Sebanyak 403, 95 Kg  Perhari  Limbah Medis di Kota Kupang

data limbah Medis Sumber DLHD NTT

data limbah Medis Sumber DLHD NTT

Zonalinenews-Kupang,- Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Propinsi NTT, sebanyak   12 Rumah sakit di Kota kupang perharinya, menghasilkan  403,95 Kg limbah medis ,   dengan rincian untuk Rumah Sakit Siloam sebanyak  71 Kg,   RS Kartini sebanyak 0,15 Kg , Rumah Sakit Boromeus 25 Kg, Rumah Sakit Mamami   7,40 Kg, RS Wirasakti sebanyak 37Kg, RS Dedari 12,70 Kg, RS TNI  AL (SM)   34 Kg, RS Bhayangkara 16 Kg,  RS S. K Lerik sebanyak  72 Kg ,  W. Z Yohanes  sebanyak 96 Kg, RS  TNI AU (ELTARI) belum terdata dan RS  Leona Sebanyak 33 Kg.

Dari 12 rumah Sakit tersebut sebanyak 2 Rumah sakit yang  limbah medis oleh pihak ketiga yang mengantongi izin pengolahan limbah Medis  yaitu   PT Mitra Tata Lingkungan Baru  Kedua Rumah Sakit tesebut adalah Rumah Sakit Siloam dan Rumah Sakit Mamami.

Sebelumnya diberitakan, bahaya limbah Infeksius terus mengancam kesehatan lingkungan dan masyarakat Kota Kupang. Menyikapi hal ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi NTT  Kamis 30 November 2017  pukul 09.15 wita saat  menggelar Rapat Evaluasi Pengelolaan Limbah Medis Pada 12 Rumah Sakit Se-Kota Kupang.

Di hadapan para direktur RS, Pimpinan Puskesmas dan juga pihak swasta pengelola limbah medis, Benyamin mengingatkan pentingnya mengelola limbah secara benar. Karena jika tidak, jelasnya, maka limbah yang dihasilkan bisa mencemari air dan udara yang selanjutnya berefek pada buruknya kesehatan masyarakat.

Ditanya terkait langkah tegas apa yang akan diambil pihaknya dalam menyikapi pihak-pihak yang membandel pasca evaluasi yang diadakan, Benyamin mengutarakan bahwa pihaknya tidak memiliki wewenang dalam hal menjatuhkan sanksi hukum.

Ia hanya mengimbau pihak RS untuk membangun kerjasama dengan pihak swasta yang memiliki izin mengelola limbah apabila izin ensinerator belum dikantongi atau terkendali problem kerusakan alat.

Dalam temuan DLH, terdapat 7 dari 12 RS yang tidak memiliki izin penyimpanan sementara dan fasilitas penyimpanan limbah medis sesuai yang disyaratkan. Bahkan dalam temuannya, terdapat beberapa RS yang terus menumpuk Limbah Medis  karena ketiadaan ensinerator (alat pembakar limbah) sesuai yang diharuskan. (*tim)