Sidang Kasus Anggota Sat Pol PP Ronda, Penyidik dihadirkan

Ilutrasi Sidang

Ilutrasi Sidang

Zonalinenews-BAA, Dua Anggota penyidik Polisi Sektor (Polsek) Lobalain – Polres Rote Ndao – Nusa Tenggara Timur dimintai keterangan di hadapan majelis hakim terkait hasil penyidikan kasus pidana Yoel Timu, Anggota Sat. Pol PP pada lingkup Setda Kabupaten Rote Ndao.

Kedua anggota penyidik Polsek Lobalain tersebut adalah Bripka Indra Suryawan,SH (Indra) dan Briptu Farid Yudi Permana.(Farid).

Indra dan Farid dihadirkan dalam sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri Rote Ndao Rabu 11 Nopember 2015 kemarin karena terdapat beberapa poin dalam dokumen penyidikan perkara tersebut dibantah dan tidak diakui oleh para saksi dan korban.

Selain itu kebenaran keterangan saksi korban dan saksi –saksi yang dihadirkan dalam persidangan untuk memperkuat keterangan saksi korban Yoel Timu diragukan oleh majelis hakim bahkan diduga saksi memberikan keterangan bohong.

Pantauan Zonaline News di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Rote Ndao Rabu 11 Nopember 2015 siang, dua anggota penyidik Polsek Lobalain diperhadapkan dengan majelis hakim untuk memberikan keterangan sehubungan dengan sejumlah bantahan saksi atas hasil pemeriksaan penyidik

Kedua penyidik dalam keterangannya didepan majelis hakim, menjelaskan, kalau semua keterangan kesaksian yang terungkap dalam dokumen hasil penyidikan adalah berdasarkan keterangan saksi saksi. Baik, saksi korban Yoel Timu maupun saksi   Andriani Anita Ratu, Sarlota Killa dan Mas Takur saat penyidik melakukan pemeriksaan di Polsek Lobalain.

Selanjutnya sebelum kesaksian para saksi membubuhi tanda tangan diatas dokumen hasil penyidikan dipersilahkan membaca terlebih dahulu dan penyidik kembali menanyakan kepada para saksi “apakah keterangan saudara sudah benar sesuai dengan yang saudara saksi sampaikan, apakah tidak ada lagi yang perlu disampaikan?” barulah para saksi menandatangani berkas. Jelas Penyidik Indra maupun Farid di hadapan majelis.

Selain itu, disaksikan majelis hakim, Jaksa, Penyidik dan Mas Takur di meja majelis soal perbedaan tanda tangan pada dokumen yang dibantah Saksi Mas Takur kalau dirinya tidak menanda tangani berkas tersebut namun akhirnya saksi Mas Takur mengakui karena keterangan yang termuat pada berkas tersebut dibenarkan olehnya.

Kemudian dihadapan majelis, Penyidik Indra mengungkap ketidakbenaran kesaksian Saksi Cindi Ratu yang menerangkan dipersidang kalau saat pristiwa dirinya sedang sakit dan tidak mengetahui masalah yang terjadi pada malam kejadian

Menurut Indra kesaksian Cindy Ratu tersebut bohong karena saat keesokan harinya penyidik mendatangi rumah saksi dalam keadaan sehat dan bahkan dengan berapi api menceritakan asal dan sebab pristiwa yang terjadi dirumahnya malam itu. Ungkap Indra.

Sementara Andriana Anita Ratu yang mempersoalkan kesaksiannya bahwa korban di pukul dengan botol yang di duga olehnya kalau keterangan tersebut diabaikan penyidik, didepan penyidik, Jaksa dan majelis, Ia tidak bisa perkuat dengan fakta karena korban sendiri dalam keterangannya kepada majelis tidak diungkapkan dalam persidangan.

Selain itu untuk memperkuat keterangan Sarlota Killa dan Andriana Anita Ratu, menunjukan hasil rekaman saat diperiksa oleh penyidik. yang dalam keterangannya soal korban dipukul dengan botol itu baru diungkapkan saat konfrontir dengan Terdakwa tetapi pada berkas keterangan saksi tidak termuat.

