Soal Pembangunan Kawasan Wisata Gunung Meja, Ini Penjelasan Alex Leda

Kasubdit Air Tanah dan Air Baku Wilayah Barat Pusat Air Tanah dan Air Baku Dirjen Sumber Daya Alam Kementrian PUPR Alexander Leda.

Kasubdit Air Tanah dan Air Baku Wilayah Barat Pusat Air Tanah dan Air Baku Dirjen Sumber Daya Alam Kementrian PUPR Alexander Leda.

Zonalinenews-Ende,- Selama ini rencana pembangunan kawasan wisata gunung meja menjadi diskusi serius dikalangan masyarakat Kabupaten Ende. Ada masyarakat yang pro dan ada juga masyarakat yang kontra terkait dengan ide pembangunan kawasan wisata Gunung Meja itu. Masyarakat yang pro dan kontra tentu memiliki alasan, baik alasan yang rasional maupun alasan pembenaran.

Soal tanggapan mengenai pembangunan kawasan wisata Gunung Meja juga datang dari Putra Ende yang saat ini bekerja di Kementrian PUPR RI dan dipercayakan sebagai Kasubdit Air Tanah dan Air Baku Wilayah Barat Pusat Air Tanah dan Air Baku Dirjen Sumber Daya Alam Kementrian PUPR Alexander Leda.

Dalam tulisan yang dimuat di Facebook khususnya pada forum Gere Bego, Alex menulis tentang pembangunan kawasan wisata Gunung Meja dengan judul ” Membangun Kawasan Wisata Gunung Meja, Apa Urugensi Yang Mendesak dan Dampaknya?.

Alex mengatakan tulisan tersebut merupakan sebuah catatan opini murni teknik pemikirannya dan tidak ada kaitan dengan politik. Menurutnya, siapun yang membangun kawasan Wisata Gunung Meja, dirinya merasa terpanggil untuk memberi masukan dan kritik yang positif.

Rencana pembangunan tersebut tambah Alex, menggelitik dirinya untuk bertanya beberapa hal. Pertama tanya Alex, apa yang ingin dijual dari kawasan Gunung meja. Keindahan apa yang spesifik dari kawasan Gunung Meja dibandingkan dengan Kawasan Wisata Moni dan Kelimutu yang sudah mendunia, namun pemerintah belum optimal dalam pengelolaannya.

” Kalau hanya sekedar monumen dan buat views untuk melihat kota Ende, ini paling buat arena swafoto. Berapa Miliard yang mau di dapat dari kawasan ini selama satu tahun,” tanya Alex.

Kedua lanjut Alex, dari sisi dampak lingkungan Gunung Meja dapat dijadikan sebagai area resapan karena kondisi Gunung Meja kerapatan pohonnya jarang dan banyak alur-alur alam.

” Kalau kita mau bangun jalan akses mengitari bukit ke atas akan memotong alur-alur alam dan menyatukannya menjadi sungai baru. Akibatnya jalan dan drainase akan menjadi alur sungai pada musim hujan menuju daerah hilir. Ini memicu bencana banjir bandang untuk kawasan bandara, pelabuhan, dan pemukiman. Bisa diprediksi ada kerugian jiwa dan materialnya. Kalau terjadi siapa yang bertanggungjawab,” ungkap Alex yang mengaku saat masih dibangku SMP pernah sampai ke puncak Gunung Meja sebanyakbdua kali.

Ketiga tambah Alex, dirinya sangat yakin untuk jalur transportasi bahwa rancangan atau desain yang ada hanya rancangan tata letak atau landscape fasilitas publik dimana hanya untuk mendukung kemudahan akses menuju puncak.

” Namun dampak pasca pembangunannya siapa yg bertanggungjawab,” ungkap Alex.

Alex menyarankan, sebaiknya kawasan gunung meja ditanami pohon-pohon yang bernilai ekonomi dengan melibatkan masyarakat. Dengan begitu, maka kawasan Gunung Meja akan menjadi hutan lindung dan untuk akses cukup dengan berjalan kaki.

” Kawasan ini menjadi kawasan konservasi, area resapan sehingga pada musim hujan tidak kebanjiran dan pada musim kemarau tidak kekurangan air. Kalau ini dampak dan efek positifnya terutama jangka panjang jelas menguntungkan,” saran Alex.(*Tommy)