Viktor Hendrik Rasyiam Koroh

Patung HR KorohAuthor: Pastor. (Em) Semuel Viktor Nitti (Member of DPR-D NTT Province)

Zonalinenews- Viktor Hendrik Rasyiam Koroh (VHRK) is the last king of Amarasi and when Amarasi was formed into a sub-district, he was appointed to be the first sub-district of Amarasi.

He has also been a member of the House of Representatives and last as an expert staff of NTT governor. In 2016 some people from Amarasi sub-district agreed to sponsor to build a VHRK monument in Sonraen which is the capital of South Amarasi sub-district to commemorate his services.

The manumen was inaugurated by the Vice Regent of Kupang (Korinus Masneno) on November 24, 2017. On the bridge there is a flashback note about VHRK service to people and the Amarasi region, initially refusing to become king instead of his father VHRK.

But after being forced by the supporters and the elders of Amarasi finally Viktor Hendrik Rasyiam Koroh willing to become king with two conditions: 1) Himself want to build Amarasi and ask for full support. 2). For that construction Vikotr received the absolute right to organize and where it was necessary to beat the opponent.

The first thing he did In the 50s was separating farming areas and loose farming areas. He argues that free livestock is a source of social and environmental disaster. Because the space for livestock should be limited.

With that every village must build a fence around the village. At the entrance of the fence was hung a sign saying: THE ANIMAL AND CROP CHANNELS. The fenced area is distributed evenly to all families in the village to be greened with lamtoro and productive crops, especially banana, coconut, jackfruit and mango.

Those who neglected to plant were severely punished. When the agricultural area is green it is expanded gradually until finally, after about 12 years the entire area of ​​grand master (King), turns into a farming area.

When agricultural crops overflowed with marketing problems, the market was opened – contracts in the villages. Earlier in Amarasi there were only three markets namely Baun, Buraen and Oekabiti consequently no longer sufficient to sell agricultural produce.

he contract market is a weekly market built on contracts with buyers from Kupang or as we call papalele in kupang malay. The contents of the contract are: on the day the papalele market is obliged to come to buy the proceeds and the village community is obliged to provide the result of fulfilling one or two truck cars according to the agreement. If papalele do not come on market day then they are obliged to pay compensation for the results already collected by the public. Conversely, if papalele comes and no results or results are available do not meet the truck car then the public must pay compensation. Thus came the market of Ruasnaen, Batuna, Siuf, Noenaka etc. 2. Governance and the environment.

VHRK formed a village government, called the new style Village. Each village is a combination of several grand master into one village and village names are set to maintain the old name. Thus in the region of Baun kefetoran appear the names: Niukbaun, Teunbaun, Nekbaun, Merbaun, Erbaun, Tobaun, Tunbaun. In Buraen appear the names: Buraen, Sonraen, Retraen, Sahraen, Enoraen. In each village a new style is defined as an area designated to be a center of settlement, education, worship, government, health and markets.

All the land in the territory was released (without compensation) and then subdivided to the same-sized people’s house: 25 x 50 x 1m2, in addition to the village office, church, market, hospital, school, field.

The house was built following the village streets (alleys) that were measured symmetrically. The entire work of building houses and roads (gang) done in mutual help. Furthermore on the roadside planted repentance as a shelter for pedestrians.

The cotton growers are carried out on roads connecting villages and villages with sub-district government centers. 3. After lamtoro is available everywhere, (at first lamtoro seed is taken free from the king’s garden in Kretan / Retraen) then developed a paron system.

At that time it was not necessary to buy cows from the outside because most of the Amarasi still had cattle that the king had floated by distributing Bali cattle through the contract system. The king brings and distributes cattle to the peasants who will be repatriated after the breed.

Thus a visionary king translated the vision of the well-being he envisioned for his people into real work by forcing the Amarasies to be the subject of self-development without being dependent on anyone, even on the government: Amarasi was once known as the city of Kupang and became the home of many kings and other sub-district heads in NTT and beyond NTT.

