FPI NTT ANGGAP AGAMA JADI TAMENG POLITIK, ITU PRIMITIF


Masa FPI NTT Pose Bersama .jpg

Masa FPI NTT Pose Bersama .jpg

Zonalinenews, Kupang. Front Pembela Indonesia Nusa Tenggara Timur (FPI NTT) Kebhinekaan turut bergabung dalam Forum Kemajemukan Flobamorata NTT untuk turun ke jalan dalam rangka menyuarakan aspirasi masyarakat NTT pada Kamis 17 Agustus 2016 pukul 10.00 wita.

Kepada Zona Line News, Pembina Front Pembela Indonesia (FPI) Kebhinekaan Junaidin Mahasan mengatakan agama di Republik Indonesia ini dikatakan yang sah itu membawa ajaran yang suci sesuai yang diamanatkan pancasila. Jika ada oknum yang menjadikan agama sebagai tameng untuk merebut kekuasaan, itu adalah cara yang primitif untuk merongrong pancasila. Untuk itu kami akan melawan cara – cara primitif itu.

Lenjutnya, demokrasi Indonesia sedang diuji. Kebhinekaan yang merupakan sumbu perekat utama NKRI sedang dicopoti. Sekelompok elit sedang bermain-main dengan mandat rakyat kepada pemerintahan yang sah. Kelompok intoleran sedang berupaya merongrong simbol-simbok negara Pancasila.

Untuk itu, lanjut Jun bahwa Front mendesak Presiden Jokowi untuk menetapkan Intoleransi sebagai ancaman nasional dan memerintahkan Kapolri agar menindak tegas upaya-upaya yang hendak membelokkan arah demokrasi Indonesia, termasuk menuntut  agar pelaku tindakan penghinaan kepada Presiden Jokowi segera ditangkap.

Sementara itu Ketua Forum Pembela Indonesia (FPI) Khebinekaan Kanisius To mengatakan situasi pilkada DKI bukan lagi hanya soal politik pemenangan kandidat. Akan tetapi sudah mengancam integrasi bangsa ini. Terutama dengan lahirnya organisasi radikalis dan fundamentalis yang menjalankan politik rasisme.

Lanjutnya, front ini terlahir untuk menyuarakan pentingnya toleransi. Front ini bergerak melihat sisi kemanusiaan dan anti politik rasisme. Bhineka, UUD, NKRI dan Pancasila itu Harga Mati. Jika ada upaya untuk mengganggu itu, FPI NTT ini berdiri untuk melawan.

“Dari sisi toleransi, di NTT ada ketua DPRD NTT dari muslim meskipun NTT ini agama Islam itu minoritas. Ini perlu dijadikan contoh untuk menjalankan keutuhan NKRI,” tegas Kanisius

Sehingga, lanjut Kanisius bahwa FPI NTT ini memilih garis sejarah untuk membela kebinnekaan, mempertahankan NKRI Harga Mati.

Menambahkan, salah satu Anggota FPI NTT Muhammad Saleh mengatakan sangat naif jika ada yang menggunakan agama sebagai alat politik.

Lanjutnya, issu intoleran adalah isu nasional dan musuh bersama kita.

“Untuk itu FPI NTT tetap berpegang pada mandat konstitusional rakyat yang diberikan kepada pemerintahan Jokowi dan mengusulkan kepada pemerintahan Jokowi bahwa isu intoleran adalah isu nasional dan menjadikan musuh bersama rakyat Indonesia. Karena kemerdekaan Indonesia bukan diperjuangkan oleh agama dan suku tertentu tetapi seluruh rakyat Indonesia.”, tegas Saleh.

KLARIFIKASI FPK  INDONESIA NTT

Zonalinenews-Kupang, Diberitakan sebelumnya Front Pembela Indonesia Nusa Tenggara Timur (FPI NTT) Kebhinekaan turut bergabung dalam Forum Kemajemukan Flobamorata NTT untuk turun ke jalan dalam rangka menyuarakan aspirasi masyarakat NTT pada Kamis 17 Agustus 2016 pukul 10.00 wita dengan link berita http://www.zonalinenews.com/2016/11/fpi-ntt-anggap-agama-jadi-tameng-politik-itu-primitif/

Pembina Front Pembela  Kebhinekaan  Indonesia,  Junaidin Mahasan dan Ketua Front Pembela  Kebhinekaan  Indonesia, Kanisius To  Kamis 17 November 2016 pukul 10.24 wita mengkalrifikasi pemberitaan zonalinenews serta memohon maaf  dan  menyatakan yang benar adalah Front Pembela Kebhinekaan Indonesia bukan yang dimaksud Front Pembela Indonesia Nusa Tenggara Timur (FPI NTT) Kebhinekaan .  (*mortal)



TAG