NTT Mencari Pemimpin

IREN GOI PODHIOleh: Iren Goi Podhi ( Tinggal di Bajawa)

Zonalinenews,- Mengapa di NTT pemimpin harus dicari? Berbicara untuk konteks NTT, memilih seorang pemimpin itu mudah. Tetapi menemukan pemimpin yang berkualitas dan jujur itu sulit. Fenomena ini sering terjadi dalam masyarakat kita. Secara politis jawabannya cukup sederhana. Namun, dalam kesederhanaan jawaban itu, tersimpan makna dan kriktik tajam terhadap pemimpin kita.

Ketika NTT menajdi daerah yang susah keluar dari masa paceklikannya. Salah dan dosa siapa. Tidak ada yang tau. NTT tetap dalam situasi sulit.  Persoalannya bagaimana cara menemukan pemimpin yang jujur dan bijaksana. banyak putra dan daerah kita yang baik dan pintar. Tapi susah kita temukan pemimpin yang jujur. Jawaban ini sekedar mengganggu ingatan kita, sekaligus membuka mata hati masyarakat NTT, dalam persiapannya menyambut pesta rakyat.

Dalam rangka menyongsong pesta demokrasi, pada umumnya tensi politik akan semakin  memanas. Apalagi menjelang hari puncak. Pemilu sering dijadikan sajian pembicaraan hangat dan menarik. Entah bagi elit politik itu sendiri maupun bagi masyarakat kecil.  Perbincanggan tematik ini, selalu menyita banyak waktu dan perhatian. Tidak ketinggalan serunya, Propinsi Nusa Tenggara Timur, yang sebentar lagi  akan memilih gubernur dan wakil gubernur baru tahun 2018 yang akan datang.

Perayaan demokrasi mesti dirayakan. Tanpa dipaksa sekalipun, atmosfir dan aura pemilu selalu memicu adrenalin masyarakat. Banyak cara yang diambil orang dengan sangat kreatif, hanya untuk memenangkan jagoannya. Maka benarlah apa yang di katakan Nicolo Machiaveli “tujuan menghalalkan cara”. Fokus perhatian orangpun dengan sendirinya, akan terarah penuh untuk momen demokrasi. Banyak cara digunakan, hanya semata memenuhi tujuannya.  Ada Baiknya juga. tetapi kita harus tetap indahkan asas  luber dan jurdil. Demi keagungan martabat demokrasi kita.  Demokrasi yang baik akan selalu menjaga etika dan nilai . Menjadi Masalah ketika perayaan demokrasi itu disalahgunakan.  Secara  otomatis keabsahan nilai dari demokrasi akan tercoreng. Maka  masyarakat dituntut harus jeli dalam memilih. Perlu penilaian yang komprenhensif terhadap figur tertentu.  Sebelum memeberikan hak suara kita. Agar kita tidak sekedar mencoblos.

Umumnya Figur yang dicari itu,  terarah kepada mereka, yang punya kapasitas dan kelayakan dalam memimpin. Toh harus kita terima bahwa, yang terpilih  nantinya itulah gubernur kita bersama. Ia tetap  sebagai tokoh yang layak dan pantas untuk dihormati. Walau dalam koridor tertentu kinerjanya harus tetap dikawal.  Dengan ini Rakyat merasa terpanggil dan bertanggung jawab untuk  menilai kepemimpinannya. Sebagai tauladan masyarakat. Kewajiban moril sebagai seorang warga harus ditunjukan. Dalam hal ini, masyarakat harus punya kecerdasan.  Sehingga menjabarkan penilaian tidak hanya sebagai bargaining politik belaka. Tetapi betul berdasarkan sebuah fakta dan data yang ril. Dalam negara demokrasi, rakyat mendapat previlese khusus. Kebebasan seorang pemipin sangat bergantung pada suara rakyat.  Rakyat menjadi penentu dalamnya. Pribahasa latin menyebutnya Vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Hubungan ini harus tetap dijaga dengan baik. Agar rakyat mempunyai pemimpin yang berkarakter baik dan rakyatpun senang. Untuk itu menjadi pemimpin, adalah orang yang punya semangat melayani.

