PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PIPA DANA APBN 2015, KEDEPAN AKAN DIBONGKAR LAGI

Bupati Rote Ndao Drs Leonard Haning,MM  dan Ketua Forum Adat  Johanis B.Ndolu

Bupati Rote Ndao Drs Leonard Haning,MM dan Ketua Forum Adat Johanis B.Ndolu

Zonalinenews-BAA, Pembangunan jaringan pipa di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur yang dibiayai oleh APBN Tahun anggaran 2015 sebesar Rp. 16,7 Miliard terindikasi pekerjaan tidak sesuai perencanaan karena asal jadi dan terkesan pelaksanaan pekerjaanpun tanpa mendapat kajian terlebih dahulu oleh semua pihak terkait proyek.

Sementara pelaksanaan pekerjaan diduga tidak sesuai perencanaan hingga masalah tersebut akan mengundang inspektorat kementerian akan turun lapangan untuk memeriksa kebenaran indikasi pekerjaan bermasalah di lokasi dalam waktu dekat.

Kemudian terungkapnya hal lain ke permukaan ketika Bupati Rote Ndao dan Ketua Forum Adat Kabupaten Rote Ndao mulai angkat suara soal pelaksanaan pekerjaan yang dinilai kurang tepat dan tanpa sosialisasi.

Bupati Rote Ndao, Drs Leonard Haning,MM. Senin 16 Nopember 2015 sekitar pukul 15: 51 Wita di Pengadilan Negeri Rote Ndao mngatakan, pelaksanaan pekerjaan pembangunan jaringan sistim penyediaan air minum (SPAM) dinilai olehnya kurang tepat.

Hal ini menurut Bupati Rote Ndao dua periode ini pelaksanaan pekerjaan oleh pihak kontraktor tidak memperhatian jangka panjang pemanfaatan jaringan yang dikerjakan dan ruang penempatan galian perpipaan sehingga galian jaringan pipa sangat dekat dengan badan jalan.

Selanjutnya, Jelas Lens Haning, pekerjaan galian yang dikerjakan kontraktor kedepan akan dibongkar lagi saat pelebaran pembangunan jalan, hal ini seharusnya menjadi perhatian kontraktor sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan bernilai Rp 16, 7 M tersebut.

Dikatakan pula, pekerjaan galian untuk jalur jaringan pipa semestinya paling kurang tiga meter jaraknya dari badan jalan sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan pembangunan kedepan, khususnya pelebaran jalan di Kota Baa sebagai ibu kota kabupaten.

“ Kalau kontraktor kerja galian pipa jangan dekat badan jalan. Seharusnya jarak paling kurang tiga meter dari badan jalan nantinya ketika pelebaran jalan kedepan itu akan dibongkar seperti yang sudah terjadi,” ujar Lens Haning.

Sementara Johanis Bernabas Ndolu, Ketua Forum Adat Rote Ndao dikediamannya 14 Nopember 2015 pukul 20:34 wita mengatakan kekesalannya terhadap semua pihak yang terkait dengan proyek tersebut yang dinilainya tidak terbuka dengan masyarakat.

Menurut Jhon Ndolu, proyek bernilai miliaran rupiah tersebut tidak disosialisasi terlebih dahulu sehingga dalam pelaksanaannya tidak mendapat dukungan dari masyarakat walaupun manfaatnya akan diterima oleh masyarakat.

Ia, mengakui baru tahu adanya pembangunan jaringan air minum setelah pihak kontraktor melakukan penggalian didepan rumahnya dijalan Nusaklain – Lekunik dan melihat adanya pembangunan bak penampung berkapasitas besar di sekitar perkanrtoran Ti.i Langga Permai beberapa waktu yang lalu.

Selanjutnya, sebagai pemilik sumber air Oemau; setelah mengetahui akan hal tersebut, dirinya pernah menanyakan kegiatan pembangunan itu didukung oleh sumber air dari mana kepada Plt Direktur PDAM Rote Ndao Ir Yahya B.F.Sodak namun dia berjanji untuk datang menemuinya dirumah tetapi hingga saat ini hal tersebut belum terpenuhi.

Menurut John Ndolu, memang tanah air dan udara dikuasai oleh Negara dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat akan tetapi dirya sebagai pemilik merasa tidak pernah mengetahui kalau pihak pemerintah dan kontraktor menyampaikan akan pemanfaatan sumber air miliknya.

Dijelaskan pula, sumber air Oemau selama ini telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air seluruh masyarakat umum namun tidak ada upaya untuk melestarikan lingkungan sumber air ini sehingga dirinya kuatir satu ketika sumber air ini bisa berkurang hingga kering.

Pembangunan fisik disekitar sumber air Oemau semakin padat dan pohon pohon besar yang selama ini menjadi penyangga sumber air sudah lenyap dibabat habis karena pembangunan pemukiman penduduk.

Selain itu, sumber mata air Oemau juga mengairi areal persawahan ratusan hektarnya baik di wilayah kelurhan Mokdale, desa Baadale dan terus ke sejumlah areal di perbatasan Kecamatan Lobalain dengan Rote Barat Laut.

