Amarasi Dalam Pagar Mistik” Se-abad Terlambat Dalam Dunia Pendidikan

simbol amarasiPenulis : Aner Abraham Nitti Runesi

Zonalinenews,- Amarasi Boleh dikatakan daerah yang terlambat mendengar tentang injil walaupun jaraknya sangat dekat dengan kota Kupang tetapi Amarasi sangat protektif terhadap pengaruh luar pada jaman pendudukan portugis maupun pada masa kolonial Belanda sehingga para misionaris sulit memasuki daerah ini.

Jika ditelusuri dari raja-raja Amarasi maka yang menjadi kristen pertama adalah raja Nisim Mnatu yang berkuasa tahun (1914 – 1923)

Setelah raja Nisim Mnatu di baptis barulah beliau diberi nama baptis dan beliau juga orang pertama Amarasi yang pertama menggunakan nama baptis yaitu Ishak Koroh silahkan baca di sini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1694106200851377&substory_index=0&id=1447653885496611

Sedangkan raja-raja Amarasi sebelumnya semuanya menggunakan nama Timor Amarasi dan mereka semua bukan penganut kristen silahkan baca di sini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1678009919127672&substory_index=0&id=1447653885496611

Jika raja Nisim Mnatu dibaptis sejak beliau diangkat menjadi raja, maka itu terjadi tahun 1914 sehingga 4 tahun kemudian barulah berdiri gereja protestan atau Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Maranatha Baun pada tahun 1918

Pertanyaan yang juga merupakan topik pembahasan dalam tulisan ini adalah seprotektif apa sehingga para misionaris sulit masuk ke Amarasi untuk mengabarkan injil…?

Suatu pembahasan yang menarik karena dari sinilah maka kita juga akan tahu mengapa Amarasi tertinggal dalam hal pendidikan

Untuk diketahui bahwa Belanda menduduki Kupang tahun 1653 dan cepat menaklukan 5 kerajaan di seputaran Kupang tetapi tidak untuk kerajaan Amarasi

Amarasi baru ditaklukkan ketika raja Esu Rasi dipenggal kepalanya oleh Belanda dan dikuburkan di Bakunase tahun 1752

Amarasi dapat ditaklukan oleh Belanda atas bantuan tentara lokal dari Rote, Sabu dan Solor. Itupun pertempuran bukan terjadi di Amarasi tetapi di Penfui karena hulubalang Amarasi yang mendatangi Belanda dan sekutu-sekutunya di Kupang. Belanda tidak mau mengulang pengalaman pahit yang dialami jenderal mereka ketika berani memasuki Amarasi yang berakibat kalah total dan korban berjatuhan di man-mana

Amarasi memang dipagar dengan kekuatan mistik pada masa itu sehingga siapapun tidak dapat masuk kecuali mereka yang diijinkan seperti sekutu Amarasi yaitu tentara Topas atau Portugis Hitam dan kerajaan Sonbai dari utara

Apa buktinya….?

Mari kita selidiki penelusuran kisah berikut

Tahun 1656 pertempuran paling fenomenal yang dicatat secara lengkap di mana belanda dipimpin oleh Jenderal yang sangat terkenal Arnold de Vlamingh Van Oudtshoorn bersama 800 pasukannya yang bersenjata lengkap ditambah pasukan lokal dari Rote, Sabu dan Solor tetapi berhasil dipukul mundur oleh pasukan gerilya dari Amarasi yang didukung Portugis dengan kedua pemimpin mereka Antonio de Hornay dan Mattheus da Costa.

Dalam pertempuran ini belanda kehilangan 170 pasukan ditambah pasukan lokal yang juga tewas dalam pertempuran tersebut.

Dikisahkan bahwa dalam pertempuran tersebut banyak terjadi peristiwa gaib berupa penampakan sosok-sosok misterius entah kuasa gelap ataukah campur tangan Tuhan. Dapat anda baca kisahnya di sini http://sajjacob.blogspot.com/2015/01/sejarah-masuknya-portugis-dan-belanda dan https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1678009919127672&substory_index=0&id=1447653885496611

Jika kita telusuri sejarah Amarasi maka bukan kali ini saja Belanda berusaha memasuki Amarasi tetapi telah berulang kali bahkan dalam suatu kali pertempuran, hulubalang Amarasi merangsek masuk sampai benteng Concordia di Kota Kupang sehingga Belanda berencana memindahkan bentengnya ke Rote karena mengalami kekalahan dan diganggu terus oleh hulubalang dari Amarasi

Pertanyaannya sehebat apakah hulubalang Amarasi yang tidak seberapa itu sehingga Belanda tak mampu mengalahkan mereka?

