Antisipasi Gagal Panen Warga Desa Sikon Bangun Sumur Di Areal Persawahan

Lokasi Sumur di Daerah Persawahan

Lokasi Sumur di Daerah Persawahan

ZONALINENEWS – KEFAMENANU, Desa Sekon, Kecamatan Insana Kabupeten Timur Tenggah Utara (TTU) adalah salah satu desa yang sering mengalami krisis air bersih dan gagal panen ketika musim kemarau panjang tiba. Untuk mengatisipasi bencana tersebut warga Desa Sekon menggunakan anggaran Desa untuk membagun sumur di areal persawahan.

Demikian diungkapkan  Kepala Bidang Pemerintah Desa (Kabid Pemdes) Kristoforus Abi kepada wartawan di Desa Sekon, Jumat 13 November 2015, pukul 10.30 wita.

Menurutnya, program desa tersebut dilakukan secara matang dengan cara pemantauan dari pihak BPMD. “Kita sering melakukan pemantauan langsung di setiap desa agar apa yang menjadi aktifitas dan  kebutuhan disetiap desa itu kita bisa mengetahuinya  sehingga tidak disalah gunakan,” katanya.

Ia mengatakan, semua program fisik yang kini telah dijalankan di masing – masing desa di Kabupaten TTU seluruhnya masih mengunakan anggaran desa dengan pencairan baru tahap pertama. Sedangkan pencairan tahap kedua dan ketiga direncanakan akan dilaksanakan pada bulan November dan pertegahan bulan Desember 2015 mendatang. “Untuk mengatisipasi kekeringan dan gagal panen di Desa Sekon sendiri warga harus membangun sebanyak 33 sumur dan diperkirakan satu sumur harus menghabiskan biaya hingga Rp. 4.000.000,00.

Selain pembuatan sumur di areal persawahan bagi warga desa Sekon, ungkapnya di Desa Bikoni Kepala Desa mencanangkan program operasi MCK untuk puluhan warga didesa tersebut yang selama ini tidak layak digunakan menjadi semi parmanen. “Hasil survei sendiri menemukan  sebanyak 21 MCK milik warga Bikoni yang menjadi prioritas pembangunannya sehingga MCK warga sendiri bisa masuk dalak kategori layak guna. Pembagunan MCK warga sendiri tahap pertama diawali dengan pengalian lubang MCK dan akan dilanjutkan dengan pekerjaan pemmugaran atap dan pembagunan kembali atap semi permanen. Untuk membangun MCK warga semi parmanen harus memakan biaya sebesar Rp.3.150.000 untuk harga satuan unit MCK,” ungkap Kristoforus.

Kristoforus menjelaskan, dari ratusan desa di Kabupaten TTU yang telah mencairkan dana tahap awal tersebut hasil fisik pekerjaan keseluruhan telah mencapai 40 persen. “Seluruh desa saat ini hasil fisik pekerjaannya telah mencapai 40 persen dan ditargetkan akan selesai pada pertengahan bulan Desember 2015 mendatang,” ujarnya. (*hayer)