Pemilihan gubernur di NTT memang unik. Bukan soal euforianya yang sudah mulai terasa. Seiring dengan ramainya paslon paslon yang akan bersaing. Tetapi karena maraknya money politik belakangan ini. rakayat harus tetap waspada. Kesempatan pesta rakyat ini tidak boleh dimanfaatkan  untuk jual beli hak suara kita. Hak suara itu utuh. Sesuai dengan asas pemilu yang berlaku luber jurdil. Langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil. Catatan penting untuk  gubernur baru.  Saat ini NTT mendapat sorotan  serius. Di sebut sebagai propinsi terbelakang. Terjadi penurunan kualitas di bidang pendidikan, sosio-ekonomi dan kesehatan. Indikasi ini menjadi pekerjaan rumah yang berat tentunya. Kalau boleh jujur masih banyak lagi, sederetan ter..ter lain, yang menjadikan propinsi ini, sebagai daerah terbelakang. Bila dibandingkan dengan daerah yang lain di Indonesia ini. Jelas sangat jauh perbandingannya.

Berkaca pada kenyataan yang ada, NTT memang “menghilang” di kancah nasional. Kurang begitu mencolok prestasinya. Misalnya dalam bidang ekonomi, NTT masih menjadi propinsi termiskin. Kesejahteraan ekonominya belum stabil. Untuk itu pemimpin harus punya spirit untuk mengatasi kemiskinan yang terjadi. Semangat dan Gerakannya harus Option for the poor. sebagai salah satu titik pijak keberpihakan sorang pemimpin pada kemiskinan. Maka dengan ini pemimpin harus menyadari kemiskinan sebagai masalah besar. Bila perlu seorang gubernur harus mentransfomasikan dirinya dalam kemisikinan. Spiritnya menjadi  Option To Be Poor.  Kemerosotan ini sangat erat kaitan dengan peran pemerintah. Apabila pimpinan daerah kita kurang cerdas dan peka.

Niscaya masalah kemiskinan itu tidak bisa diselesaikan.  Tentang kemisikina perlu perhatian khusus dari pemerintah. Proporsional Roda pemerintahan NTT berjalan sudah sekian lama. Namun masih ada saja ketidakpuasan  masyarakat atas kinerja pemerintah. Dinilai kurang adil dan proporsional. Mulai Dari tata birokrasi, sampai pada kemampuan pemimpin menata birokrasi yang ada. Banyak hal yang perlu dibenah kembali. munculnya persoalan ini, muncul  pertanyaan, di mana peran pemerintah?  pemerintah seakan membiarkan masalah terus menjadi masalah. Tidak ada solusi yang jelas. Penangannya  tidak serius dan tepat sasar. Contoh kecil untuk masalah besar di NTT. masalah human trafficking dan korupsi. Kedua masalah tersebut menjadi pukulan telak untuk masyarakat. Perdagangan manusia yang semestinya tidak boleh terjadi. Namun masih tetap terjadi.  Serta penyalahgunaan uang rakyat.

Bisa dipahami bahwa ketimpangan sosial ini, disebabkan oleh beberapa factor mendasar. Selain infrastruktur yang tidak memadai, NTT juga terganjal dengan persoalan SDM. Secara rasional sumber daya manusia yang menjadi esensinya, kurang begitu diperhatikan. Pelayanan guru yang masih sangat memprihatinkan. Sebetulnya kondisi ini sudah lama menhantui dunia pendidikan kita. Masyarakat jarang dilibatkan. Bagaimana cara untuk meningkatkan SDM tersebut, sepenuhnya tergantung pada kepedulian pemerintah dan masyarakat, merasakan hal ini sebagai masalah yang kursial atau tidak. Untuk itu perlu ada pendampingan ekstra bagi masyarakat kita. Perlu ada latihan dan seminar tentang pemberdayaan masyarakat. Jika tidak, sama halnya kita memelihara kejahatan dalam rumah kita sendiri. [“Dengan berdiam tentang kejahatan yang keji, dengan menguburkannya jauh didalam diri kita,.. kita menanamnya. Kelak kejahatan yang ditanam itupun akan tumbuh beribu-ribu lipat” Solzhenityn ]. kondisi ini yang tidak kita harapakan. Mudah-mudahan pemimpin yang baru, memiliki insting yang kuat untuk meminimalisir segala  bentuk kejahatan, ketimpangan yang terlanjur masif, terstuktur dan sistematis . Selain itu juga system pemerintah yang kurang baik. Dirasa turut memperparah prestasi kita di kancah nasional.