Sebagaimana sidang sebelumnya yang digelar di Pengadilan Negeri Rote Ndao Rabu 04 Nopember 2015 pekan lalu, yang dilansir Zonaline News, perkara dengan nomor:30/Pid.b/2015/PN RNO.170(1)sub.351(1). Saksi korban Anggota Sat Pol. PP, Joel Timu dalam kesaksiannya mengatakan dirinya dipukul oleh para terdakwa masing masing sebanyak satu kali kemudian dilempar dengan batu dan dipukul dengan kayu oleh terdakwa saat dirinya berada di rumah saksi Mas Takur dan Andriani Anita Ratu. diwilayah Rt 12 Rw 05 Kelurahan Metina Kecamatan Lobalain Sekitar pukul 22:15 wita.

Saksi korban menjelaskan kalau dirinya berada dirumah saksi Andriani Anita Ratu terkait urusan pekerjaan proyek dengan suami Andriani., Mas Takur.

Dia(Saksi korban) datang kerumah setelah adanya perjanjian saksi Koran dan saksi Mas Takur via telpon untuk bertemu disekitar jam 17:00 atau 18:00 wita kemudian Dia datang namun saksi Mas Takur tidak berada dirumah karena masih berada ditempat kerjanya sebagai tukang bangunan.

Menjawab pertanyaan majelis hakim, Andriani mengakui kalau saksi korban selama ini hanya baru pernah tiga kali datangi rumahnya.

Selanjutnya. Saksi korban kemudian menunggu dari Jam 17:00-pukul 21:00 wita sambil bercerita dengan Andriani dan saksi Sarlota Killa dipekaran rumah. Mereka bertiga duduk diatas kuburan namun sepanjang saat itu dirinya tidak melihat dan atau saksi Cindy Ratu tidak ada hingga terjadinya pristiwa pemukulan terhadap dirinya

Sementara Saksi Andriani dan Sarlota dalam kesaksiannya menuturkan kalau para tersangka memukul saksi korban masing masing lebih dari dua kali dengan tinju, tendang, memukul dengan kayu dan melempar saksi korban dengan batu kemudian saksi korban dipukul dengan botol.

Sementara soal tersangka memukul saksi korban dengan botol. Andriani mengatakan saksi korban dipukul dengan botol warna daun teh dan sementara pengakuan Sarlota adalah botol berwarna hijau.

Selain itu saksi Andriani mengakui kalau saksi korban karena menunggu Mas Takur yang malam baru pulang sehingga saksi korban sempat pulang dan baru kembali menemui Mas Takur sekitar jam 21:00 malam.

Selanjutnya Andriani dan Sarlota mengakui kalau Cindy berada dirumah hanya karena sedang sakit maka dia bersama anaknya dikamar.

Sementara terkait dengan pristiwa penganiayaan terhadap saksi korban, Mas Takur akui saksi korban dipukul oleh tersangka masing masing lebih dari dua kali.

Selanjutnya Cindy . S. Ratu, mengakui berada dirumah namun dirinya sakit dan anaknya juga sakit sehingga dirinya tertidur dan tidak mengetahui terjadinya pristiwa.

Dirinya baru tahu kejadian yang menimpa saksi korban pada keesokan harinya dari ibunya Andriani Anita Ratu. Katanya.

Untuk keterangan saksi Andriani dan Sarlota Killa yang terkesan tidak benar dan nampak kebohongan mereka dalam bersaksi membuat suasana sidang memanas dan Majelis kepada mereka dinilai memberikan keterangan bohong karena apa yang disaksikan jauh berbeda dengan keterangan Saksi korban Yoel Timu.

“Bagimana saksi memberikan keterangan yang tidak dialami oleh saksi korban. Sakso korban yang merasakan atau saksi yang merasakan. Saksi korban mengakui dipukul satu kali dan dipukul dengan kayu tetapi saksi Andriani dan Sarlota memberi keterangan didepan persidangan kali saksi korban dipukul beruntung lebih dari dua kali dan dipukul juga dengan menggunakan botol. Jangan memberikan keterangan bohong karena saksi yang berbohong didepan majelis persidangan ancamannya lebih berat dari tersangka. ” Jelas Majelis kepada saksi korban Yoel Timu dan saksi Andriani bersama Sarlota Killa.

Selanjutnya hal teguran pula datang dari Jaksa penuntut umum dalam perkara ini karena menilai keterangan saksi korban Yoel Timu dan saksi saksinya memberikan keterangan yang jauh berbeda dengan keterangan saat diperiksa pihak penyidik Polsek Lobalain.