Padahal To Nai Rasi mereka dari Belu diperkirakan hanya sekitar 600 orang ketika bermigrasi ke Amarasi bersama raja mereka Nai Rasi tahun 1620

Memang pada masa sebelum injil masuk Amarasi, kerajaan Amarasi dikuasai oleh para meo atau hulu balang. Jika ditelusuri tentang Meo sebenarnya mereka adalah “orang-orang pintar” yang memiliki kekuatan lebih atau semacam kekuatan supra natural yang berasal dari dunia Meo pada jaman dahulu juga adalah pasukan perang bahkan ada sebutan Meo Ko’u tetapi tidak pernah ada sebutan Meo Ana

“Meo Amakenat” inilah yang biasa disebut hulubalang seperti Meo Omek Foni, Meo Ko’u pertama yang mengawal Nai Rasi dari Belu dan memasuki Amarasi bahkan memenagkan peperangan melawan suku Natu Bureni yang berkuasa terlebih dahulu di daerah Teun Baun

Di samping Meo ko’u, ada juga sahabat dan juga keluarga Meo yang lain yang juga mengawal dan menjaga raja sekaligus kerajaan Amarasi secara turun temurun

Para Meo inilah yang “memagari” kerajaan Amarasi dengan kekuatan supranatural sehingga sulit untuk ditembus oleh musuh dari manapun bahkan pasukan lokal dari Rote dan Sabu yang disebar Belanda sepanjang pesisir pantai Kupang Barat tak dapat menembus masuk dari pantai Puru dan Oesain.
Seluruh daerah Amarasi dibuat daerah berkubu secara gaib dan itu merupakan “benteng pertahanan” yang telah dibacakan mantranya. Itulah sebabnya bangsa penjajah tidak dapat memasuki Amarasi untuk menerapkan semboyan mereka sebagai bangsa penjajah, yaitu Gold, Glory dan Gospel

Gold (kekayaan)

Tujuan utama bangsa barat mencari daerah jajahan adalah untuk mencari rempah-rempah, karena harga rempah dibarat sangat mahal.

Glory (kejayaan)

Bangsa barat bertujuan untuk mencari rempah-rempah karena mereka ingin mendapatkan lebih mereka melakukan penjajahan unutk memperluas wilayah dan mendapatkan kejayaan.

Gospel (agama)

Bangsa barat selain bertujuan untuk mencari rempah-rempah mereka juga bertujuan untuk menyebarkan agama mereka pada bangsa yang dijajah

Amarasi tidak dapat dikuasai oleh Belanda selama 100 tahun sehingga memang injil tidak dapat diberitakan di Amarasi

Kalau saja Amarasi dikuasai juga oleh Belanda tahun 1653, maka pasti ada misionaris sehingga berita injil dapat didengar oleh rakyat Amarasi

Jika ada misionaris pasti ada guru injil yang menjadi kaki tangan para misionaris dan para guru injil tentu dididik untuk membantu pekabaran injil, juga sebagai penerjemah. Nah, tentu sekolah dibangun untuk mendidik kader pemberita injil ini dan paling tidak keluarga kerajaan mendapat kesempatan untuk belajar.

Jadi dengan demikian, dalam hal pendidikan Amarasi telah ketinggalan selama 100 tahun yaitu tahun (1653 – 1752)

Contoh Kasus

Khusus anak-anak muda Sonraen baru bisa keluar untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi seperti SMA sampai sarjana setelah tahun 1980

Alasan yang jarang diketahui orang Sonraen sendiri karena “Sonraen (Sonkiku) di pagar secara mistik secara turun temurun selama 24 Nakaf berkuasa sehingga siapapun tidak akan mau pergi meninggalkan Sonraen atau kalaupun pergi tidak akan betah di daerah rantau dan akan cepat kembali karena kekuatan mistik yang telah mengikat semua warga Sonkiku”, tutur Andreas Seran pemegang terakhir Kunci Eno Ko’na Sonraen

“Bahkan kami beberapa anak muda berniat untuk sekolah di Kota Kupang tahun 1970 tetapi sesampai di kupang dan telah mendaftar untuk sekolah tetapi beberapa hari kemudian hati tidak tenang dan ingin cepat pulang kampung dan itu kami lakukan”, tutur Laurensius Runesi

Penghancuran pagar mistik yang telah dipercayai secara turun temurun itu barulah terjadi secara kolektif di Sonraen tahun (1980) yang dipimpin oleh  Stefanus Masneno

Jadi orang Sonraen baru bisa keluar dari Sonraen untuk menuntut ilmu dan meraih gelar sarjana atau pergi merantau setelah tahun (1980)

Nah, anda juga pasti punya cerita tersendiri tentang kampung anda tetapi apa yang saya sampaikan membantu kita untuk mengingat sejarah walaupun tidak sempurna tetapi anugerah Tuhan saja membuka pintu keselamatan bagi Amarasi walaupun terlambat menurut perhitungan kita tetapi Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi untuk menjadi kesaksian bahwa suatu daerah tanpa berita Injil entah dengan cara apapun pasti daerah itu berada dibawah kuasa lain yang mmperbudak secara rohani yang berdampak dalam kehidupan nyata.

Semoga tulisan ini menjadi berkat untuk kita semua
Bandung, 1 Oktober 2016

Tulisan ini  dedikasikan untuk alm. ayah Nithanel Runesi yang telah bertahun-tahun berbagi cerita sejarah Amarasi kepada saya dan yang mewakili Amarasi ke tingkat nasional di Jakarta karena desa Sonraen sebagai desa mewakili Amarasi ke tingkat nasional di Jakarta sebagai desa administratif terbaik tingkat propinsi NTT 1994. (*)

iklan expreso