Terbukti Korupsi, Kontraktor Tambak Garam Sabu Divonis 4 Tahun Penjara

Suasana Sidang

Suasana Sidang

Zonalinenews.com, Kupang- Dua kontraktor pelaksana pembangunan fisik tambak garam di kabupaten Sabu Raijua tahun 2016 seluas 10 hektar divonis 4 tahun penjara oleh majelis hakim. Masing – masing, Henry J Wenji selaku kuasa direktur PT Surya Mekar Raya dan Daniel Kitu selaku kuasa direktur PT Somba Hasbo.

Amar putusan itu dibacakan terpisah dalam persidangan yang dipimpin hakim ketua Edy Pramono didampingi hakim anggota Jemmy Tanjung Utama dan Ibnu Kholik di pengadilan Tipikor Kupang, Selasa 9 November 2017. Keduanya dinyatakan telah terbukti secara sah dan menyakinkan secara bersama – sama melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primer jaksa Penuntut Umum.

“Menjatuhkan pidana kapada terdakwa Henry J Wenji dan terdakwa Daniel Kitu dengan pidana penjara masing-masing selama 4 tahun penjara, dan denda Rp200 juta subsider 2 bulan penjara,”kata hakim ketua Edy Pramono.

Selain pidana penjara, kedua terdakwa juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara. Untuk terdakwa Henry Wenji sebesar Rp1.728 948.000 dan terdakwa Daniel Kitu sebesar Rp1.188.369.889.

Apabila uang pengganti tersebut tidak dibayarkan oleh kedua terdakwa selambat-lambatnya 1 bulan setelah mendapat kekuatan hukum tetap. Maka harta bendanya dapat disita jaksa dan dilelang untuk menutupi kerugian tersebut. Dalam hal terdakwa tidak memiliki harta benda yang cukup maka diganti dengan pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan kurungan.

Majelis berpendapat kedua terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama- sama sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Putusan itu, kata hakim Edy, majelis telah mempertimbangkan hal – hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam hal pemberantasan tindak pidana korupsi, terdakwa tidak mengembalikan uang kerugian negara. Sementara, hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan, terdakwa adalah tulang punggung keluarga, tedakwa menyesali perbuatannya, terdakwa telah mendatangkan geomembran sebagai bahan dasar pembangunan.

Terkait Geomembran yang sudah ada di lokasi setelah masa kontrak selesai, majelis berpendapat bahwa perhitungan kerugian negara adalah perhitungan pada bobot pekerjaan terpasang. Sehingga geomembran yang ada di lokasi pekerjaan menjadi milik dari terdakwa.

“Persoalan lahan memang menjadi tanggung jawab dinas, tetapi juga menjadi resiko yang ditanggung terdakwa,”lanjutnya.

Atas putusan itu, terdakwa Henry J Wenji melalui penasehat hukumnya Novan Manafe mengatakan akan melakukan upaya hukum banding selama 7 hari. Demikian juga dengan terdakwa Daniel Kitu melalui kuasa hukumnya, Amos A Lafu dan rekan menyatakan banding.

Vonis majelis hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, terdakwa Henry J Wenji dituntut 7 tahun 6 bulan penjara, denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan. Sedangkan, terdakwa Daniel Kitu dituntut dengan pidana penjara selama 7 tahun 6 bulan, denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan. Dan masing masing uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 1 Milliar lebih subsider tahun 3 bulan penjara.(*Pul)