumah akan diputuskan secara permanen

Apakah Peraturan Bupati sebagai produk aturan yang membebani konsumen sehingga perlu dikaji oleh pihak PDAM dan Banwas PDAM atau pihak PDAM sendiri yang tidak paham dengan mekanisme dan amanat Perbup sehingga sengaja meraih keuntungan yang merugikan konsumen ?

Dari sejumlah tanda tanya ini terkait dengan tertundanya rapat Banwas PDAM dan pihak PDAM Rote Ndao lantaran pihak Bagian Administrasi umum dan Keuangan tidak bisa mempertanggung jawabkan keuangan perusahaan hingga ditambah dengan mencuat kepermukaan soal pemerasan konsumen dengan motif denda bertulis tangan pada sleep rekening konsumen sementara sleep jurnal tidak dinodai tulisan angka apapun dengan tinta pena.

Belum lagi dengan terulurnya penetapan waktu untuk kelanjutan rapat pertanggung jawaban bagian keuangan kepada Plt Direktur dan Banwas PDAM berubah versi dengan menunggu sampai kapan ada surat pemberitahuan dari Ketua Banwas PDAM untuk pelaksanaan rapat pertanggung jawaban selanjutnya yang terkesan tidak ada kepastian waktunya.

Kemudian kunjungan kerja DPRD Kabupaten Rote Ndao ke Kantor PDAM Rote Ndao guna melakukan uji petik seputar persoalan yang sedang dialami PDAM namun terkesan Wakil Rakyat yang datang disodorkan bukti catatan keuangan oleh pihak bagian Administrasi Umum dam dan Keuangan yang keabsahan alias keakuratannya diragukan karena administrasi laporan keuangan seperti yang ditunjukan seharusnya tidak seperti yang disodorkan dalam pengamatan Wakil Rakyat yakni laporan tersebut tidak ditanda tangani oleh pihak pimpinan.

Ini menjadi catatan bagi DPRD Rote Ndao yang melakukan uji petik ke PDAM Rote Ndao yakni representasi dari lima fraksi dewan yang datang untuk melakukan uji petik.

Selanjutnya sudahkah Banwas PDAM dan Legislatif melakukan pengawasan terhadap pemanfaatan penyertaan modal daerah selama ini, bagaimana Laporan Laba Rugi dan neraca Komparatif Tahunannya dan seperti apa hasil evaluasi kinerjanya untuk mengatahui PDAM Rote Ndao sebagai perusahaan milik daerah sedang ada pada posisi kategori sehat, kurang sehat atau sedang sakit.

Bgaimana mungkin PDAM Rote Ndao melahirkan deviden bagi daerah ini kalau kondisinya setiap tahun mengalami sakit yang telah mengkronis ? uang konsumen di ambil sebagai pos pendapatan non air dan berpayung pada Perbup dan untuk itu supaya jelas dan bisa dipertanggung jawabkan maka perlu transparan pada Lapoaran komparatif.

Apalagi bukan terjadi pemerasan pada konsumen saja tetapi dana pensiun staf PDAM sendiri dibabat habis yang tentu berdampak pada nasib Pegawai PDAM bagaimana dengan uang perusahaan yang sedang dikelolahnya.?

Kondisi sepertinya jika kita berpendapat maka mungkin ada kecenderungan untuk perlu belajar dari warung penjual kopi sebagai sebuah refleksi.

Warung penjual kopi, mengeluarkan uang pribadi untuk membeli kopi,gula,bayar air,listrik atau BBM, sabun dan masih banyak lagi untuk menyajikan sebuah gelas kopi seharga Rp. 1000-1500 tetapi masih meraih keuntungan jika dibandng dengan PDAM yang hanya mengelola tapi sakit merugi terus.

Biaya operasional di siapkan oleh rakyat dengan pernyertaan modal miliaran rupiah setiap tahun, konsumen bayar rekening dan ada tagihan denda tapi merugi terus setiap tahun. Dikemankan uangnya ?(*)