Izin Incenerator Dalam Proses, RS Borromeus Kupang Kelola Limbah Medis Sendiri

Suster Geby saat berada lokasi  incenerator ruang pembakaran

Suster Geby saat berada lokasi incenerator ruang pembakaran

Zonalinenews-Kupang,- Menyikapi pernyataan Kadis Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Benyamin Lola, terkait pengelolaan sampah medis oleh mayoritas Rumah Sakit di Kota Kupang yang tidak dikelola secara optimal , Zonalinenews pada Selasa 28 November 2017 menemui pihak RS St. Carolus Borromeus Kupang guna mencari tahu bagaimana pengelolaan limbah medis di RS swasta tersebut.

terkait pengelolaan sampah medis di kota kupang baca link berita http://www.zonalinenews.com/2017/11/rumah-sakit-di-kupang-belum-optimal-kelola-limbah-beracun-kesehatan-warga-terancam/

Kepala SDM Rumah Sakit RS St. Carolus Borromeus ,SR. Gabriella, CB. atau yang akrab dipanggil Suster Geby menjelaskan bahwa pihaknya sudah sejak tahun 2015 lalu menggunakan incenerator  dalam mengelola sampah medis kategori Infeksius.

Bak pemurnian limbah medis air RS St. Carolus Borromeus Kupang

Bak pemurnian limbah medis air RS St. Carolus Borromeus Kupang

Suster Geby menagakui  pengelolaan sampah medis sebelum tahun 2015 ditangani oleh dinas kebersihan Kota Kupang, dengan pembakaran manual yang jauh dari peraturan perlakuan terhadap sampah medis yang benar.

Rumitnya prosedur untuk memperoleh izin penggunaan incenerator  membuat banyak Rumah Sakit tidak dapat mengoperasikan incenerator  yang telah ada. Untuk RS Carolus Borromeus sendiri, jelas Geby, telah dilakukan upaya mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup Pusat.

“Saya sudah memproses (izin penggunaan incenerator) sampai batas yang paling tinggi, (incenerator kami) sudah disurvei. (RS Carolus Borromeus) satu-satunya di NTT yang sudah sampai di tahap itu,”tuturnya.

RS Carolus Borromeus

RS Carolus Borromeus

Suster Geby menjelaskan bahwa izin penggunaan incenerator  dari Kementerian Lingkungan Hidup Pusat akan segera diberikan kepada pihaknya dan RS Carolus Borromeus merupakan RS pertama  di NTT yang akan memiliki izin itu dalam waktu dekat.

Namun, masih menurut Geby, penanganan sampah hingga kini telah menggunakan incenerator  meski belum memiliki izin. Hal ini diakuinya karena penanganan sampah medis harus dilakukan secara benar jika tidak ingin menimbulkan ancaman kesehatan lainnya.

Kondisi ini juga telah Suster Geby sampaikan, dan oleh Kementerian Lingkungan Hidup tindakan yang dilakukan Geby tidak dipersoalkan berhubung pihaknya telah berupaya maksimal untuk mendapatkan izin operasional incenerator.

Lanjut Geby, dalam sehari terdapat 10-12 Kg sampah medis yang dihasilkan. Sampah yang tergolong Infeksius akan ditempatkan secara terpisah dengan menggunakan plastik pembungkus berwarna kuning. Setiap 2 hari sekali akan dilakukan proses pembakaran dengan incenerator  bersuhu tinggi hingga 1200 derajat Celcius. Tidak hanya itu, pihaknya secara serius juga melakukan pemurnian air limbah medis yang dihasilkan dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada. (*adi)