Saksi Yulius N Dauzo (kiri) dan Vicko S Patty (kanan) saat memberikan keterangan.

Sisa Uang Kasus PD Sasando Dipakai Beli Sofa untuk Terdakwa


Saksi Yulius N Dauzo (kiri) dan Vicko S Patty (kanan) saat memberikan keterangan.

Saksi Yulius N Dauzo (kiri) dan Vicko S Patty (kanan) saat memberikan keterangan.

Zonalinenews.com, Kupang – Sidang perkara dugaan korupsi Perusahaan Daerah (PD) Sasando Kota Kupang tahun anggaran 2013 kembali digelar di pengadilan Tipikor Kupang, Senin 21 Agustus 2017.

Dua orang saksi dihadirkan Jaksa untuk terdakwa Sulaiman Marianus M Louk. Keduanya adalah Yulius N Dauzo, manajer operasional PD Sasando tahun 2013 dan Vicko S Patty pengelola aset PD Sasando.

Saksi Yulius N Dauzo mengatakan bahwa dirinya pernah membelanjakan kebutuhan Rumah Tangga (RT) terdakwa seperti sofa, dan kebutuhan lain yang nilainya mencapai Rp44 juta. Uang itu adalah sisa uang belanja kebutuhan perusahan.

“Saya dikasi catatan untuk belanja peralatan pribadi terdakwa, Rp44 juta. Barang sudah dikirim ke Waingapu,”kata Yulius.

Lanjut Yulius, dirinya diperintahkan terdakwa berangkat ke Jakarta untuk belanja kebutuhan peternakan ayam, seperti makanan ayam. Selain itu percetakan, mesin cetak spanduk dan peralatan studio. Usai belanja, terdakwa memintanya lagi untuk mampir di Surabaya membelanjakan sisa kebutuhan perusahaan.

“Ketika di Jakarta, kita beli mesin cetak Spanduk. Uangnya transfer bank ke rekening toko,”ujarnya.

Dana yang masuk ke rekeningnya sebesar Rp1,26 miliar. Dana itu ditransfer bertahap bendahara PD Sasando. Namun usai pembelanjaan, ada kelebihan dana sebesar Rp 85 juta. Kemudian dirinya melaporkan kepada terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa meminta dana itu dikirimkan sebesar Rp30 juta. Namun karena permintaan secara tunai, saksi meminta staf PD Sasando untuk mengambil tunai dari rumah.

Setelah pulang Surabaya, saksi menyerahkan lagi Rp55 juta. Dari Rp.55 juta itu terdakwa memberikannya Rp25 juta. Sehingga total uang yang diterima terdakwa sebesar Rp60 juta.

“Diusulkan dalam proposal Rp4 miliar. Disetujui pemerintah dan DPR Rp. 2 miliar,”tambahnya.

Dikisahkan Yulius, pada tahun 2013, dirinya dihubungi direktur PD Pasar untuk mempertemukan dengan direktur PD Sasando dan kemudian menjadi manajer Operasional tanpa memegang SK pengangkatan.

Dalam kepengurusan PD Sasando, setau Yulius, hanya satu direktur utama. Ada Komisaris. Walau tak mengantongi SK, dirinya mendapatkan upah. “Saya terima gaji tiap bulan Rp5 juta,”katanya.

Ketika ditanya mekanisme pengusulan dan pencairan uang, terangkan saksi, prosesnya mengusulkan ke direktur dan di ACC baru di setujui. Dari direktur baru disposisi ke bendahara.

Sementara dalam proses pembelanjaan, saksi mengacu pada catatan yang diberikan terdakwa. Serta acuan proposal perencanaan. Saksi juga mengatakan belum membuat laporan pertanggungjawaban karena dirinya telah mengundurkan diri perusahaan sekitar bulan Mei 2014. Sementara terdakwa juga belum meminta pertanggungjawaban.

Vicko S Party, saksi lainnya mengatakan bahwa dirinya untuk mengelola Studio foto dan percetakan. Kesepakatannya, perusahaan bebas mendesain dan melakukan percetakan. Tetapi apabila ada orderan dari luar menjadi keuntungan dirinya.

Namun dalam perjalanan dirinya dipecat karena dianggap tidak memenuhi ketentuan membayar sewa senilai Rp100 juta lebih.

“Saya diminta mengelola studio mesin cetak untuk keperluan studio. PT Sasando bebas mencetak dan mendesain kapan saja dengan harga yang murah. Bukan untuk pengadaan. Oktober saya di PHK karena ada sejumlah uang yang dibayarkan namun saya tidak penuhi. Sekitar Rp90 juta, Pembayaran sewa ruko,”katanya.

Menanggapi keterangan para saksi, terdakwa Soleman Marianus Louk sebagian membenarkan dan sebagiannya tidak benar.

Jalannya persidangan, dipimpin hakim ketua Fransisca DP Nino, didampingi Gustap Marpaung dan Ibnu Kholik. Turut hadir jaksa penuntut umum dari Kejari kota Kupang, Indi Premadasi dan Januarius L. Boli Tobi. Sementara terdakwa Sulaiman Marianus Louk. Majelis hakim juga mengagendakan sidang lanjutan pada Senin 28 Agustus 2017 dengan agenda pemeriksaan saksi. (*Pul)