Rancanagan Per-Bubkan Kota Larantuka Bisa Dihidupkan Kembali

Agus Boli, SH Wakil Bupati Flotim

Agus Boli, SH Wakil Bupati Flotim

Zonalinenews.com-Larantuka, Menyimak fenomena maraknya aktifitas sosial masyarakat setempat  yang dari waktu ke waktu terus berbenturan dengan hukum seperti perjudian sampai pada menjamurnya bisnis seksual.

Meski sudah digrebek berulang kali tetapi faktanya bisnis seksual berupa kos-kosan tetap berpraktek, melenggang bebas. Alhasil,  seperti layangan putus tali dan tak bisa dikendali kota ini kehilangan makna religius. Kondisi seperti ini, secara otomatis menjadi tantangan serius dan pekerjaan berat bagi duet kepemimpinan  “AA” Anton-Agus 4 tahun ke depan.

Demikian Vinsen 45 dan Lorens warga kota Larantuka ketika ditemui di kediamannya masing-masing Senin 04 Desember 2017.

Dihari yang sama, Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli, SH menjawabi pertanyaan Zonalinenews bertempat di halaman apel Kantor Bupati setempat apakah Larantuka, kota dimana setiap tahunnya dalam Prosesi Semana Santa atau dikenal dengan nama “Hari Bae Nagi” dibanjiri ribuan pesiarah baik domestic maupun mancanegara sudah saatnya “diproteksi” dengan suatu product hukum tertentu.

Menjawabi pertanyaan di atas Agus Boli, politisi asal Gerindra yang juga mantan anggota DPR-D Flores Timur,  secara tegas menyatakan bahwa berbicara tempat pelacuran dan Kota Reinha seyogyanya sudah pernah diperjuangkan dirinya jauh-jauh hari ketika menjabat sebagai Ketua Badan Legislatif.

“Tempat Pelacuran dan Kota Reinha serta Instrumennya,  dulu ketika saya sebagai Ketua Badan Legislatif saya sudah pernah merancang Peraturan Daerah (Perda) tentang Kota Reinha Larantuka sebagai Kota Religius,”. Jelas Agus.

Namun apa yang menjadi rencana mulia dari Agus Boli harus kandas ditengah jalan, akibat pemerintah pusat menyarankan agar cukup dibikin dalam Peraturan Bupati alias Di Per-Bupkan.

“Sudah kita bikin di tingkat DPR tetapi, waktu asistensi ke pemerintah pusat mereka menyarankan diperbubkan saja,” sebut Wakil Bupati.

Namun melihat perkembangan Kota Reinha dari waktu ke waktu semakin “memburuk” akibat ulah segelintir oknum yang tetap enjoy dengan bisnis aktifitas seksual, sehingga berdampak buruk pada generasi muda Flores Timur, maka mau tidak mau suka tidak suka Kota Reinha Perlu diperdakan dengan substansi batasan kota Reinha secara jelas.

“Ke depan diperbubkan saja, perlu pengaturan khusus terkai Kota Reinha,” Tegas Agus Boli.

Pada kesempatan tersebut disinggung soal tingginya angka penyandang HIV/AIDS di Flores Timur yakni 261 jiwa yang teridentifikasi dan bagaimana publik bersikap terhadap para ODHA, Agus Boli selaku Ketua Harian KPA-D (Komisi Penanggulangan Aids Daerah) mengatakan ODHA adalah bagian dari kita dan memiliki HAM sama seperti manusia pada umumnya, untuk itu ODHA juga memiliki hak seperti kita. Hilangkan stigma buruk terhadap Odha, perlakukan mereka sebagai sesama saudara kita.

“Hak Asasi mereka tetap kita hormati. Hilangkan stigma buruk bahwa ODHA dapat menelurkan virus sesukanya seperti berjabatan tangan, dapat terjangkit HIV/AIDS, adalah pandangan keliru. Sedangkan potensi tertularnya virus HIV/AIDS ada pada hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik terlebih pada para pengguna narkoba, ” imbuh Agus.

Melihat kenyataan di atas, Kota Reinha atau Kota Larantuka meskipun menyandang predikat Mayoriyas  Katolik tetapi, pada kenyataannya di dalam kota berdiam lima pemeluk agama: Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha berdampingan sejak ratusan tahun silam dengan penuh kedamain.

Hadirnya PerBub diharapkan bisa membantu menghilangkan perilaku buruk ataupun menyimpang dari masyarakat.

Berbagai masalah sosial yang timbul  tidak serta merta hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah, melainkan semua unsur stake holder yang ada di Flores Timur baik Pemuka Masyarakat, Pemuka Agama, serta peran serta orang tua sebagai sebuah kelurga sangat diharapkan sebagai instrument pertama dan terutama demi masa depan generasi muda Lamaholot. (*Bonita).