Ajaib 13 Tahun Menyandang ODHA, Pria Ini Tetap Sehat

Wabup S Flotim saat berdiskusi dengan Sil P. Ola

Wabup S Flotim saat berdiskusi dengan Sil P. Ola

Zonalinenews.com-Larantuka, Masihkah publik NTT mengingat berita tentang pengidap AIDS pertamakali di NTT? Cerita tentang AIDS atau HIV maupun Orang dengan HIV/AIDs siapa saja pasti akan segera merinding, menjauhi dengan  membayangkan sebuah akhir dari kehidupan seseorang sambil meregang nyawa dengan kondisi tubuh kurus kering terbalut kulit hitam legam, mirip onggokan tulang-belulang.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi Silvinus Peka Ola 60-an tahun. Meski berstatus ODHA, pria ini terlihat sehat seperti pria kepala enam pada umumnya. Siapa sangka dibalik penampilannya yang terlihat enjoy ternyata Ama Sili akrab disapa, telah menyandang status ODHA selama 13 tahun terhitung sejak tahun 1995 sampai 2008 tanpa mengkonsumsi obat-obatan ataupun ramuan lainnya.

Apabila diakumulasikan secara keseluruhan, 1995-2017 maka pria ini telah meyandang status ODHA selama 22 tahun. Ajaib.

Ama Sili, akrab disapa, dalam wawancara eksklusif dengan Zonalinenews, Senin, 4 Desember 2017 di halaman Apel Kantor bupati Setempat, didampingi Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli, SH, Melki Lamen dan Emy Hayon selaku petugas KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) pria yang kesehariannya adalah petani, sesekali berprofesi sebagai tukang bangunan.

Begitu mengetahui maksud kehadiran kuli tinta, sambil melempar senyum kecil ama Sili mengucapkan selamat pagi. Sejenak penulis, dibuat terpana dengan penyambutan serta rasa percaya diri yang luar biasa dari penyandang ODHA.

Ama Sili, pria yang karena tuntutan ekonomi, terpaksa harus mengadu nasib atau merantau ke Malaysia yahun 1995 silam mengisahkan, pertama kali dirinya diketahui positif AIDS, berkat pemeriksaan kesehatan rutin dengan meggunakan Pasport oleh pemerintah Malaysia.

“Saya tahu pertama kali saya kena AIDS di Keningo-Malaysia ketika ada medical Check-up gunakan pasport,”.

Begitu mengetahui dirinya positif HIV/AIDS pria paruh baya ini tahu bahwa konsekuensinya adalah kematian. Kematian akan segera menghampiri.

“Dalam hati saya bilang, pasti mati? Pertanyaan semacam itu selalu mengiang. Apakah saya akan segera mati??? Tapi kapan kematian itu datang??” tutur Ama Sili

Meski kematian telah menjadi momok, dan terus merasuki setiap syaraf hidupnya tapi di sisi lain bagi pria yang baru saja menghadiri Wisuda anak semata wayang di salah satu Perguruan Tinggi di NTT ini, jauh didasar sanubari secara sederhana meyakini serta memegang teguh semboyan “Kematian dan Hidup manusia berada di tangan Tuhan”.

“Saya tahu saya akan mati, tapi bukankah semua manusia juga akan menemui kematian yang sama?” sebut Ama Sili berfilosofi.

Berbekal kalimat sakti “Mati dan Hidup ditangan Tuhan” serta miliki keyakinan tingkat dewa ditambah rindu yang membukit kepada keluarga, dalam tahun yang sama Pria Lamaholot ini memilih kembali  ke kampung halaman alias meninggalkan negeri Jiran.

“dalam tahun1995 saya langsung pulang kampung. Saya berdoa, Tuhan kalau saya mati biar mati di kampung”.

Melanjutkan kisah, kabar kedatangannya di kampung halaman sudah tersiar. Alih-alih, jangankan keluarga,  isteri dan anak semata wayang yang menjadi tumpuan harapan mengungsi ke rumah mertua tidak tanggung-tsnggung selama 3 tahun.

“kabar saya mau pulang, diketahui orang kampung. Begitu sampai di kampung, jangankan keluarga, isteri dan anakpun sudah mengungsi ke rumah mertua  Saya bersikap biasa saja, kata Ama Sili tegar.

Banyak orang berkata saya pasti mati, tidak lama lagi dia mati.

“Saya dengar mereka bilang saya pasti mati, paling 3 bulan dia mati”, kata Ama Sili.

Ajaib, selama kurun waktu 3 tahun sampai dengan kepulangan isteri dan anak serta berkumpul kembali, dalan kesendirian dan tanpa mengkonsumsi obat-obatan secara medis, maupun ramuan tradisional  Ama Sili tetap sehat seperti dahulu kala, serta melakukan aktifitas dan menjalani hari-hari sebagaimana biasa layaknya orang di kampung yakni bertani.

“saya tetap sehat.Makan apa adanya ya, jagung beras kadang2 buah-buahan pisang atau nenas” Jelasnya.

Sekali lagi ini keajaiban. Melanjutkan cerita dengan menjawabi pertanyaan Zonalinenews, bagaimana sikap lingkungan sosial terhadap dirinya selaku penyandang ODHA dalam menjalani rutinitas sehari-hari? Pria pertama yang menjadi ODHA di NTT ini mengatakan sedikit mengalami kesulitan tetapi berkat gencarnya sosialisai dari Dinkes Propinsi dan KPA terkait perlu dihapusnya Stigma buruk lama-kelamaan lingkungan sosial bisa menerima keberadaan penyandang ODHA.

“Pertama mereka tahu saya ODHA mereka amat takut, tetapi berkat sosialisai dari Dinkes Propinsi, mereka mau mengerti dan menerima saya apa adanya,” sebutnya berkaca-kaca.

Ditanya sejak kapan dirinya melakukan pengobatan rutin dan dan teratur Ama Sili mangatakan bahwa sejak 2008 dirinya sudah rutin mengkonsumsi obat-obatan medis yang diberikan secara gratis oleh KPA setempat.

Sebelum menutup perbincangan dengan Zonalinenewa,  pria yang kerap kali dengan gencar dan tanpa merasa lelah senantiasa terlihat memberikan testymoni diberbagai wilayah dan kesempatan, bepesan kepada seluruh masyarakat Flores Timur terutama para generasi muda Lamaholot agar senantiasa menjalani hidup sehat, dengan tidak melakukan seks bebas serta hidup takut akan Tuhan dengan menjalani Perintah Tuhan dan mejauhi larangannya.

Usia hidup seorang Odha juga sangat tergantung perlakuan dari keluarga dan lingkungan sosial. Stigma ODHA harus dijauhi bukanlah cara bijak, ODHA juga memiliki hak hidup dan penghidupan layak.

Dari cerita di atas, kalau tidak mau dikatakan sebuah keajaiban Tuhan maka perlu adanya penelitian Ilmiah terkait Kehidupan Ama Sili.  selama 13 Tahun Hidup Tanpa Pengobatan, ODHA bisa tetap Hidup sehat. (*Bonita)

UD Empat Putri


TAG