THANK YOU FATHER VICTOR HENDRIK RASYAM KOROH. (*Translate By Danil)

Indonesian Vewrsion

Viktor Hendrik Rasyiam Koroh

Penulis: Pdt. (Em) Semuel Viktor Nitti (Anggota DPR-D Propinsi NTT)

Zonalinenews- Viktor Hendrik Rasyiam Koroh adalah raja terakhir Amarasi dan ketika Amarasi dibentuk menjadi kecamatan, maka beliau diangkat menjadi camat pertama Amarasi. Beliau juga pernah menjadi anggota DPR-RI dan terakhir sebagai staf ahli gubernur NTT. Tahun 2016 beberapa orang dari kecamatan Amarasi sepakat menjadi sponsor untuk membangun sebuah monumen VHR Koroh di Sonraen yang merupakan ibu kota kecamatan Amarasi Selatan untuk mengenang jasa-jasa beliau.

Manumen tersebut diresmikan oleh Wakil Bupati Kupang (Korinus Masneno) pada tanggal 24 Nopember 2017. Pada kesembatan itu ada catatan kilas balik tentang jasa Viktor HR Koroh untuk orang dan daerah Amarasi, mulanya dirinya menolak menjadi raja menggantikan ayahnya Hendrik Rasyiam Koroh. Namun setelah dipaksa oleh para temukung dan para tetua Amarasi akhirnya Viktor Hendrik Rasyiam Koroh bersedia menjadi raja dengan dua syarat: 1) Dirinya mau membangun Amarasi dan minta dukungan penuh. 2). Untuk pembangunan itu Vikotr menerima hak mutlak untuk mengatur dan dimana perlu memukul orang yang melawan.

Hal pertama yang dilakukannya Pada tahun 50-an adalah memisahkan daerah pertanian dan daerah peternakan lepas. Dirinya berpendapat bahwa ternak lepas adalah sumber bencana sosial dan lingkungan hidup. Karena ruang gerak ternak harus dibatasi. Dengan itu setiap kampung wajib membangun pagar keliling kampung. Pada pintu keluar masuk pagar digantung papan yang bertuliskan: BATAS DAERAH HEWAN dan TANAMAN. Wilayah yang dipagari dibagikan secara merata kepada semua keluarga di kampung itu untuk dihijaukan dengan lamtoro dan tanaman produktif terutama pisang, kelapa, nangka dan mangga.

Mereka yang lalai menanam dihukum keras. Ketika wilayah pertanian itu sudah hijau maka diperluas lagi secara bertahap hingga pada akhirnya, sesudah kurang lebih 12 tahun seluruh wilayah ketemukungan berubah menjadi daerah pertanian. Ketika hasil pertanian melimpah-ruah muncul masalah pemasaran maka dibukalah pasar – kontrak di kampung-kampung.

Sebelumnya di Amarasi hanya ada tiga pasar yaitu Baun, Buraen dan Oekabiti akibatnya tidak lagi memadai untuk menjual hasil pertanian. Pasar kontrak adalah pasar mingguan yang dibangun berdasarkan kontrak dengan para pembeli hasil dari Kupang (papalele).

Isi kontraknya adalah: pada hari pasar papalele wajib datang untuk membeli hasil dan masyarakat kampung wajib menyediakan hasil memenuhi satu atau dua mobil truk sesuai perjanjian. Bila papalele tidak datang pada hari pasar maka mereka wajib membayar ganti rugi untuk hasil yang terlanjur dikumpulkan oleh masyarakat. Sebaliknya bila papalele datang dan tidak ada hasil atau hasil yang tersedia tidak memenuhi mobil truk maka masyarakat wajib membayar ganti rugi. Demikianlah muncul pasar Ruasnaen, Batuna, Siuf, Noenaka dll.

