PMKRI HARUS MENJADI KADER KRISTUS SEJATI

Pelantikan Anggota PMKRI Baru ekalgus Dies Natalis

Pelantikan Anggota PMKRI Baru ekalgus Dies Natalis

Zonalinenews-Kupang, PMKRI Cabang Kupang St. Fransiskus Xaverius merayakan Dies Natalis Ke-52 dibarengi dengan pelantikan 123 anggota baru di aula Sekretariat Partai Nasdem, Minggu 25 oktober 2015 pukul 19.30 Wita. Dies natalis ini diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Pastor Pembantu Gereja St. Familia Sikumana, Romo Leonardus, Pr.

Romo Leonardus dalam khotbanya menilai PMKRI adalah Organisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin hebat. Dia menantang para mahasiswa apakah menjadikan organisasi ini sebagai panggung pewartaan kabar sukacita Kristus Sang Pemimpin Sejati ataukah mementingkan kepentingan duniawi.

Menurutnya, kader PMKRI harus benar-benar menjadi kader yang menutamakan cinta kasih. “Nanti para anggota PMKRI tidak luput yang namanya demo. Tapi saya minta demo suarakan kebenaran tidak pakai logika saja tetapi harus sesuai dengan suara hati. Kita harus mengikuti teladan Kristus yang membela kebenaran. Jadikan diri kalian sebagai kader Kristus Sejati,” pesan Romo Leo.

Ketua Presidium, Egidius Atok memberi nama angkatan kepada 123 anggota baru dengan nama angkatan Dedikasi. Egidius berharap berharap agar ke 123 anggota baru tetap semangat mengabdi secara utuh kepada gereja dan tanah air.

“Sebagai mahasiswa katolik, terlebih seorang kader PMKRI, setiap orang mempunyai tanggungjawab dan kewajiban untuk membawa bangsa Indonesia menghayati nilai Kekatolikan, pro rakyat miskin, damai, makmur dan sejahtera. Sebagai mahasiswa katolik kita tidak boleh duduk santai dan acuh tak acuh, bahkan melarikan diri dari permasalahan jalannya ketatanegaraan yang tidak karuwan dan yang mengakibatkan masyarakat kebanyakan mendertia baik secara fisik, psikis maupun rohani. Jadilah mahasiswa yang 100% Katolik 100% Indonesia,” ujar Atok.

Egi juga mengajak kepada sema kader PMKRI untuk mendalami tema kegiatan pelantikan dan dies natalis ke-52, yaitu Mari, Ikutlah aku, dan Kamu akan Kujadikan Penjala Manusia. Menurutnya tema ini membawa pesan penting bagi semua kader perhimpunan.

“Kita semua dipanggil sebagai penjala manusia. Tuhan memanggil kita juga untuk menjala manusia dari dunia virtual ini. Dunia ini bukan dunia jahat, tapi di dalamnya kejahatan bisa kita jumpai. Dari begitu banyak hal yang ditampilkan, ditawarkan terdapat begitu banyak pula nilai yang ingin disampaikan, akan tetapi tidak semua nilai bisa memberikan kebahagiaan sejati. Olehnya kita diminta untuk membantu sebanyak mungkin orang hidup untuk makin manusiawi, yang bahagia dalam hidup sehari-harinya, jelas Egi.

Terkait pembangunan di NTT, Egi menilai pemerintah masih masa bodoh dengan masalah-masalah social yang selama ini menimpa masyarakat .

“Masalah kemiskinan tak kunjung usai, rendah angka kelulusan, carut-marut masalah pilkada, hiruk-pikuk dengan mutasi birokrasi yang sarat dengan muatan politik, huru-hara dengan masalah pertambangan, pelanggaran HAM. Pemborosan uang negara untuk pembangunan gedung Gubernur padahal masyarakat tertimpa busung lapar dan gizi buruk. Kondisi ini tentunya bukan hal yang baik untuk daerah kita. Untuk membangun NTT, semestinya perlu adanya gebrakan strategis jangka panjang dan berkelanjutan yang dibarengi kemauan politik pemerintah. Banyak potensi daerah yang dikelolah bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi lebih pada bagi-bagi keuntungan pada kalangan elit daerah dan pengusaha. “Pemerintah terkesan lebih takut kepada pengusaha ketimbang pada rakyatnya, sehingga tidak heran setiap pembangunan daerah diatur dan ditentukan oleh pengusaha. Banyak program pemberdayaan yang dicanangkan oleh pemerintah pusat maupun daerah tidak berjalan efektif. Ini disebabkan juga oleh lemahnya sistim pelaksanaan lapangan dan pengawasan. Sehingga tak heran juga banyaknya programpemberdayaan yang dicanangkan, tetapi masyarakat tetap berada pada kondisi kemiskinan.

Kita perlu menyadari bahwa keterbelakangan dan kekurangan yang terjadi bukanlah kesalahan pada satu pihak, tetapi bagian dari akumulasi mental dan karakter yang terpatri dalam diri kita masing-masing. Mental dan karakter kita sebagai penyelenggra pemerintah, mental dan karakter kita sebagai politisi, mental dan karakter kita sebagai penegak hukum, mental dan karakter kita sebagai masyarakat, mental kita sebagai kaum muda yang perlu dibangkitkan. Karena sikap mental dan karakter pribadi-pribadilah yang mementukan orang untuk berbuat untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain,”Kritik Egi.

Chris Boro Tokan dalam sambutannya mewakili anggota Dewan Pertimbangan (ADP) mengharapkan agar PMKRI dan alumninya di daerah provinsi Nusa Tenggara Timur, bahkan di Indonesia harus mampu membaca tanda-tanda zaman, agar dapat berperan secara baik dan benar sebagai kekuatan intelektual.

“Para kader PMKRI dalam mewarnai proses zaman senantiasa melarut, namun dituntut untuk tidak hanyut digilas zaman. Alumni PMKRI tentu melarut di mana-mana dalam mewarnai proses zaman, namun tentu tidak boleh hanyut ke mana-mana. Kader PMKRI maupun alumni PMKRI tidak boleh hanyut dalam korupsi di setiap peran intelektualnya yang melarut dalam setiap proses mewarnai pembangunan kemanusiaan dan kesemestaan alam demi kemuliaan Allah, Sang Pencipta”, tegas Chris Boro.

Chris juga secara tegas meminta PMKRI Kupang bersama seluruh alumni sebagai kekuatan intelektual senantiasa mampu membaca tanda-tanda zaman melalui kekuatan terang iman (kristianitas).

“Sebagai kader PMKRI, dalam setiap kebersamaan pewarnaan zaman senantiasa tetap memiliki pendasaran keteguhan kedasyatan iman. Dengan demikian dalam keliaran pikiran, dalam pengembangan ide dan membangun gerakan, senantiasa selalu terukur demi mendidik hati dan merawat nurani sosial. Dalam keberanian mencari dan mencapai titik temu dalam proses pewarnaan zaman, di situ terletak keberhasilan membangun keharmonisan hidup bersama yang menembus kabut gelap tanda-tanda zaman,” jelasnya.(*Igo)