Dana Kasus 100 Embung Mengalir ke Proyek Jalan dan Kantor Bupati Sarai

Terdakwa Lay Rohi bersalaman usai persidangan di pengadilan Tipikor Kupang, Rabu 12 Oktober 2017

Terdakwa Lay Rohi bersalaman usai persidangan di pengadilan Tipikor Kupang, Rabu 12 Oktober 2017

Zonalinenews.com, Kupang – Sidang kasus dugaan korupsi proyek 100 unit Embung tahun 2012 senilai Rp5 milliar di kabupaten Sabu Raijua kembali digelar di pengadilan Tipikor Kupang, Rabu 11Oktober 2017. Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Lay Rohi ini, terungkap ada aliran dana yang dipinjamkan untuk pekerjaan jalan di Tanajawa – Lobohede, Pekerjaan Embung  di Raijua dan pembangunan kantor bupati Sabu Raijua (Sarai).

Terdakwa Lay Rohi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam kasus ini, mengaku bahwa di tahun 2012 belum ada anggaran untuk pembangunan Embung. Dengan melihat kondisi Sabu yang kering dan gersang, sehingga dirinya berinisiatif melakukan peminjaman dari pos dana tak terduga senilai Rp2,5 miliar. Karena tahun 2013 telah dianggarkan untuk pembangunan embung.

“Tidak alokasi dana pembangunan Embung tahun 2012. Sehingga pinjam dana tak terduga dengan kepala dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD). Baru di tahun 2013, ada alokasi anggaran pembangunan Embung. Kalau kita tunggu 2013 maka air hujan tidak bisa dimanfaatkan,”kata kepala dinas pekerjaan umum Sabu Raijua pada persidangan di depan majelis hakim ini.

Bahwa peminjaman itu berlangsung sekitar bulan Nopember 2012 atas persetujuan dari Bupati Sabu Raijua. Lanjutnya, setelah dana tahun anggaran 2013 itu cair. Dibayarkan untuk pelunasan pinjaman dan pembelian BBM, sisanya dibayarkan kepada Joni Manu selaku operator alat pekerjaan Embung. Selanjutnya, sisanya lagi dipinjamkan kepada OMS untuk pekerjaan peningkatan jalan di Tanajawa – Lobohede dan jalan masuk pasar Lobohede.

“Saya sampaikan ke Bupati dan dilakukan telaah dan terjadi peminjaman sekitar bulan Nopember 2012. Kita pakai tahan dana tak terduga Rp2,5 miliar untuk pembelian BBM. Sisanya dikasi pihak yang mengerjakan Embung Jhoni Manu,”tambah Lay Rohi.

Masih menurut terdakwa, dana tersebut adalah milik Joni Manu yang dipinjamkan untuk pekerjaan jalan. Sehingga peminjaman ini atas persetujuan lisan dari pemilik, Joni Manu. Katanya, usai pekerjaan jalan Tanajawa – Lobehede, dana pencairan dari pekerjaan jalan itu kembali dipergunakan untuk pekerjaan 20 unit Embung di kecamatan Raijua pada tahun 2015. Sementara anggaran pekerjaan jalan Tanajawa – Lobehede, jalan masuk pasar Lobohede senilai Rp150 juta. Demikian juga dengan anggaran pekerjaan 20 Embung di Raijua Senilai Rp1 milliar.

Sebagiannya lagi dipinjamkan kepada Markus Thomas Raga Thalo atau Tommy Thalo selaku kontraktor pekerjaan pembangunan kantor bupati Sabu Raijua. Sementara pekerjaan 100 Embung itu baru selesai dikerjakan pada bulan Oktober 2014. Katanya, hingga kasus ini disidangkan uang tersebut belum dilunasi terdakwa kepada Joni Manu.

Jalannya persidangan dipimpin hakim ketua Edy Pramono, didampingi hakim anggota Jemmy Tanjung Utama dan Ibnu Kholik. Turut dihadiri jaksa penuntut umum dari kejaksaan tinggi NTT, S Hendrik Tiip dan Benfrid Foeh. Sementara terdakwa Lay Rohi didampingi kuasa hukumnya Johanes Rihi dan rekan. Tak lupa majelis hakim mengagendakan sidang lanjutan pada Kamis 19 Oktober 2017 dengan agenda tuntutan dari jaksa penuntut umum. (Eli)


TAG