Falya Blegur Meninggal Dunia Diduga Karena Malpraktek

Kuasa Hukum M ihsan memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor KPAI

Kuasa Hukum M ihsan memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor KPAI

Zonalinenews-Jakarta, Kisah anak korban mall praktek di Rumah Sakit sering terjadi di masyarakat. Begitu juga yang dialami Ibrahim Blegur sampai saat ini belum mengetahui secara pasti sebab anaknya yang terkasih meninggal dunia, pasalnya anaknya sudah sehat, setelah muntah dan dehidrasi, setelah itu mendapat perewatan dari rumah sakit serta tindakan medis malah kondisi korban  semakin parah bahkan sampai harus kehilangan nyawanya .

Sejak Falya meninggal Minggu 1 November 2015 sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari berbagai pihak yang dianggap bertanggungjawab terhadap peristiwa tersebut .

“Hari ini saya datang ke KPAI dengan harapan suara saya di dengar. Karena sampai sekarang Rumah Sakit tidak memberi keterangan. Harapan saya dengan adanya pendampingan dari KPAI dan Satuan Tugas Perlindungan Anakbisa mengungkap penyebabkan meninggalnya anak klein kami ,”demikian diungkapkan Kuasa Hukum Ibrahim Blegur , M. Ihsan, SH., MH. M.Si Jumat 6 November 2015 via email yang diterima redaksi zonalinenews.

Menurut Ihsan, UU No. 44 Tahun 2009 pasien dapat mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Sebelumnya komisioner KPAI, Erlinda telah mendatangi rumah sakit dan Dinas Kesehatan Bekasi. Hanya sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Bekasi.

Iksan menjelaskan berdasarkan keterangan dan bukti-bukti yang ditunjukan oleh klien kami terkait dengan kasus meninggalnya anak klien kami Falya Raafani Blegur usia 1,2 tahun di Rumah Sakit Awal Bros Kota Bekasi pada hari minggu, 1 November 2015, bahwa :

  1. Rabu, 28 Oktober 2015 pagi anak klien kami masuk RS Awal Bros Kota Bekasi karena muntah-munta (diare). Menurut keterangan dr. Yenny yang menangani anak klien kami bahwa telah terjadi dehidrasi dan harus dirawat.
  2. Sekitar pukul 12.00 anak klien kami dirawat dan masuk kamar rawat inap sekitar jam 13.00. Kondisi anak klien kami sejak dirawat sampai kamis siang sudah mulai bagus dan bisa bermain dengan kakaknya walaupun tangan dalam keadaan di infus.
  3. Kamis, 29 Oktober 2015, sekitar pukul 12.00, dr. Yenny datang memeriksa anak klien kami dan dr, Yenny mengatakan “kalau ada apa-apa ke poliklinik aja”.
  4. Sekitar pukul 13.00 datang perawat dan mengatakan pada istri klien kami yang saat itu menjaga bahwa akan menyuntikan anti biotik pada anak klien kami. Istri klien kami tidak menanggapi karena tidak mengetahui prosedur penanganan klien rawat inap dan beranggapan bahwa semua sudah ditentukan oleh dokter yang bertugas.
  5. Sekitar 1 jam setelah disuntik anti biotik, menurut keterangan istri klien kami kondisi anak klien kami mulai “lemes”, minta makan, matanya merah.
  6. Sekitar pukul 15.00 terlihat perut buncit, muka bengkak, badan bengkak, di tangan ada bercak merah, tangan digigit seperti menahan sakit dan bibir biru.
  7. Sekitar pukul 15.30 klien kami datang ke rumah sakit dan langsung menekan tombol emergency dan menanyakan pada perawat dimana dr. Yenny. Perawatmenjawab bahwa dr. Yenny sudah pulang. Klien kami menyampaikan pada dokter jaga kenapa anak klien kami badannya biru dan perutnya buncit. Dokter jaga datang bawa stetoskop dan memeriksa kondisi anak klien kami, setelah itu pergi keluar tanpa menyampaikan pada klien kami bagaimana kondisi anaknya.
  8. Setelah menunggu sekitar 30 menit tidak ada dokter atau perawat datang memberikan penanganan pada anak klien kami yang kondisinya semakin memburuk, klien kami marah-marah sambil berteriak pada petugas jaga agar dipanggil dr. Yenny.
  9. Sekitar pukul 17.00 karena klien kami sudah tidak tahan dan marah-marah, anak klien kami diperiksa ulang oleh dokter jaga. Melihat kondisi anak klien kami yang sudah sangat kritis, perawat diminta mengambil oksigen dan pacu jantung serta menelpon dr. Yenny.
  10. Dalam kondisi panik tersebut, dokter jaga keluar, perawat pergi mengambil oksigen dan alat pacu jantung, datang perawat lain mau menyuntikan sunmal (penurun panas) pada anak klien kami. Klien kami menanyakan kenapa dikasih sunmal dan apakah petugas tersebut mengetahui kalau kondisi anak klien kami sedang kritis, ternyata petugas tersebut tidak mengetahui dan kaget kalau ternyata anak klien kami dalam keadaan kritis.
  11. Sekitar pukul 17.30 dr Yenny datang memeriksa anak klien kami dan meminta anak klien kami dipindahkan ke ruangan ICU.
  12. Sekitar pukul 19.00 anak klien kami dibawa ke ruangan ICU.
  13. Sekitar pukul 21.00 anak klien kami dikunjungi saudara yang berprofesi sebagai dokter. Menurut saudara tersebut bahwa anak klien kami mengalami “gagal nafas” tapi menurut klien kami bahwa sampai saat itu belum diberikan penanganan khusus oleh pihak rumah sakit.
  14. Jumat, 30 Oktober 2015, istri klien kami menanyakan kondisi anak klien kami kepada dr. Yenny, dr. Yenny menjelaskan bahwa anak klien kami bukan keracunan anti biotik dan dr. Yenny pernah menangani kasus lebih berat dari ini jadi jangan khawatir.
  15. Anak klien kami dirawat di ruangan ICU sampai meninggal hari minggu, 1 november sekitar pukul 06.30 pagi. Dibawa pulang sekitar pukul 07.00 dan dimakamkan setelah shalat zuhur.
  16. Sampai hari ini kamis, 5 november 2015 belum ada penjelasan resmi dari rumah sakit tentang kematian anak klien kami.
  17. Pihak rumah sakit, dinas kesehatan dan berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan kasus ini sudah mengadakan pertemuan dan memberikan penjelasan seputar meninggalnya anak klien kami di media massa, tapi pihak-pihak tersebut belum pernah meminta keterangan pada klien kami dan istri klien kami yang menyaksikan anak klien kami selama dirawat di rumah sakit dan menyampaikan apa hasil pertemuan yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota bekasi.

