Uskup Larakntuka dan Ketua dan Panitia Pembanguan SMK

SMK PARIWISATA DAN KELAUTAN LIKOTUDEN-KAWALELO DAN SEJARAHNYA

Uskup Larakntuka dan Ketua dan Panitia Pembanguan SMK

Uskup Larakntuka dan Ketua dan Panitia Pembanguan SMK

Zonalinenews- Larantuka, Ditengah carut-marut situasi dan tingginya suhu  politik terkait  Pilkada  Flores Timur namum, jauh dari hingar-bigar politik  desa Likotuden, desa yang akrab dengan kesunyian dan ketertinggalan dengan keterbatasan serta mininya Fasilitas untuk bisa dibanggakan, perlahan-perlahan mulai berubah. Bak  pengantian wanita yang tengah bersolek mananti pinangan sang arjuna, suasana desa mulai terlihat hidup dan berseri. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya di desa ini tengah dibangun Gedung SMK Pariwisata dan Kelautan yang nantinya akan menjadi ikon kebanggaan masyarakat Likotuden-Kawalelo.

Tokoh dibalik suksesnya geliat pembangunan gedung SMK adalah Mgr. Fransiskus Kopong Kung Pr,  Uskup Keuspukan Larantuka dan Yayasan Angkat Citra Orang Papa (Ancop)-Indonesia.

Ketika Zonalinenews menyambangi lokasi pembangunan Gedung dimaksud Sabtu, 6 Agustus 2016  menyempatkan diri bertemu dengan Yang  Mulia Mgr. Kopong Kung, Pr yang kebetulan pada hari itu tengah mendampingi Panitia Pembangunan SMK (Ancop) mengecek  perkembangan  fisik bangunan sekolah tersebut.

Dalam bincang-bincang, Uskup Kopong Kung, Pr bercerita banyak hal, termasuk sejarah ide pembangunan SMK Pariwisata dan Kelautan dimaksud.

“Ide pembuatan berawal dari perayaan 5 abad Tuan Ma  pada 2010 lalu. Setelah 500 tahun keberadaan Tuan Ma di kota Reinha,  menjadi pertanyaan seperti apa peranan agama Katholik, peranan iman di keuskupan Larantuka, dan gereja buat apa saja. Agama katholik, iman itu seperti apa? Semua ini pertanyaan besar. Dunia pendidikan Flores Timur pernah dibangga-banggakan. Iman harus memacu kita, mengubah hidup dan  membuat hidup lebih sejahterah termasuk bidang pendidikan yang bermutu,” tututrnya.

Lanjutnya,  Berdasarkan ini maka muncul pikiran bahwa  untuk mengubah semua ini, adalah pendidikan. Pendidikan yang menjadi pintu perubahan. Maka pilihan adalah pendidikan. Dalam rangka perayaan 5 abad Tuan Ma, dirinya berdiskusi dengan beberapa tokoh Katholik Larantuka di Jakarta,  pihaknya  menggodok ide untuk mendirikan sebuah sekolah.

“ketika masyarakat Likutoden-Kawalelo kasih saya empat hektar tanah, saya mebayangkan satu SMA  Katholik yang bermutu, dikelolah dengan baik akan dibangun di sini (Likotuden). Dalam benak saya, sekolah ini seperti  SMA Syuradikara yang ada di Ende, nantinya hadir di sini,”Jelasnya.

Ide ini muncul Katanya , Ia lontarkan kepada masyarakat, tetapi masyarakat  belum tahu sekolah seperti apa yang saya maksudkan. Setelah, bertemu tim khusus dari Jakarta, orang yang nantinya membantu pembangunan sekolah ini, tetapi  karena menemui banyak kesulitan dalam perjalanan akhirnya recana tersebut tidak jadi.

Ia menambahkan, menghadapi kenyataan yang serba sulit, dirinya  belum menyerah terus berusaha.  Akhirnya dirinya bertemu dengan satu tim dari Jakarta, dari Ancop yang datang ke Larantuka, dimana Ancop ini mempunyai dana sosial beasiswa untuk anak-anak yang memiliki prestasi akademik, namun orang tua mereka tidak atau kurang mampu membiayai persekolahan mereka. Mereka menemui saya dengan maksud apakah mereka boleh mendata anak-anak tersebut dan selanjutnya akan diberi beasiswa.

Saya bilang begini “kalau mau mendata, anak-anak seperti itu banyak sekali  di sini. Apakah program seperti ini sifatnya tetap atau hanya sesaat saja…? Kalau hanya sesaat saja maka tidak terlalu menolong, karena kalian bisa biaya sekarang tapi tahun berikut siapa yang biaya? Maka saya bilang, apa boleh uang kamu yang ada itu, kamu kumpulkan dan kita cari jalan dan kamu beri saya satu sekolah. Bukan sekedar beasiswa tapi, berikan kepada saya satu sekolah untuk kepentingan anak-anak di sini,” ceritanya.

Tahun 2013,  katanya dirinya  diundang ke Jakarta bertemu para donatur di sana dan diskusi, tentang apakah Ancop bisa bangun.

“ dari diskusi itu, mereka bersedia bangun sebuah sekolah tapi jangan SMA. Bagaimana kalau SMK. Dengan pertimbangan, out put dari SMK ini nantinya  langsung bisa mendapatkan pekerjaan dan saya katakan okeylah, seperti juga ide saya. Yayasan Ancop ini, punya kaitan secara internasional maka saya diundang ke Filipina setelah gagasan saya disebarkan lewat brosur-brosur,” jelansya.

Tahun 2014, Lanjutnya, ia  diundang dari Manila-Filipina untuk presentasi ide sekolah ini. Di sana dirinya menggambarkan sekolah ini seperti apa, dan disambut dengan baik. Dalam tahun yang sama, sekelompok anak muda dari Australia datang  Live in (tinggal di sini) di Likotuden  selama satu minggu. Setelah mereka kembali ke Australia, mereka membuat suatu gerakan penggalangan dana dan mengirimkan ke saya sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) yang  diperuntukan pembangunan sekolah, seperti yang anda lihat sekarang ini, “jelas Yang Mulia Uskup Larantuka.

Ia menambahkan , andaikata ada banyak pihak yang pro terhadap pembangunan dunia pendidikan bukan tidak mungkin, SDM kita ke depannya akan lebih jauh lebih maju.(*Boney)