Untuk membenarkan keterangan saksi sebagaiman pada berkas perkara yang ditanda tandatangani saksi, Jaksa sempat meninggalkan tempat duduknya untuk menunjukan berkas ke meja Majelis hakim dan disaksikan langsung oleh saksi Andriani.

Sementara Saksi Octovianus Penna, menjelaskan kalau saat kejadian dirinya sebagai Ketua RT 12 RW 05 Kelurahan Metina menolong saksi korban Yoel Timu dari amukan dan pukul tersangka.

Kemudian saksi Nitanel Ndolu, didepan Majelis mangatakan dirinya ada ditempat kejadian setelah mendapat laporan warga kalau di dalam rumah saksi Andriani A. Ratu dan Mas Takur ada Saksi korban Yoel Timu yang sudah sejak dari siang hingga sudah larut malam belum juga pulang.

Sesampainya saksi Nitanel disana Jelas Nitanel, Ketua Rt 12 Octovianus Penna juga tiba di TKP disusul dengan kejadian pemukulan terhadap saksi korban Yoel Timu karena Saksi korban Yoel Timu keluar dari dalam rumah sambil melontarkan kata dan sikap kasar dengan ketua RT12. diikuti saksi Cindy S Ratu.

Saat Majelis hakim memberikan kesempatan bagi tersangka.untuk konfrontir kesaksian para tersangka menrima sebagian keterangan saksi dan menolak sebagiannya.

Tersangka, Adi P.S.Penna, Yonatan P.Penna, Jean A.Adu, Albert O. Kisse, mengakui tindakan mereka memukul saksi korban seperti ketrenagan saksi korban didepan majelis hakim. Kecuali tersangka Handri M.Ndun dan Meki Foenale. Menolak seluruh keterangan saksi karna terjadinya priatiwa kedua tersangka tidak berada di TKP, keduanya baru datang ke TKP setelah sudah kejadian tersebut sudah diamankan.

Tersangka, Adi P.S.Penna, Yonatan P.Penna, Jean A.Adu, Albert O. Kisse menolak keterangan saksi Andriani, Sarlota dan Cindy karena keterangan saksi dinilai tidak benar.

Seperti penolakan keterangan saksi korban Yoel Timu oleh Tersangka, Adi P.S.Penna bahwa pihaknya telah melakukan upaya damai beberapa kali namun gagal karena tuntukan perdamaian yang dikehendai saksi korban melampau kemampuan mereka karena saksi korban menuntut denda adat sebesar Rp. 250 juta.

Tersangka, Adi P.S.Penna, Yonatan P.Penna, Jean A.Adu, Albert O. Kisse mengakui memukul saksi korban dengan tangan bukan dengan batu maupun kayu.

Selanjutnya, kejadian tersebut terjadi dari hasil pengamatan mereka sejak siangnya kalau motor saksi korban sedang diparkir dijalan raya dan saksi korban diduga bersama saksi Cindy sedang berada didalam rumah namun saksi Sarlota yang sedang duduk diluar yang diduga melindungi saksi korban dan saksi Cindy, saat ditanyakan keberadaan Saksi korban yang sudah diamati sejak siang diperoleh alasan dari saksi Sarlota kalau saksi korban sedang pergi membeli rokok di kios Jakarta yang jaraknya sekitar 200an meter dari TKP.

Saksi Cindy, diakui tersangka kalau memberikan keterangan bohong karena saat itu tidak kelihatan sakit sebagaimana keterangannya didepan majelis karena pada saat meledaknya pristiwa saksi Cindy yang keluar bersama saksi korban Yoel Timu dari dalam rumah sempat melontarkan teriakan “lapor polisi, lapor polisi” Ujarnya. Hal ini juga diakui tersangka lainnya.

Perkara pidana pasal 351 KUHP ini digelar dan menghabiskan waktu lebih dari 4 jam. Majelis Hakim yang memimpin jalannya persidangan tersebut adalah hakim Ketua dipimpin langsung oleh Ketua PN Rote Ndao, Hiras Sitanggang, SH.MH, Hakim Anggota I. Sisera S.N. Nenohayfeto,SH dan Hakim Anggota II. Fransiskus X. Lae,SH. dan JPU dari Kejaksaan Negeri Baa – Rote Ndao Alexander Selle,SH. (*Arkhimes Molle)