Mencermati kronologis meninggalnya anak klien kami tersebut, sesuai dengan UU Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 32 bahwa setiap pasien memiliki hak diantaranya :

  1. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
  2. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
  3. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
  4. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
  5. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
  6. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
  1. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit;
  2. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
  3. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
  4. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
  5. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan
  6. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Permasalahan dan Harapan :

Berdasarkan kronologis dan ketentuan yang mengatur tentang hak klien kami, maka ada beberapa harapan, permasalahan dan pertanyaan yang kami minta klarifikasi dan jawaban secara tertulis dari pihak Rumah Sakit Awal Bros, sebagai berikut :

  1. Penjelasan tertulis

Sampai hari ini jumat, 6 November 2015, klien kami belum pernah mendapatkan penjelasan tertulis penyebab meninggalnya anak klien kami. Justru klien kami mendapat informasi dari berbagai pihak dan media massa penyebab kematian anak klien kami, sangat disayangkan pihak Rumah Sakit Awal Bros tidak beritikad baik dalam memenuhi hak klien kami sebagaimana diatur dalam peruu yang berlaku. Karena itikad baik klien kami untuk menyelesaikan masalah ini dengan pihak Rumah Sakit Awal Bros, maka kami minta penjelasan tertulis penyebab kematian anak klien kami.

  1. Kejanggal Penanganan

Petugas Rumah Sakit Awal Bros tidak pernah melakukan tes awal atau treatmen yang dibutuhkan untuk mengetahui apakah anak klien kami cocok diberikan anti biotic atau tidak. Pada saat memberikan anti biotic kepada anak klien kami, petugas hanya memberitahukan akan memberikan anti biotic pada infuse tapi tidak pernah menjelaskan apa fungsi dan kegunaan anti biotik, kenapa anak kami diberi anti biotik dan tidak pernah meminta persetujuan kepada istri klien kami atau klien kami untuk diberikan anti biotik. Pada saat petugas memberitahukan, istri klien kami tidak mengetahui apakah pemberitahuan petugas tersebut maksudnya persetujuan atau sekedar menyapa karena melihat istri klien kami ada ditempat tersebut. Jika pihak rumah sakit mengatakan di media massa bahwa klien kami telah menyetujui pemberian anti biotik, kami minta ditunjukan bukti persetujuan tersebut.

  1. Respon yang lambat

Klien kami panik ketika mengetahui bahwa anaknya dalam kondisi kritis ditandai dengan badan bengkak, muka bekak, perut buncit, bibir biru, jari digigit karena menahan rasa sakit tapi respon petugas Rumah Sakit Awal Bros sangat lambat, kami minta penjelasan tertulis dan dibentuk tim investigasi independen untuk menentukan apakah ada kelalaian petugas dalam penanganan anak klien kami.

  1. Tanggung Jawab dan Kewajiban Rumah Sakit

Setelah anak kami meninggal, sampai saat ini Klien kami tidak mendapatkan perhatian dan penjelasan yang memadai dari pihak Rumah Sakit Awal Bros, sehingga klien kami merasa tidak memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi (poin c pasal 32 UU 44/2009). Kami minta penjelasan dan klarifikasi dari pihak rumah Sakit Awal Bros.

  1. Dokumen terkait pedoman dan SOP RS Awal Bros

Kami minta SOP dan pedoman Rumah Sakit awal Bros sebagaimana yang diatur dalam UU Kesehatan bahwa klien kami berhadap mendapat informasi, penjelasan dan keterangan tentang sistem pelayanan rumah sakit.

  1. Tim Investigasi Independen

Kami meminta dibentuk tim investigasi independen untuk mengungkap fakta terkait dengan meninggalnya anak klien kami dan jika Rumah Sakit Awal Bros tidak berkompeten melakukan hal tersebut, kami mengharapkan Rumah Sakit Awal Bros mengajukan permohonan kepada Kementerian Kesehatan RI untuk membentuk tim investigasi independen dalam menangani kasus meninggalnya anak klien kami. (*tim)