PEMERASAN KONSUMEN, KABAG“AUK” PDAM ROTE NDAO TIDAK BISA BUKTIKAN

ADAM LANI

ADAM LANI

Zonalinenews-BAA, Kepala Bagian Administrasi Umum dan Keuangan (AUK) PDAM Kabupaten Rote Ndao, Adam Lani tidak berkata banyak soal pertanggung jawaban keuangan atas penagihan rekening pelanggan yang dinilai sebagai keputusan sepihak saat dipersoalkan staf didepan Badan pengawas PDAM Rote Ndao saat rapat internal yang digelar Senin 26 Oktober 2015 siang di ruang rapat PDAM Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur.

Pantauan Zonaline News, rapat internal tersebut mulai digelar pukul 11: 30 hingga 13: 15 wita, dihadiri Badan Pengawas, Plt Direktur dan sejumlah staf.

Dalam rapat tersebut, Adam Lani dihujani pertanyaan seputar adanya dua jenis sleep rekening dengan catatan bervariasi jumlah nilai uang denda yang dikenakan kepada pelanggan jasa PDAM akibat terlambat atau menunggak pelunasan rekening air.

Selain itu, Adam dinilai stafnya Vinsen Kahan, kalau dalam melakukan penerimaan pemasukan dari pembayaran rekening oleh konsumen setiap bulan ditemukan adanya penagihan yang dilakukan bermotif denda keterlambatan dan denda progresif atau sanksi harian namun tidak tercatat pada sleep rekening pertanggung jawaban.

Vinsen Kahan menyoalkan pos pemasukan tersebut dikemanakan karena nilai uang ratusan jutaan rupiah yang dikenakan pada pelanggan yang tidak melakukan pembayaran rekening tepat waktu diduga telah dihabiskan Adam bersama staf bagian keuangan.

Masalah denda tersebut tidak berbaca pada rekening pertanggung jawaban atau jurnal karena pada sleep rekening. Nilai denda ditulis dengan tangan mengunakan bolpoin sedang pada sleep rekening yang menjadi arsip pertanggung jawaban tidak tercatat atau ditulis terkait dengan denda.

Menjawab pertanyaan Adam mengatakan, dirinya tidak paham dengan amanat peraturan Bupati. Katanya sambil meminta pejelasan balik dari Badan Pengawas.

Selanjutnya menurut Adam, pendapatan yang diperoleh dari hasil dengan tidak tercatat pada sleep rekening untuk jurnal pertanggung jawaban hanya dicatat oleh kasir dan terinci pada laporan dan keuangan tersebut telah disetor ke Kas pada Bank.

Kembali staf dan Badan Pengawas meminta bukti pelaporan dan bukti penyetoran pada Bank, Adam kembali bungkam dan tidak bisa membuktikannya.

Akibat tidak dapat menunjukan realita pertanggung jawaban pendapatan yang dinilai staf sebagai bentuk pemerasan terhadap pelanggan, Ketua Badan Pengawas menegaskan agar semua catatan, laporan dan bukti pendukung lainnya segera disiapkan oleh Adam Lani sebagai Kabag Administrasi Umum dan Keuangan untuk diserahkan pada rapat lanjutan yang digelar pada Kamis 29 Oktober 2015 nanti,tegas Ketua Badan Pengawas Semuel Nassa.

Sementara itu Plt.Direktur PDAM Rote Ndao Ir Yahya F Sodak, meminta Adam Lani untuk segera menyerahkan dokumen pertanggung jawaban penagihan denda tersebut karena dirinya akan meminta pihak inspektorat melakukan audit.

Selain itu, Kata Yahya Sodak, terkait dengan kelebihan penerimaan denda yang dikomplein oleh pelanggan akan dilakukan perhitungan sehingga sesudah pihaknya bersama Badan Pengawas yang akan melakukan kajian atas Peraturan Bupati (Perbup) maka akan dikembalikan kepada konsumen korban yang diperas.

D.L.Bartels salah satu korban ulah oknum PDAM Rote Ndao ini kepada Zonaline News dikediamannya di Metina Baa 25 Oktober 2015 lalu, mengakui menjadi salah satu korban ulah pihak PDAM terkait dengan denda keterlambatan pembayaran rekening air.

Selanjutnyanya, Ia mengungkap kisah buruk PDAM ditahun 2014 yang lalu meteran air miliknya menunjukan angka pemakaian 70 M3 namun pada sleep pembayaran tercetak naik menjadi 90 M3 bertambah 20 M3. Kemudian pembengkakan pada pembayaran iuran rekening mencapai Rp 1 Juta.

Pihaknya datangi PDAM untuk komplein, ternyata perbedaan angka pada meteran dan sleep pembayaran dilakoni pihak PDAM sementara bukti iuran rekening sudah dicetak oleh PDAM Rote Ndao mendahului pengecekan pemakaian pada meteran. Jelasnya.

Di tahun 2015 ungkap Bartels, iuran rekening bulan januari beban biaya yang harus dibayar Rp. 256.500, denda Rp.5000 dan denda harian 15.000, Februari tercatat biaya pembayaran Rp. 144.500 ditambah denda bulanan Rp. 5000 dan denda harian 11.000.

Selanjutnya pada bulan Maret 2015, tercatat pada sleep rekening yang dibayar Rp. 124.500, denda bulanan Rp. 5000,- dan denda harian sebanyak 36.000. Ketiga bulan tersebut dibayar dengan total Januari – Maret sebesar Rp. 602.500 dengan demikian terdapat pembayaran denda sebanyak Rp 77.000 dikemanakan uang denda tersebut karena pada sleep miliknya hanya ditulis dengan tangan, kenapa tidak dicetak dengan kolom denda. Jelasnya bernada Tanya.

Menurut Bartels, Wajar – wajar saja, sanksi atau denda itu. berapa jumlahnya kita pelanggan harus melunasi karena kewajiban sebagai pengguna jasa tapi biaya tersebut jika kedapatan tidak dimasukan dalam kas daerah maka itu sebuah pratek pemerasan bagi pelanggan.

Untuk itu, Hal ini tidak bisa dibiarkan apalagi sudah didukung oleh bukti-bukti, kalau dibiarkan maka akan berkembang ke hal-hal yang lebih jahat. Harus ditindak oleh pihak penegak hukum karena terindikasi korupsi sebab PDAM menggunakan rekening yang sah tapi bermain pada rekening pelanggan dengan besaran denda ditulis tangan

“Hal ini tidak bisa dibiarkan apalagi sudah didukung oleh bukti-bukti, masih banyak penipuan yang mereka lakukan bukan hanya masalah permainan pada rekening saja. Masa orang Rote makan kembali orang Rote, mau jadi apa ini daerah” Ujar Mantan Kabag Umum Setda Kabupaten Rote Ndao ini. (*Riyan Tulle)