Pedagang Pasar Inpres Bajawa Siap Layani Konsumen Dengan Merintis Tradisi Pasar Malam

Pasar Inpres Bajawa

Pasar Inpres Bajawa

Zonalinenews NGADA, Ratusan pedagang yang terus bertambah dari waktu ke waktu mendukung azas manfaat penggunaan Pasar Inpres untuk roda perekonomian para pedagang di Kabupaten Ngada Flores, memberikan sinyalemen positif untuk membuka tradisi pelayanan bagi konsumen tidak hanya pada waktu siang hari tetapi bertekad mendorong jam pelayanan bagi konsumen hingga malam hari. Pasalnya inisiatif muncul melalui sejumlah pertimbangan yang telah melalui pembahasan Forum Asosiasi Perjuangan para Pedagang Pasar Inpres Bajawa.

“Tekad kami pedagang untuk membuat keseimbangan pelayanan bagi konsumen di jantung kota Bajawa sudah final. Mengapa di daerah-daerah lain orang bisa dandan kota mereka dengan berbagai jam pelayanan sampai malam hari, tetapi di Ngada kalau sudah jam lima sore pemandangan kota Bajawa seperti kota mati. Kami berinisiatif mendorong jam pasar sampai malam hari sebab selain konsumen terbantu dengan akses pelayanan pasar, kami pedagang juga dimudahkan untuk perputaran ekonomi kami. Soal ketertiban kami komit untuk menjadi pedagang yang mendukung kamtibmas dan kami akan menyampaikan hal ini kepada pemerintah, Polres, Lembaga DPRD, Kejaksaan, Hakim, media masa dan LSM ataupun ormas-ormas yang ada di Ngada. Kami minta pikiran dan tekad ini didukung karena ini juga untuk Ngada”, ungkap Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Inpres Bajawa, Ibu Oce, 10 November 2015.

Meski transisi pemerintahan masih nampak fakum melakukan penataan Pasar Inpres Bajawa, pantauan media ini, sejumlah aksi positif para pedagang dibawah pendampingan Forum Asosiasi mereka dan Forum Masyarakat Ngada Diaspora nampak telah berhasil mendorong sejumlah pekerjaan swadaya di Pasar Inpres Bajawa.

Menurut Ketua Asosiasi Pedagang, Ibu Oce, setelah memanfaatkan kembali Pasar Inpres yang sebelumnya ditutup paksa, para pedagang melakukan penataan kawasan pasar, membuat tenda-tenda untuk berdagang, bersepakat menjaga kebersihan, bersepakat tidak menggunakan area trotoar jalan di depan Pasar Inpres sebagai tempat jualan, melakukan pengacatan bangunan pasar, mengaktifkan system penerangan Pasar Inpres dengan biaya swadaya para pedagang dan saat ini sedang dilakukan sejumlah aksi nyata untuk mendorong jam pelayanan bagi konsumen hingga malam hari. Monika, pedagang lombok asal Beiposo yang sebelumnya berjualan di Pasar Boubou Bajawa, kepada media ini 10 November 2015 mengungkapkan isi hatinya saat disambangi wartawan.

“Dulu saya jualan di Pasar Boubou. Terus terang nasib saya hancur saat berjualan disana. Mau melawan tapi tidak berdaya. Saya terpaksa ikut-ikut demo tandingan melawan teman-teman saya yang berjuang untuk kembali ke Pasar Inpres ini. Waktu berjualan di Pasar Inpres, dalam satu hari lombok saya laku paling tinggi dua puluh empat ribu dalam sehari. Banyak lombok membusuk karena orang tidak datang kesana. Sekarang saya sudah merasa bahagia, karena dalam satu hari ratusan ribu lombok saya laku terjual. Pasar Inpres memang tidak boleh ditutup karena pasar ini letaknya sudah diatur agar kami tidak bangkrut. Jadi saya harap siapapun Bupati Ngada kedepan, tolong jangan lagi buat kami menderita dan tutup pasar inpres,karena sumpah demi Tuhan, ini pasar adalah tempat hidup kami para pedagang”, tutur Moni. (*wrn)