Tim Medis Maronggela, Bagi Obat Filaria Di Rumah Kadus Damu

Pembagian obat Filaria di Rumah Kepala Dusun (Kadus) Damu, Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada

Pembagian obat Filaria di Rumah Kepala Dusun (Kadus) Damu, Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada

Zonalinenews – Riung, Petugas Kesehatan Puskesmas Maronggela, Rabu 28 Oktober 2015 adakan pembagian obat Filaria di Rumah Kepala Dusun (Kadus) Damu, Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada. Padahal, di Dusun Damu, memiliki sebuah bangunan kesehatan yakni sebuah posyandu. Tapi, kenapa pembagian obat Filaria dilaksanakan di rumah kepala dusun.

Kadus Damu, Timoteus Lada ketika dikofirmasi perihal tersebut mengakui bahwa pembagian obat di rumah miliknya bukan sengaja atau keterpaksaan. Tapi lebih pada pertimbangan strategis dan sentralnya sebuah tempat pelayanan ketika kegiatan dibludaki warga. Mengapa tidak di dilaksanakan di Posyandu? Lada menjelaskan bahwa posyandu lebih layak untuk pelayanan kesehatan anak-anak.

Menurut Lada, dari segi tempat posyandu di Damu letaknya di belakang kampung. Jadi, sangat tidak strategis. ”Pembagian obat di rumah karena letak rumah saya pas di tengah-tengah,”, papar Lada.

Untuk memperkuat alasannya, Lada juga mengatakan bahwa selain alasan tempat, pelaksanaannya juga karena atas perintah Kepala Desa Benteng Tawa, Yordanus Amandus. ”Kemarin saat pertemuan di Kantor Desa, Kepala Desa bilang nanti bagi obat Filaria di rumah Kepala Dusun Damu”, kata Lada.

Dari pantauan media ini, pada saat pembagian warga yang datang berdesak-desakan, badan dan pinggang saling gesekan, sebab pembagian obat Filaria berlangsung di dalam ruangan. Ada juga sebagian warga yang namanya belum dipanggil petugas medis, sempat berdiri di pintu rumah, ada juga yang intip lewat jendela.

Petugas medis yang melayani warga adalah Hery Ndaing dan Kartika Lamping. Dalam pelaksanaanya, petugas medis sebelum pembagian obat diadakan tes darah dan penjelasan lain terkait dampak dari penggunaan obat filaria dalam hubungan dengan kesehatan.

Hery Ndaing, menjelaskan kepada warga bahwa untuk setiap yang darah tinggi dan gatal-gatal tidak diperkenankan terima. Karena akan berdampak pada esehatan. Sedangkan bagi yang layak seperti penderita kaki gajah, cacing itu layak diterima.

Menurut Hery, usia penerima obat Filaria usia 03 sampai 70 tahun. Berdasarkan pengalaman seroang warga yang bercerita pada media ini, Rina Mander, mengatakan bahwa obat Filaria memang sangat keras. Rina mengisahkan bahwa paertama kali dirinya terima pada 1979. Menurutnya, warga saat itu ada yang meninggal, bahkan ada juga yang langsung bisu. Pada tahun tersebut, banyak warga penderita kaki gajah dan cacingan. Setelah minum obat Filaria, cacing banyak keluar dari dalam perut. Saking keras obat tersebut, sampai-sampai cacing tidak hanya keluar lewat anus, juga keluar lewat hidung dan mulut. ”Ow pak, obat Filaria memang sangat keras”, ungkap Rina. (*S Intan)