  1. Penataan pemerintahan dan lingkungan. Viktor Hendrik Rasyiam Koroh membentuk pemerintahan desa, yang disebut Desa gaya baru. Tiap desa merupakan gabungan beberapa temukung menjadi satu desa dan nama-nama desa ditetapkan untuk memelihara nama lama. Demikianlah dalam wilayah kefetoran Baun muncul nama-nama: Niukbaun, Teunbaun, Nekbaun, Merbaun, Erbaun,Tobaun, Tunbaun. Di Buraen muncul nama-nama: Buraen, Sonraen, Retraen, Sahraen, Enoraen.

Di tiap desa gaya baru ditentukan sebuah wilayah yang ditetapkan menjadi pusat pemukiman, pendidikan, ibadah, pemerintahan, kesehatan dan pasar. Seluruh tanah dalam wilayah itu dibebaskan (tanpa ganti rugi) lalu dibagi kembali untuk rumah rakyat yang berukuran sama: 25 x 50 x 1m2, selain untuk kantor desa, gereja, pasar, puskesmas, sekolah, lapangan. Rumah dibangun mengikuti jalan-jalan desa (gang) yang diukur simetris. Seluruh pekerjaan membangun rumah dan jalan (gang) dikerjakan secara gotong royang. Selanjutnya di tepi jalan ditanami kapuk sebagai tempat berteduh bagi pejalan kaki. Penanam kapuk dilakukan untuk pada jalan yang menghubungkan desa-desa dan desa-desa dengan pusat pemerintahan kecamatan.

  1. Sesudah lamtoro tersedia di mana-mana, (pada mulanya bibit lamtoro diambil gratis dari kebun raja di Kretan/Retraen) maka dikembangkan sistem paron. Pada waktu itu tidak dibutuhkan untuk membeli sapi dari luar karena kebanyakan orang Amarasi masih memiliki ternak sapi yang dikambangkan oleh raja dengan membagikan ternak sapi bali melalui sistem kontrak. Raja mendatangkan dan membagikan ternak sapi kepada para petani yang akan dikebalikan sesudah berkembang-biak. Paronisasi maju pesat dan bersamaan dengan itu orang Amarasi yang masih memiliki banyak sapi memindahkan sapinya keluar Amarasi atau ke ujung Timur Amarasi yang berbatasan dengan Amanuban/TTS.
  1. Untuk menyatukan Amarasi Viktor Hendrik Rasyiam Koroh memerintahkan dan ikut bekerja bersama rakyat membangun jalan raya dari ujung barat Amarasi (di Saha) sampai ujung Timur Amarasi yang berbatasan dengan TTS. Selanjutnya membangun jalan-jalan pendukung yang menghubungkan desa-desa yang terletak di luar jalan utama dengan jalan utama. Semua ini dikerjakan secara gotong royong. Jalan raya di Ikanfoti yang selalu longsor setiap tahun terus diperbaiki secara gotong royong sebab kepentingan ekonomi orang Amarasi amat bergantung pada jalan itu.
  1. Tiada gading yang tiada retak, begitu juga Viktor HR Koroh. Kekerasan, pembebasan tanah tanpa ganti rugi (atas wibawa sebagai Uis Pah), pengrusakan tanaman demi membangun jalan dll tanpa ganti rugi dianggap kesalahan yang diprotes dan dilawan juga. Namun Viktor Hendrik Rasyiam Koroh selalu berkata: “Nanti sesudah negeri ini subur menghijau, banyak hasil maka kamulah yang akan sejahtera. Saya pasti tidak ikut menikmati semua itu.

” Demikianlah seorang raja yang visioner menerjemahkan visi kesejahteraan yang diimpikannya bagi rakyatnya menjadi kerja nyata dengan memaksa orang Amarasi menjadi subyek yang membangun dirinya tanpa bergantung kepada siapapun, juga pada pemerintah. Hasilnya: Amarasi pernah dikenal sebagai dapur kota Kupang dan menjadi tempat belajar bagi banyak raja dan camat lain di NTT dan di luar NTT.

TERIMA KASIH BAPAK VICTOR HENDRIK RASYAM KOROH .(*)

UD Empat Putri


TAG