Satker Proyek Bermasalah 16,7 M, Larang Koorwas Buka Mulut

RONIS HALUNDAKA

RONIS HALUNDAKA

Zonalinenews – Baa, Dibalik masalah proyek Rp 16,7 Milyard di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur, syarat tanda tanya karena diduga proyek bermotif KKN yang melibatkan sejumlah oknum, kini menuju upaya tutup pintu informasi public setelah terbongkarnya masalah pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai perencanaan.

Benang merah yang sedang melilit pelaksanaan proyek APBN tahun anggaran 2015 yang pekerjaannya terkesan “asal jadi” telah selesai masa kontrak sementara pekerjaan masih belum selesai dan pengalihan lokasi proyek masih tanda tanya.

Apa alasan dan dimana dasar rujukan yang digunakan pihak Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum NTT sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wil I. Satker PAMS Nusa Tenggara Timur dan Koordinator Pengawas (Koorwas) Pulau Rote Satker PAMS NTT menutup pintu informasi Publik ?

Terhadap pertanyaan Zonaline News ini, di kantor Satker SPAM Propvinsi NTT, di Jln. A.Yani Kupang No.7 Kota Kupang 28 Oktober 2015 pukul 10:37 wita. Koordinator Pengawas Pulau Rote Satker PAMS NTT Ronis Halundaka menolak memberi keterangan kepada Zonaline News saat mendatanginya untuk konfirmasi seputar masalah yang sedang melilit Pelaksanaan proyek Pembangunan Sistim Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur sebesar Rp16 755 535 000,-

Halundaka yang sebelumnya terkesan berusaha menghindar pergi dari hadapan Zonaline News mengatakan, dirinya tidak bisa berkomentar banyak terkait dengan masalah proyek yang ada dalam tugas pengawasannya sebagai Koordinator Pengawas Pulau Rote Satker PAMS NTT karena pimpinannya sudah melarang untuk memberikan informasi atau stekmen keluar kepada wartawan.

Sambil meminta Zonaline News untuk langsung konfirmasikan masalah proyek bermasalah di Rote Ndao dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wil I. Satker PAMS Nusa Tenggara Timur sebagai pimpinannya.

“ Langsung saja ke saya punya pimpinan yakni PPK ibu Vivi (Roliviyanti Jamin,ST,MT-red). saya tidak bisa komentar banyak karena pimpinan saya sudah melarang kami, agar saya tidak memberikan informasi atau stekmen keluar ke wartawan” Ujar Ronis yang diulangi Zonaline News.

Selanjutnya soal pernyataan Halundaka sebelumnya untuk melakukan evaluasi dan pembongkaran pekerjaan yang dikerjakan oleh ketiga kontraktor pelaksana yang tidak sesuai perencanaan. Ia mengatakan dirinya belum mendapat perintah dari PPK Roliviyanti Jamin,ST,MT.

Ia menjelaskan kalau sudah melakukan koordinasi dengan pimpinan terkait dengan pernyataannya pada waktu lalu, dan sudah melaporkan untuk pimpinan memanggil pihak kontraktor guna evaluasi kemudian ke lapangan untuk memerintahkan kontraktor membongkar namun pimpinan sendiri belum perintahkan dirinya kelapangan.

“Saya sudah koordinasi ke pimpinan terkait dengan pernyataan kemarin untuk melaporkan dan memanggil pihak kontraktor untuk evaluasi kemudian kelapangan untuk memerintakan membongkar, pimpinan sendiri belum perintakan saya kelapangan. Ya pimpinan belum perintahkan saya” ujar Halundaka.

Ketika ditanyai terkait masa kontrak kerja yang telah berakhir, Ia kembali beralasan untuk langsung tanyakan kepada pimpinannya karena dirinya mau menyelesaiakan pekerjaannya, sambil bergegas pergi meninggalkan Zonaline News.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wil I. Satker PAMS Nusa Tenggara Timur Roliviyanti Jamin,ST,MT yang hendak dikonfirmasi ternyata tidak berada ditempat. Ia sedang pergi ke Atambua. ”Pimpinan ada ke Atambua” Jawab Ronis Halundaka.

Seperti berita sebelum (28/10) pantauan Zonaline News 28 Oktober 2015 pada ketiga lokasi proyek ternyata sejumlah titik pekerjaan belum diselesaikan..

Sementara batas waktu pelaksanaan pekerjaan oleh PT Anisa Prima Lestari berakhir pada 27 Oktober 2015 kemudian PT Karang Teguh Abadi.dengan batas akhir pekerjaan 25 April 2015 Sedangkan PT Mojo Wijaya Karya. Pelaksanaan pekerjaannya hingga batas akhir 23 Oktober 2015.

Terkait masalah proyek Rp. 16,7 Miliard ini Zona line News menghubungi para pelaku proyek bermasalah tersebut namun semuanya mulai diam, sulit dihubungi dan terkesan tidak bertanggung jawab. baik pelaksana maupun pihak yang bertugas untuk pengawasan

Pengawas Lapangan Satker PAMS NTT Jond R.Y. Halundaka yang dihubungi melalui ponsel genggamnya nomor: 085239345xxx 28 Oktober 2015 pukul 11:23 wita saat mengetahui kalau yang menelponnya adalah Zona line News dengan spontan langsung mematikan ponsel genggamnya

Kemudian karena Halundaka sebagai pengawas lapangan. Zona line news, mengirim pertanyaan via SMS “Bagaimana dengan perkembangan penyelesaian pekerjaan karena telah berakhirnya masa kontrak bagi ketiga kontraktor pelaksana” namun hingga berita ini diturunkan belum mendapat jawaban dari Halundaka pada hal SMS yang dikirim telah terkirim sesuai laporan pengiriman SMS ke ponselnya pada pukul 11:27 Wita.

Selanjutnya salah satu dari ketiga kontraktor yang dihubungi Zona line News via telpon genggamnya bernomor: 081246621xxx karena yang bersangkutan berdomisili di Kota Kupang yakni C.J.A.Welixmans direktur PT Mojo Wijaya Karya.

Direktur PT Mojo Wijaya Karya C.J.A.Welixmans alias Ibu Neli dihubungi sebanyak empat kali. Pertama pukul 11: 12 lalu 11:13 wita dan ketiga 16:01 kemudian terakhir 16:02 Wita namun nomor ponsel milik kontraktor ini meskipun masuk tetapi enggan mengangkatnya.

Direktur PT Mojo Wiaya Karya ini melalui nomor 081246621xxx terdengar nada masuk dengan nada sambung “cintamu cinta apa, sayangmu sayang apa” terhenti lalu disambung suara perempuan dari balik ponsel “tinggalkan pesan saja”

Selanjutnya Zona line news mengirimkan pertanyaan dengan SMS ke nomor ponselnya namun tidak juga dijawab hingga berita ini diturunkan.

Anggota Komisi V DPR RI Fary Jemi Francis yang dikonfirmasi via ponsel genggamnya nomor 081237749xx pukul 15:59 wita 28 Oktober 2015 sebanyak dua kali namun ponsel miliknya yang bernada sambung lagu kebangsaan Indonesia Raya ini memberi jawaban “Nomor yang dituju tidak menjawab”. (*Riyan Tulle/Akhimes Molle)