Untuk tahun ini beberapa hektar sawah di Boisan – Baadale mulai terancam gagal panen akibat kurangnya sumber air karena sumber air Oemau tidak lagi dijinkan pihaknya untuk mendukung dan menjadi sumber air bagi pembangunan yang sedang dikerjakan saat ini.

Sesuai dengan rencana kami dalam waktu dekat ini Kata Ndolu, akan melakukan rapat dengan seluruh tokoh adat dan penerima manfaat air Oemau untuk pertanian dan mereka secara bersama akan sepakat tidak lagi mengijikna sumber air Oemau dimanfaatkan.

Untuk pembangunan jaringan baru ini tujuan pemanfaatannya juga bagi masyarakat Desa Oelunggu kenapa tidak ambil sumber air saja dari Tanggaloi yang juga ada di wilayah Oelunggu tapi harus dari Oemau yang sudah melayani masyarakat di ibu kota Baa.

“saya akan palang sumber airnya dan tidak lagi mengijinkan untuk digunakan” Ujar Ndolu bernada tegas.

Sementara Plt Direktur PDAM Rote Ndao yang dihubungi di ruang kerjanya 16 Nopember 2015 membantah kalau soal urusan proyek dan sumber air Oemau masih diluar kewenangannya dan mengakui tidak pernah membuat janji dengan pemilik sumber air dalam hubungannya dengan pekerjakan pembangunan jaringan air minum bernilai miliaran rupiah saat ini.

Sementara Direktur PT Karang Teguh Abadi sebagai salah satu pelaksana proyek Pembangunan Sistim Penyediaan Air Minum (SPAM) NTT, yang lokasi pelaksanaan pekerjaannya di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur dan sumber airnya akan diambil dari sumber air Oemau saat di temui melalui pelaksana lapangannya Charles Besin mengakui pembangunan bak penampung berkapasitas 500 liter kubik sudah mencapai 80 persen.

Menjawab pertanyaan terkait jatuh tempoh masa kontrak pekerjaan yang berakhir 25 Oktober 2015 yang lalu sebagaimana terjadi perubahan waktu kalender kerja yang ditempel dengan kertas bertulisan 210 hari tanpa merubah papan informasi dan nomor kontarak jika ada addendum pekerjaan. Charles mengakui belum ada perpanjang pekerjaan atau addendum pekerjaan

Sementara pantauan Zonaline News atas adanya pekerjaan pipa yang di las karbit tidak menggunakan klam sadle, , over shock dan Kenny. Charles menjelaskan kalau hal tersebut dilakukan sesuai dengan perencanaan dan kontrak pekerjaan

Seperti berita Zonaline News sebelumnya, Ketua KNPI NTT Hermanus Boki melalui   telpon genggamnya nomor: 085238596xxx 15 Nopember 2015 pukul 19:28 Wita. yang lalu. Ia mengatakan, dari sisi perencanaan seorang perencana sudah menghitung seluruh estimasi waktu pelaksanaan, mulai dari mobilisasi sampai dengan selesai pelaksaan. Kecuali, ada kejadian yang sangat luar biasa. barulah dilakukan adendum.

Pertanyaannya adendum yang dilakukan oleh perencana bersama PPK dan kontraktor itu dasarnya apa? Kalau keterlambatan dan kelalain kontraktor pelaksana dalam pekerjaannya maka tidak semudah itu perencana dan PPK membuat adendum dan itu seharusnya diatur dalam kepres terkait hal-hal yang jadi pertimbangan adendum. Jelasnya.

Untuk itu, kontraknya harus dilihat kembali terkait dengan masa produksi material pipa terkait dengan merk dan tahun produksi, sedangkan seadainya pipa yang diminta merk A diberikan merk Z otomatis itu salah.

Menurutnya, merk dan kualitas tentu berbeda jika merk spindo 2010, spindo 2013 dan merk bakri yang digunakan pasti berbeda kualitasnya dengan produksi tahun 2015 sesuai dengan tahun anggaran yang ditetapkan dalam APBN dan hal tersebut dikategori penyimpangan terhadap spesifikasi material proyek yang termuat dalam dokumen proyek.

Menurut Hermanus Boki, Kalau pipa untuk distribusi air maka harus mengunakan Klam, ada over shock dan kenny dan itu ada dalam item spesifikasi kenapa dalam pelaksaan oleh kontraktor justru di lakukan dengan cara sambungan menggunakan cara las karbit. Ini sebuah tindakan yang tentunya merugikan masyarakat dan bersinggungan dengan hukum.

Pantauan Zonaline News, 17 Nopember 2015, Untuk pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT Karang Teguh Abadi, misalnya ditemukan sejumlah pipa yang digunakan yang diduga tidak sesuai spek yakni jenis Pipa GIP berlebel spindo 2010, 2013, dan jenis pipa bakri. Kemudian satu iteam pekerjaan pada sambungan pipa tidak menggunakan klam sadle, over sock dan Kenny tetapi disambung dengan cara las kabit. (*Arkhimes Molle/Riyan Tulle)