BAHASA ABUI, ALLAH SALA DALAM ILMU BAHASA

Danil TakpalaOleh Danil Takpala

Zonalinenews,- Meskipun diketahui, Pulau Alor, NTT memiliki ragam bahasa, namun secara ilmu bahasa perlu dipertanggung jawabkan ketika mengeluargan kata-kata didepan umum, kemudia menjadi konsumsi publik.

Tentunya itu akan menimbulkan banyak pertanyaan dari sudut pandang yang berbeda.

Berikut ini, mari kita lihat Ilmu bahasa dari salah satu dialek bahasa Abui yang kini viral di medsos yakni “ALLAH SALA”. Ilmu bentuk kata disebut sebagai morfologi. Itu adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.

Artinya morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata seperti ALLAH SALA dalam lingkup Bahasa Abui, Alor NTT Namun setelah memahami bentuk kata, tidak lupa untuk mengetahui istilah morfem.

Artinya adalah bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna dalam satu gramatilal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 461), gramatikal diartikan sesuai dengan tata bahasa. Itu kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa serta terikat dengan konteks pemakainya.

Dalam Bahasa Abui, Sebuatan untuk Tuhan Yang Maha Esa, itu terdiri dari beberapa kata. 1. Duo/Adu (tergantung dilek mana) 2. Lahatala (tergantung dalek mana) 3. Aisala/Asala/Alahsala dan juga bisa berupa seperti: Aisalah/Asalah/Alahsalah (tidak terbatas, sesuai ucapan dari daerah itu dan dikaji sesuai sistem bunyi atau fonologi).

Dialek adalah gaya bahasa dalam ucapan. Itu berubah karena pergeseran kawin-mawin. Atau bisa dari transfernisasi (ucapan dalam konteks fonologi) orangtua yang giginya ompong berbicara kepada generasi muda dan seterusnya.

(itu kemungkinan yang terjadi sehingga kita punyak banyak dialek)

Kita tinggalkan itu dan fokus pada ALLAH SALA. dalam penulis sebuah bahasa tentunya tidak luput dari gramatikal (baca diatas), dalam gramatilal itu dari morfem terkecil yang akan membentuk sebuah kata yang kita sebut morfologi atau ilmu bentuk kata. Perlu diketahui bahwa, ada morfem terikat dan morfem bebas. Artinya yang terikat tidak bisa berdiri sendiri. Contoh: Allah dan Sala atau Laha dan Tala. Ini tidak bisa berdiri sendiri. Morfem terkecil adalah Allah, Sala, Laha dan Tala. Dan untuk membentuk sebua kata, dibutuhkan morfem lain seperti Allah + Sala = Allahsala. Juga Laha + tala = Lahatala. Maka untuk penjelasan sebuah Frasa itu dibutuhkan Morfem-morfem.

Frasa adalah sebuah makna linguistik. Lebih tepatnya, frasa merupakan satuan linguistik yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. (cek di Wikipedia) Contoh (Allahsala Dai Popa Mia). Sekarang kita lihat morfem bebas atau bisa berdiri sensidi. Ambil contoh (Popamia) dan (Taramiti Tominuku). Morfem terkecil adalah: Popa = ada di kita/dikita Mia = keterangan waktu (disini, disana dan dimana-mana) Tara = Beda (Agama, suku, ras dll) Miti = Duduk/Kedudukan (Status Sosial) Tomi = Hati/dalam hati Nuku = Satu. Jelas bahwa pada konteks bahasa Abui ini, mereka dapat berdiri sendiri. Karena dari setiap Morfem atau frasa tidak harus berdiri sendiri. Makanyang diambil berdasarkan paradikma ini untuk Sebuah Frasa adalah (Allahsala Dai Popa Mia).

Salain tidak mengurangi makna suku kata dalam penulisan, namun dobel (LL) itu bisa dikaji juga dengan teori fonologi atau sistim bunyi. Sedangkan (Tara Miti Tomi Nuku), masing-masing orang alor, Khusus abui tau makananya sebagai semboyan pemersatu keragaman di Pulau kenari. (ini juga morfem bebas jadi tidak harus terikat seperti Taramiti Tominuku) Akhir kata: Allahsala = Tuhan Dai = Tetap (tidak kemana-mana) Popa = ada di kita/dikita/sama sama dengan kita Mia = Keterangan waktu (disini, disana dan dimana-mana).

Dapat saya simpulan bahwa penyebutan ALLAH SALA (bahasa abui) tidak bisa diterima dalam perspektif bahasa baik ditinjau dari segi morfem maupun fonologi ALLAH SALAH tidak ditemukan dalam dialek suku abui manapun karena ketika dipisahkan menjadi dua suku kata akan mengalami pergeseran makna maupun struktur bahasa Abui.

Saya, DanilTakpala menyebutkan “Tuhan selalu bersama dengan kita, disini, disana dan dimanapun kita berada” Salam, Tara Miti Tomi Nuku.(*)