Merubah Nasib, Lamakera Dijadikan Kampung Layak Anak

 

Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Prof. Dr. Yohana Yembesi didampingi Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr M. Taher Parasong, SH.,MH

Menteri Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Prof. Dr. Yohana Yembesi didampingi Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr M. Taher Parasong, SH.,MH

Zonalinenews.com-Solor, Lamakera adalah salah satu  dari sekian kampung yang terdapat di kepulauan Solor. Tepatnya berada di Kecamatan Solor Timur.  Rata-rata penduduk Lamakera menggantungkan hidupnya di laut alias nelayan. Namun, siapa sangka dibalik semua itu dari rahim Lamakera telah menghasilkan 1000 sarjana strata satu serta berbagai Doctor.

Tidak sampai di situ, beberapa tokoh penting Nasional sebut saja Syaril Maloko tokoh Orba, H. Abdul Syukur Ibrahim Dasi dan H. Dr. M. Ali Taher, SH., yang kini menduduki jabatan Ketua Komisi VIII DPR-RI.

Berpijak pada kenyataan di atas, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Pelidungan Anak Prof. Dr. Yohana.. yang hadir bersama Dr. M. Ali Taher, di Lamakera Kecamatan Solor Timur- Kabupaten Flores Timur-NTT secara simbolis telah melaunching Flores Timur sebagai Kabupaten Ramah Anak dan Kampung Lamakera sebagai Kampung Layak Anak.

Dalam sambutannya, Mama Hana, akrab disapa mengatakan agar menjadi Daerah Layak Anak perlu 24 Indikator yang harus dikejar oleh Pemerintah Daerah.

“Ada 24 Indikataor berdasarkan  komitmen PBB, sehingga menjadi tugas yang harus dikejar Bupati setempat,” Ujar Yohana.

Mama Hana melanjutkan, beberapa indikator dimaksud antara lain: adanya kepemilikan Akte Kelahiran Anak, Anak harus mendapatkan informasi yang yang layak sehingga terhindar dari informasi berbahaya seperti situs porno.

Masih menurut Menteri asal Papua, senantiasa memfokuskan perhatian, mempersiapkan anak dalam dunia pendidikkan serta menghadirkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.

Ali Taher,  tampil sebagai motivator di kampung halaman secara tegas mendorong anak-anak Lamakera terus berpacu dan bersaing dalam dunia pendidikkan.

“Anak-anak Lamakera tidak ada yang tidak sekolah. Semuanya harus sekolah, kalau tidak mau sekolah, jemput paksa, supaya mereka bisa merubah nasib”, sebut Ali Taher berapi-api.

Bagi orang sekaliber Ali Taher, apa yang dirasakan anak-anak Lamakera jika tidak mendapatkan pendidikan yang layak maka akan kalah bersaing dengan dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk merubah nasib, secara terus menerus adanya optimisme dalam tiap Individu dengan mencontohkan dirinya sendiri yang telah meraih keberhasilan.

“Investasi terbesar adalah Optimisme. Haji Taher (menyebut dirinya) berdiri di sini bukan orang kaya, bukan orang pandai, tetapi anak miskin yang mau merubah nasibnya. Rubahlah nasib anda dengan mengecap penddidikkan setinggi-tingginya sehingga bisa sejajar dengan orang lain di muka bumi”, kata Ali Taher dengan mata berkaca-kaca.

Ali Taher berharap, anak-anak dikampungnya minimal bisa menamatkan jenjang pendidikkan setingkat SMA, sehingga bisa terhindar dari pengaruh buruk dalam pergaulan dan dijadikan korban Human Traficking.

“Kasus HIV/AIDS di Flotim cukup banyak. Yang ke Malaysia juga banyak. Dengan pendidikkan, bisa berpikir lebih maju dan membuka peluang usaha,”. jelas Ali Taher.

Lanjut Ketua Komis VIII DPR utusan Banten yang yang juga penulis buku berjudul “Mencegah Runtuhnya Negara Hukum didampingi isteri mengatakan dari rahim Lamakera telah melahirkan 1000 sarjana strata satu serta berbagai doctor. Bagi Taher, tidak hanya mendorong tetapi memujudnyatakan kalimatnya dengan mengajak para Sarjana Lamakera yang berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan Doctor bisa mendatangi dirinya.

“Bagi yang mau raih gelar Doctor, silahkan ketemu saya. Saya tidak puny uang, tetapi saya punya jalan,” Tutup Ali Taher.

Berbicara mengenai motivasi pendidkkan, Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST beberapa waktu lalu bertempat di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikkan serta STIPAS Waibalun, tela mengajak generasi muda Flores Timur menempuh pendidikkan pada dua Lembaga Pendidikkan dimaksud dengan mendapatkan Dana Bantuan Pendidikkan sebesar Rp. 5000.000,-/Mahasiswa.

Apabila di Flores Timur, setiap tokoh senantiasa terus memotivasi para remaja dengan menyadari pentingnya Lembaga Pendidikkan bagi generasi pemimpin,  bukan tidak mungkin setiap individu Flotim akan berkembang pesat dan mampu bersaing dalam Dunia Usaha serta terhindar dari stigma NTT Bodoh. (*Bonyta)


TAG