 

Pemimpin jangan cuma janji

Kecenderungan yang terjadi selama ini, banyak pempimpin yang cuman umbar janji. Pandai beretorika, namun lemah dalam bertindak. Setelah terpilih, janji dan program-program kerja  yang ditawarkan dulu, kini menjadi pemanis bibir. Semuanya tidak bisa direalisasikan. Politik seperti ini cenderung menimbulkan mosi tidak percaya ditengah masyarakat. Masyarakat merasa sangat kecewa. Akibatnya masyarakat menjadi sangat apatis dengan politik. Kehidupan politik yang tidak sehat itu, menimbulkan keresahan yang berkepanjangan. Politik yang seyogianya sebuah seni untuk mencari kekeuasaan. Kini menjadi barang busuk yang tidak sedaap untuk disantap dalam komunikasi publik.. Maka dengan ini manjadi pemimpin harus cerdas dalam bersikap, seta adil dan bertanggung jawab. Demi kebaikan bersama.  Harapan pilgub 2018 ini, murni untuk  kepentingan masyarakat luas bonum comunae .  Tanggung  jawab besar untuk menentukan siapa pemimpin yang tepat, semua ada di tangan masyarakat. Masyarakat yang memegang kendali dalamnya. Seiring dengan defenisi dari demokrasi. Dari oleh dan untuk masyarakat.

Konteks NTT kriteria Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang merakyat. Namun belumlah cukup, jika hanya memiliki kualitas tersebut. Pemimpin yang merakyat harus didukung dengan kecerdasan pribadi, yang terukur dan teruji. Kemampuan untuk mengatasi dan menjawabi segala persoalan yang ada. Mengatasi masalah kemiskinan, pendidikan, dan lebih kuat lagi mengatasi masalah human trafficking. Masyarakt umumnya mengharapakan, gubernur mereka haruslah sosok yang bisa dalam segala hal. Bisa memenuhi semua janji-janji politisnya. Jangan cuma mengumbar janji. Lalu pergi.  Karena banyak bukti  menunjukan pemimpin  kita selama ini bisanya cuma berjanji.

Tidak ada cerita lain lagi. Tidak ada Saat ini Nusa Tenggara Timur  menginginkan figur pemimpin yang jujur dan adil. Pemimpin yang tidak saja janji, namun bukti. Penilaian tersebut menjadi barometer pertama untuk pemimpin yang tepat di hati masyarakat.  Pemimpin yang bisa mengatasi segala macam persoalan. Pemimpin yang punya  kemampuan khusus dan punya kerendahan hati, untuk mengevaluasi kinerjanya sendiri.  Pemimpin  yang transparan dan berintegritas. Pemimpin yang punya kemapuan dan daya inovasi tinggi. Menjadi pemimpin itu jangan hanya menonton saja, tetapi harus menerobos.

Mampu berpikir melewati batas ruang dan tempat. Melewati sekat budaya dan agama.  Thinking Out of box. Efek nilai itu akan tercermin jelas pada diri seorang pemimpin yang jujur dan adil dalam bersikap.

Dengan  keadaan NTT yang masih dibawah standar,  pemerintah dan stakeholders, bersama masyarakat harus bahu membahu menuntaskan masalah. Duduk bersama, saling tukar pikiran untuk pecahkan masalah bersama. Demi keselamatan dan nama baik NTT tercinta. Agar bisa kembali pada jalur yang benar. Pemerintah harus  lebih cepat dan peka memabaca situasi ini. Sebelum semuanya terlambat, dan berakhir dengan cerita pahit. Sebelum semua harapan kita terkubur dalam peti kemalasan, karena kesalahan kita sendiri. Mimpi besar ini tinggal hanya mimpi belaka. Quo VADIS NTT(*)


TAG